Features

Semoga Kenikmatan Hip Hop Negeri Ini Yang Telah Ditoreh Para Pendahulu Keindahannya Tetap Terjaga

tuan tigabelas ramen gvrl laze young lex hiphop lokal
tuan tigabelas ramen gvrl laze young lex hiphop lokal

Sejak pertama kali Farid Harja mempopulerkan jurus repetitif dalam lirik ‘kalau kamu mu..mulai suka ka..katakan saja..ja..jangan disimpan’, roh Elton John versi Indonesia asal Sukabumi tersebut diteruskan secara baik dan mengena oleh Iwa K.

Hal ini didalami Iwa dalam pendalaman lirik yang laik dientaskan dengan teknik bernyanyi seperti orang berbicara cepat namun penuh nyawa, yang mana telah dilakukan oleh almarhum Farid Harja beberapa tahun sebelumnya. Dari album pertama dia ‘Ku Ingin Kembali’ yang dirilis tahun 1993, Iwa berhasil menoreh pijakan harum bagi era awal Hip Hop persada.

Tak lama berselang, ada pergerakan-pergerakan yang dilakukan oleh sebuah label rekaman nasional yang sengaja mengumpulkan pelbagai talenta dari sana sini untuk digabung dan dikeluarkan dalam sebuah materi kompilasi, mereka ini bernama Pesta Rap 1. Yang mencuat di antaranya adalah Boyz Got No Brain, Black Skin, dan Blake.

Para perintis ini menyemarakan suasana khasanah musik Indonesia dengan gagah berani dan penuh semangat. Tren busana Flanel gombrang, celana Baggy serta Jeans Over All, menjadi pendamping manis fenomena para pendahulu Hip Hop lokal tersebut. Belum tambahan kemarakan pergaulan yang diramaikan 2 sepatu terindah masa itu, yakni Reebok Pump dan The Phenomenon LA Gear, yang membuat identitas awal hingga pertengahan 90-an menjadi sangat menarik sekaligus ternikmati bak awal pesta zaman para pengagum duniawi.

Unit Hip Hop penuh gelora asal Surabaya, Pumpkin Hardcore Crew, menjadi yang tersukses dari barisan Pesta Rap 2, dengan prestasi internasional. Mereka menembus soundtrack Anaconda melalui single ‘Nongkrong’, yang memang terdengar lain dari rata-rata track di dalam album kedua kompilasi rap bidikan Musica Studio’s tersebut.

Sementara untuk kelahiran Pesta Rap 3 diwarnai percik bom yang lumayan fantastis, melalui haru biru pesona tembang ‘Tididit’ dari Sweek Martabak. Suksesor selanjutnya yang berhasil menyeruduk secara perlahan namun pasti adalah grup Neo, yang membuka lembaran album cerita Hip Hop berikutnya dengan penuh gairah lewat biduk ‘Borju’. Sementara itu di lintang berbeda, dari babad tanah Pasundan ada Homicide yang dikomandoi Rapper dengan bacot paling lantang se-nusantara, Herry Sutresna aka Morgue Vanguard. 12 album adalah pembuktian loyalitas tanpa batas darinya terhadap Hip Hop.

Semua cerita di atas adalah terapi cantik dari karya-karya Hip Hop lokal dekade 90-an.

Lalu beberapa tahun setelahnya hadir Yacko, Soul ID, Saykoji serta Xaqhala, sebagai grup dan solois yang teramat jelas dapat diperhitungkan. Repetan-repetan di dalam lirik bermakna untaian mereka, menjadi pokok intisari kancah Hip Hop lokal awal 2000-an yang cukup berbunga-bunga. Tak lupa dari wilayah Jogja ada kegirangan nan kritis yang diwarnai oleh Jogja Hip Hop Foundation. Mereka ini menjadi pionir dalam memberi arahan tonik Hip Hop khatulistiwa selanjutnya.

Kemudian beberapa belas tahun kemudian keramaian tingkah cerkah Hip Hop Indonesia disemarakan lagi oleh Tuan Tigabelas, Laze, Mukarakat, Young Lex, dan Ramen Gvrl. Memang masih banyak yang lain, namun nama-nama tersebutlah yang mendominasi.

Pertengahan 2000-an hingga jelang 2020 lumayan rapat. Di mana Xaqhala sempat adu semprot dengan seorang rapper yang saya sendiri tidak tahu asal usulnya dari mana, yang pasti dia bernama depan Ben, dan gaya berkomunikasinya agak nyinyir, di mana pertikaian dia dengan Xaqhala sebenarnya disebabkan oleh sebab musabab yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Namun begitulah Hip Hop, jika tidak seperti ini, ya mungkin tidak usah disebut Hip Hop. Karena hanya Hip Hop yang seperti ini.

Vantage

Ngaca Dulu, Sebelum Minta Dinaikin Gaji

Previous article

TikTok: Aplikasi Akhir Zaman Sejuta Umat Joged di Dunia

Next article

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *