Selamat Jalan Mahaguru Jakob Oetama!

Figur ini merupakan salah satu sosok penting dari pergerakan dan nafas panjang kancah jurnalisme Persada yang punya kontribusi besar terhadap industri pemberitaan hingga hari ini. Namanya patut dipatri dalam piagam emas, terhormat dan mendapat kenangan abadi. Beliau adalah Jakob Oetama, pendiri Surat Kabar Kompas Gramedia, jurnalis senior sekaligus pahlawan warta Nusantara.

Dr Honoris Causa Jakob Oetama lahir di Borobudur, Magelang pada 27 September 1931. Jebolan Sekolah Guru Jurusan B-1 Ilmu Sejarah, beliau mengawali karir sebagai guru di beberapa Sekolah Menengah Pertama kawasan Cipanas dan Jakarta.

Lepas dari pekerjaan sebagai guru, Jakob melanjutkan studinya di Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta pada 1959 dan berlanjut ke jenjang lebih tinggi Jurusan Publisistik, Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Gajah Mada. Dari situ Jakob lulus tahun 1961.

Masa perkuliahan Jakob diisi dengan karir jurnalistiknya sebagai seorang Redaktur Mingguan di harian Penabur. Dari situ Jakob pindah untuk menjadi Ketua Editor di majalah bulanan Intisari hingga 1963. Dua tahun berselang, bersama koleganya PK. Ojong, Jakob mendirikan korporasi media surat kabar harian sendiri bernama Kompas yang menelurkan edisi perdananya pada 28 Juni 1965, berisikan 20 halaman berita, dan dicetak sebanyak 4828 eksemplar dengan harga langganan Rp. 500,00 per bulan.

Kompas tumbuh berkembang di bawah kecerdikan, kebrilianan serta komando apik Jakob Oetama. Namun polemik terjadi pada 20 Januari 1978, Harian Kompas dibredel dengan alasan memuat banyak konten yang dianggap terlalu beroposisi dengan pemerintahan Orde Baru yang sedang garang-garangnya memberangus lawan politik. Untungnya berselang 16 hari setelahnya, atau tepat pada 6 Februari 1978, Harian Kompas kembali terbit.

Perjalanan Harian Kompas di bawah kendali Jakob Oetama kembali berjalan normal dan mencapai hasil yang positif. Dengan embel perusahaan bernama Kompas Gramedia, di dekade 80-an korporat ini berkembang pesat dan melakukan ekspansi bisnisnya ke bidang lain, mulai dari percetakan, radio, hotel, lembaga pendidikan, perencana event, stasiun TV hingga Perguruan Tinggi.

Atas desakan Menteri Penerangan Ali Moertopo dan politikus Jusuf Mawandi, para wartawan senior Nusantara seperti Goenawan Mohamad, Harmoko, Jakob Oetama serta kolega lainnya, terbentuklah The Jakarta Post, sebuah harian nasional Indonesia berbahasa Inggris yang memulai edisi pertamanya pada 25 April 1983.

Jakob Oetama juga sempat menduduki posisi penting di berbagai organisasi warta Nasional. Diantaranya sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Warta Indonesia, Anggota DPR Utusan Pers, Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia, hingga Anggota Dewan Penasihat PWI. Maka patutlah jika figur Jakob Oetama diganjar banyak penghargaan mulai dari gelar Doktor Honoris Causa pada bidang komunikasi dari Universitas Gadjah Mada, hingga penghargaan sipil tertinggi Bintang Mahaputra dari pemerintah Indonesia pada tahun 1973.

Namun kabar duka menyelimuti awal September 2020. Tepat pada tanggal Rabu 9 September 2020, tokoh warta Indonesia yang punya jasa dan kontribusi besar ini menghembuskan nafas terakhirnya di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading akibat sakit yang dideritanya.

Selamat jalan, pahlawan pers nasional yang kami banggakan!

Sumber foto : Lensa Purbalingga