Pertunjukan Kolosal U2 di Negara Kaku

1 Desember menjadi awal yang manis bagi perjalanan pelepas syahwat duniawi akhir abad 20, khususnya area kelompok bermusik seni suara Internasional bidang pop rock. Di mana National Stadium Singapura unjuk taji dengan memperlihatkan keberhasilannya sebagai penyuntik adrenalin terbaik pada bulan tersebut, dalam membuncahkan 4 sekawan terkekal asal Irlandia ke bagian tengah negeri Singa, siapa lagi kalau bukan U2.

Vokal Bono adalah sasak dari new wave. Gitaran The Edge merupakan rotan divisi notasinya. Dentum bas Adam Clayton adalah stamina, dan pukulan drum Larry Mullen adalah pembimbing nadanya. Semua menggantung bergelayut pada dahan pop yang dibubuhi delay dan sedikit drive. Lalu kecapan skeleton bass yang berderap, melalui penjagaan drum multi prima, menjadi kisah musik tersukses akhir 2019. Gilanya, semua itu terkemas secara bernas di konser U2 Singapura pada hari kedua.

Hasilnya The Joshua Tree Tour Singapore menjadi salah satu potret budaya pop termaksimal sekaligus paling mahir pada akhir abad 20, bagi wilayah Asia Tenggara. Sunday Bloody Sunday menjadi prolog tak terduga, di mana Where The Street Have No Name menjadi pelepah ambisius yang memecahkan keantikan publik Singapura, sehingga dalam lantunan-lantunan selanjutnya U2 semakin mempesona dan penonton dibuat ternganga buta di sepanjang pertunjukan.

Sebenarnya ada beberapa kekecewaan yang tersurat dari teman-teman penonton asal Bangkok dan Amsterdam. Sebelum U2 memulai magiknya, mereka mengadu kepada saya bahwasanya kebijakan pun regulasi sebuah show di Singapura terlalu ajaib, sehingga ujung-ujung malah jadi menyebalkan. Membuat mereka tak nyaman, hingga terujar enggan untuk bertualang konser lagi di negeri kompilasi perantau ini. Contoh kongkritnya adalah pelarangan bawa bendera Irlandia ke pertunjukan U2 kepada teman Bangkok saya. Padahal jelas terbukti, konser musik jenis apapun di negara mana pun mensahkan hal tersebut sebagai sesuatu yang standar. Singapura terlalu kaku.

Kembali ke penampilan U2, malam itu mereka merekonstrusi ulang lagu mendiang David Bowie, yaitu Heroes dan Rebels-Rebels. Seperti biasa, solid matang dan berisi. The Edge bermain padat dan rata di setiap intro lagu, seperti dalam With Or Without You, Beautiful Day, dan Vertigo. Di mana dia selalu lebih dari rapih. Sementara Bono menjadi penguasa malam itu, bak manusia setengah nabi, dia seakan menegaskan kepada publik bahwa penyanyi pria terbaik sepanjang masa masih dipegang olehnya.
Adam Clayton menjaga tempo dengan sangat apik. Sementara Larry Mullen menjadi nyawa dari seluruh rasa lagu U2 yang dimainkan pada malam itu. Kepiawaian tim visual mapping mereka pun menjadi nilai kemenangan esensial kisah sukses penampilan U2 hari itu. Langgas dan purna.

Keputusan lagu One dijadikan sebagai penutup konser adalah hal yang biasa namun selalu berujung luar biasa. Itu semua berkat kematangan ke-4 pria dewasa tersebut dalam menuai ibadah musik. Bono adalah Tuhan kerongkongan. Dari awal hingga akhir acara, suara lantangnya tak sedikit pun berkurang tenaga. Terima kasih U2.