Vanview

Tilik: Gambaran Sempurna Keseharian Masyarakat Indonesia

Film Tilik
Tilik: Gambaran Sempurna Keseharian Masyarakat Indonesia

Adalah media sosial yang mengantarkan saya untuk menonton film ini. Tilik, sebuah film pendek karya rumah produksi Ravacana Films sukses menggemparkan jagat dunia maya beberapa hari ini. Film ini benar-benar menjadi cermin wajah masyarakat tanah air saat ini. Gemar bergunjing atau membicarakan hal yang belum tentu kebenarannya, menjadi tajuk utama yang dibahas dalam Tilik. 

Tilik tak ubahnya film pendek lain yang berseliweran di Internet. Dikemas secara apik dan memiliki alur yang tak terprediksi. Namun, film garapan Racavana Films yang bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta ini menawarkan hal lain yang tidak disajikan oleh film pendek lainnya. Yakni kesederhanaan.

Sinopsis

Tilik sendiri adalah sebuah kata dalam bahasa Jawa yang artinya menjenguk orang sakit. Inilah yang menjadi latar cerita film karya Wahyu Agung Prasetyo itu. Dikisahkan dalam film itu ada sekumpulan ibu-ibu yang menempuh perjalanan dengan truk untuk menjenguk ibu Lurah yang sakit.

Perjalanan inilah yang membuat Tilik menjadi menarik untuk disaksikan. Sepanjang momen menuju rumah sakit, para ibu-ibu berceloteh dan bergosip ria. Satu yang menjadi pembahasan ibu-ibu tersebut adalah sosok Dian, seorang wanita cantik yang belum kunjung menikah.

Disinilah perhatian penoton tertuju. Adalah sosok Bu Tejo (Siti Fauziah) yang terus melontarkan gosip miring tentang Dian. Sepanjang perjalanan, ia selalu melempar isu yang menarik ibu-ibu lainnya untuk ikut berbincang. Pembicaraan yang dipimpin Bu Tejo inilah yang menjadi perhatian netizen untuk takjub pada sosoknya.

Mewakili Wajah Keseharian Kita

Melihat celotehan Bu Tejo bersama ibu-ibu lainnya jelas menjadi cermin atas kehidupan sehari-hari. Siapa yang tak asing dengan perbincangan ibu-ibu bila sedang berkumpul bersama? Bergosip menjadi keharusan dan membicarakan orang lain menjadi bahan bakar yang membuat obrolan mereka menjadi semarak.

Seperti di paragraf awal tulisan ini, Tilik benar-benar memiliki kesederhanaan yang mewakili kehidupan sehari-hari. Maka tak heran bila dalam 4 hari penayangannya saja sudah mampu meraih lebih dari 4 juta penonton di YouTube.

Film Tilik di Youtube.

Karakter Bu Tejo jelas mendapatkan kredit berlebih. Karakternya yang ceplas-ceplos ketika berbicara dan suka melontarkan gosip begitu dekat dengan kondisi masyarakat pada umumnya. Tentu karakter ini mudah kita jumpai disekitar kita bukan?

Selain Bu Tejo, peran ibu-ibu lainnya juga pantas diganjar pujian. Segala adegan, dialog, hingga detil kecilnya begitu natural dijalankan oleh mereka. Bahkan ketika saya menonton Tilik, rasanya tak seperti menonton film pada umumnya, karena para ibu-ibu itu terlihat seperti menjalani kehidupan asli.

Selain menghibur dengan celotehan dan tingkah polah ibu-ibu tersebut. Tilik membawa pesan lain yang begitu penting dalam kehidupan. Meski diproduksi pada 2018, pesan yang dibawa sangat mewakili dengan apa yang terjadi kini. Masa pandemi mengantarkan kita pada ketidakjelasan informasi, dan Tilik hadir untuk mengingatkan kita.

Walau karakter Bu Tejo dominan di film itu, sosok Yu Ning hadir menjadi penyeimbang di tengah celotehan para ibu-ibu itu. Ia senantiasa mengingatkan betapa informasi yang disampaikan Bu Tejo belum pasti kebenarannya dan tak patut untuk diperbincangkan. Tindakan Yu Ning seakan menjadi cermin betapa perjuangan untuk menegakkan kebenaran begitu sulit ditengah masyarakat kita.

Apalagi kini Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara dengan hoaks terkait Covid-19 terbanyak di dunia. Kehadiran film Tilik di tengah pandemi jelas menjadi oase yang bisa menyadarkan kita betapa pentingnya memilah informasi yang belum tentu kebenarannya.

Kredit foto: era.id

Vantage

Sensasi Bioskop Terapung, Sajian Hiburan Aman di Tengah Pandemi

Previous article

Musim yang Luar Biasa Untuk Bayern Munich

Next article

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *