Peking Dangdut Dorong Depan Warung Jamu

Pancaroba awal Desember nampak terasa cukup menyebalkan. Terik siang yang menerka kepala dan diakhiri hujan lebat pada ujung temaram petang, nampak cukup brengsek merusak metabolisme. Untuk pengendara roda dua yang mulai gontai diterpa gerimis, singgah di warung jamu agaknya akan menyenangkan. Sementara hujan reda, dari seberang jalan peking diktum dari Dangdut Gerobak mulai di perdengarkan.

Sementara Arak Obat dituang ke gelas pertama, biduan laksanakan check sound. Di belakang gerobak gitaris sibuk nyetem dengan kretek di jari-jarinya yang kian menguning. Satu dari awak lainnya beringsut menghampiri warung jamu guna memesan sebotol Anggur Merah, yang tidak lain riders sang Biduan, di mana beliau terlihat tak sabar mencekik mic, untuk menumpahkan sepertiga album Cici Paramida dari bibir bergincu seaksen merah spakbor motor.

Di warung jamu yang berpetak dua kali tiga meter, para lelaki berumur terpecahkan obrolannya pada busana sang biduan. Mana kala jaket merahnya ditumbangkan, tanktop kuning terpapar lantang dengan ornamen tali bra merah muda di bahu. Tembok bertuliskan Boedoet 106exs jadi latar panggung jalanan, Bojo Galak jadi tembang pertama, yang diseling distorsi dari Ibanez RG sang gitaris. Hal tersebut lumayan memekikan telinga mengiringi lantun serak-serai suara sang biduan.

Para bapak setengah mabuk satu persatu menghampiri arah suara dengan goyang tipis. Duit dua ribuan dirogoh dari kocek tebalnya, sebagai stimulan bagi biduan untuk semakin bergelora merinaikan tembang-tembang hits nya.

Semakin larut goyang biduan pun kian seronok. “ada yang mau request lagu ga, mase? Satu lagu ceban ya.” Tanya manja Biduan. Sementara bapak berkemeja biru mengeluarkan duit sepuluh ribunya, bapak berkaos parpol padi kuning menyelak. “Abang request Terlena, neng.” Ujarnya sembari mencolek biduan dan menyondorkan duit. Hits Ikke Nurjanah tersebut jadi lantun ke 7 biduan malam itu.

Sementara suara noise dari Marshall kian memekak kuping, jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari. Saya masih berposisi santai di warung jamu, menyeruput gelas ke 3 Arak Obat malam itu, biduan nampak cukup lelah. “lagu terakhir ya, bang?” tutupnya. Kau Tercipta Bukan Untukku pun di vokalkan di penghujung hajat. Awak ketiga berkeliling menagih sumbang dengan kantong kemasan permen mint.

Dangdut Dorong agaknya jadi satu dari beratus alternatif hiburan yang masih dipilih sebagian warga metropolis yang hari-harinya diisi dengan pikiran tingkat toxin tinggi. Jasanya abadi, pesona nya kekal, gunanya melipur lara masih dicari segerombolan kaum di ibu kota.