Memasuki dekade akhir dekade 2000-an, tiang bengkoknya kian habis digerogoti karat, kapnya bolong tidak terurus dengan cat birunya yang kian mulai terkelupas. Telepon umum tidak lagi jadi idaman, fungsi kunonya tenggelam seiring dengan makin populernya gawai selular.

Telepon umum koin diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1981 dengan Perumtel sebagai pengelola resminya. Seiring dengan kian ramainya peminat, Perumtel pun memperbanyak sarana umum ini. Total hingga 1988 tercatat 5.724 unit telepon umum koin terpasang di seluruh Indonesia. Riwayatnya berjalan mulus, banyak masyarakat yang cukup terbantu akan kehadirannya. Dengan biaya Rp. 500,- per dua menitnya banyak orang rela antri untuk menggunakan fasilitas umum satu ini. Wajar saja jika telepon umum jadi primadona, satu-satunya cara untuk berkomunikasi jarak jauh era itu hanya mengandalkan media surat yang tentunya memakan waktu.

Pada 1988 versi terbaru dari telepon umum diluncurkan. Inovasinya berupa telepon umum dengan metode pembayaran berupa kartu. Tujuannya agar pengguna tidak perlu repot-repot lagi menukarkan koin. Kartunya dapat dibeli di toko-toko terdekat dengan variasi isian pulsa 5000 hingga 100000 di dalamnya. Namun sayangnya versi ini kurang diminati karena perbedaan tarif yang lebih mahal, pulsa yang tidak bisa diisi ulang hingga kurang meratanya penyebaran unit.

Telepon umum mulai kehilangan pamornya di awal dekade 2000-an. Mulai banyaknya merek telepon genggam dan penyedia layanan seluler lokal membuat telepon umum kian ditinggalkan. Memasuki tahun-tahun 2008-2009 telepon umum mulai tidak terurus. Fasilitas umum satu ini mulai terbengkalai, kap-kapnya kerap dijadikan sasaran vandalisme hingga hancur termakan kondisi. Satu persatu unitnya pun tarik hingga tidak ada yang tersisa hari ini.

Telepon umum tinggal menyisakan jejak-jejaknya hari ini. Jasanya terlupakan dimakan kencangnya teknologi yang semakin canggih. Era berganti, telepon umum tetap di memori.

Foto : Uniquely Indonesia