Tulisan Album ‘Curiouser and Curioser’ Santamonica, 12 Tahun Yang Lalu

Finally these genial wife and husband (Joseph Saryuf & Anindita) so called Santamonica released their full length album, ‘Curiouser and Curiouser’.

Sebelum berbicara beberapa kesemarakan nan megah yang mereka kemas secara menarik dalam album ini, mari kita bahas track listing-nya yang terbagi ke dalam 2 CD. Lagu instrumen pembuka dalam CD pertama, “Curiouser and Curiouser” menebar reflexes bireme yang akan membuat kita hanyut terdampar di sebuah lembah yang dipenuhi dengan nuansa perpaduan pop geometrics dan rayapan gemuruh esthetical sound.

“Better Us For Never” diselimuti berbagai sanctuary ornament arrangement dan nada-nada vokal yang kaya dengan eksplorasi. Sementara “Wanderlust” terdengar seperti sebuah perayaan kemenangan akhir dari sebuah petualangan, dimana kejeniusan Joseph Saryuf dalam mengentaskan sinkop bebunyian depth electronic begitu terungkap secara habis-habisan. 

Notasi vokal Anindita berhasil melahirkan sebuah penyegaran dalam mengatasi ketandusan not “suara manusia bernyanyi” yang selama ini sering kita dengar. Hal tersebut bisa kita dapatkan dalam lagu “Plain Song”, “Ribbons and Tie”, “Descent”, “Paper Dolls”.

Joseph Saryuf & Anindita

Hal yang paling mengerikan terjadi dalam nomer “Silent Society”, dimana ia berbagi kejeniusan nada bersama Joseph Saryuf. Saya tidak menemukan setitik pun cacat dalam lagu tersebut. 

Beranjak ke CD kedua, duo ini menghembuskan aroma Aluminum Group yang ditemaramkan oleh kegemulaian Anindita dalam memecahkan teka teki tendensi lagu pertama “Anais Lullaby”, di mana ia mampu menyusupkan esthetic voice ke dalam telinga kita dengan begitu sempurna.

Track “Run” layaknya sekelompok pasukan semut dari Alaska yang berburu mencari identitas di sebuah tempat yang sangat panas untuk mendinginkan atmosfirnya. Bermacam-macam gempuran ganjil dan mengejutkan mencuat dalam lagu “Bobsessed”. 

Keluarbiasaan ini dilanjutkan lagi dalam lagu “Reason” yang bertindak sebagai jembatan untuk mendengarkan materi yang paling dashyat dalam CD kedua “Tinkerwish”. Sebuah ending yang menurut saya penggarapannya dibuat begitu detail mulai dari intro, coda, notasi, aransemen hingga liriknya sendiri. Kalau bisa memilih cara mati suri yang baik, saya akan memilih lagu ini sebagai pengiringnya. 

Kesemarakan masterpiece ini semakin terasa megah dengan hadirnya music videos yang menakjubkan dari lagu “Wanderlust” yang disutradarai Dibyokusumo, R Hatumena serta Anton Ismael, dan “Anais Lullaby” dengan director Dibyokusumo. Harapan saya album ini bisa didengarkan oleh Anda yang terbiasa mencerna lagu “lazim” untuk menyelamatkan telinga kalian dari terorisasi karya karya buruk.