Features

Di Tempat Ini, Pacaran Tidak Boleh Pegangan Tangan

Pacaran Tradisi Rimba
Di Tempat Ini, Pacaran dilarang Berpegangan Tangan

Menjalin hubungan asmara memang sangat menyenangkan. Berbagai bentuk afeksi pun praktis didapatkan, sentuhan fisik pun menjadi hal yang begitu dinantikan. Namun apa jadinya bila disuatu tempat melarang sepasang kekasih berpegangan tangan? Inilah yang terjadi di kaki Bukit Duabelas, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Kawasan ini masih memegang teguh tradisi rimba yang mengatur detil soal pernikahan. Dimana dalam tradisi ini kaum pria harus menjalani perjuangan yang panjang untuk menikahi wanita pujaannya. Tak pelak, tradisi ini berbeda dengan gaya pacaran jaman sekarang.

Peradaban Rimba memiliki peraturan yang berbeda terkait pernikahan. Dalam tradisi tersebut, kaum perempuan menempati posisi yang tinggi dalam perdarahan orang Rimba. Hal ini dikarenakan garis keturunan berada dalam perempuan. Maka lazim ditemui seorang dukun atau malim adalah wanita. Seluruh kegiatan penting pun harus dilakukan oleh perempuan.

Tradisi tersebut masih lekat diyakini oleh masyarakat kaki Bukit Duabelas, Kabupaten Sarolangun, Jambi. Tradisi Rimba juga mengatur perihal hubungan antara pria dan wanita. Dilansir dari kompas.com, berbeda dengan gaya pacaran jaman sekarang, orang Rimba mengenal istilah Bekintangon. Di mana dalam istilah tersebut, seorang pria akan mengabdi kepada perempuan yang dicintainya serta mengabdi kepada keluarga perempuan selama 2.000 hari.

Berbagai peraturan pun harus dijalankan selama pihak pria menjalani hubungan asmara. Salah satunya bila sekali memutuskan hubungan, maka mereka tidak bisa kembali bersatu.

Bisa dibilang Bekintangon adalah pengabdian dalam berpacaran. Dalam hal ini, soerang pria akan tinggal dan membantu calon mertuanya dalam urusan pekerjaan.

Tak hanya menguji pihak pria, tradisi Bekintangon juga bertujuan untuk mendidik pihak wanita. Meski si pria tinggal bersama keluarga perempuan, Ia tidak boleh melakukan hal apapun dengan pasangannya. Bahkan untuk berpegangan tangan saja akan dikenakan denda yang cukup memberatkan.

Peraturan lain yang menarik adalah jika sepasang kekasih menikah dan tradisi Bekintangon-nya belum genap 2.000 hari, maka ada tradisi pemukulan menggunakan kayu yang dilakukan seluruh keluarga perempuan terhadap pasangan tersebut.

Setelah melewati tradisi Bekintangon dan berhasil, pihak pria harus menjalani ujian berikutnya yang biasa disebut dengan Niti Antui. Ujian ini dimaksudkan untuk menyerahkan keputusan jodoh atau tidaknya pada alam. Pada prosesnya, seorang pria harus melewati pohon Antui yang sudah dikuliti, di mana nantinya pohon tersebut akan menjadi licin dan menjadi tantangan tersendiri bagi si pria.

“Kalau dia (pria) itu jatuh ya tidak bisa menikah. Karena Niti Antui ini membuktikan kejantanan, ketangkasan, dan kecerdasan seorang pria,” ujar Eri Argawan, Kasi Tradisi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi dilansir dari kompas.com.

Lebih lanjut, Eri menyatakan jika tradisi Niti Antui telah dicatat dan dilestarikan negara melalui skema Warisan Budaya Tak Benda (WWTB) pada 2017 lalu. Selain Niti Antui, kebudayaan lain seperti ambung Orang Rimba, Cawot Orang Rimba, Ritual Bebale, dan Tari Elang telah dicatat dan dilestarikan negara.

Kredit foto: Ibunda.id

Vantage

5 Destinasi Wisata Terpopuler di Lebanon

Previous article

Kazuyoshi Miura, Pesepakbola Tertua yang Bermain di Level Profesional

Next article

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *