Vansports

Mengenang Kelegendarisan Diego Maradona yang Tak Ada Habisnya

Diego Maradona Meninggal
Mengenang Kelegendarisan Diego Maradona yang Tak Ada Habisnya

Dunia sepakbola begitu dikejutkan dengan kepergian legenda Argentina, Diego Armando Maradona. Pemain yang terkenal dengan gol ‘Tangan Tuhan’ itu meninggal di usia 60 tahun akibat henti jantung. Kepergian Maradona tak pelak menimbulkan kesedihan besar bagi warga Argentina, negara itu bahkan menetapkan status berkabung nasional selama 3 hari ke depan. Semua kesedihan itu tak lain karena kiprah luar biasa Maradona selama berkarir. Dirinya telah ditasbihkan sebagai salah satu pesepakbola terbaik sepanjang sejarah.

Kiprah Diego Maradona dimulai saat usianya belum genap berusia 16 tahun. Kala itu Ia bermain untuk klub Argentinos Junior, debutnya terjadi saat melawan klub Talleres de Cordoba. Maradona pun sempat menjadi debutan termuda dalam sejarah Liga Argentina, sebelum digeser oleh Sergio Aguero pada 2003 silam.

Mulai Mencuri Perhatian

Perjalanan karier Maradona Bersama Argentinos Junior pun terus berlanjut hingga lima musim. Setelahnya, Ia hijrah ke salah satu raksasa Liga Argentina, Boca Juniors. Kepindahannya ke Boca Juniors tak berlangsung lama karena semusim berikutnya, Maradona pun menarik minat Barcelona untuk meminangnya dengan biaya transfer sebesar 5 juta poundsterling pada tahun 1981. Kala itu transfer dirinya menjadi rekor dunia sebagai transfer termahal.

Maradona: The making of a footballing legend | Goal.com
Diego Maradona saat bermain untuk Boca Juniors. Sumber: Goal

Permainan Maradona pun terus menanjak di tanah Catalan. Ia mampu membawa Barcelona memenangi tiga titel bergengsi yakni Copa del Rey, Copa de la Liga, dan Piala Super Spanyol. Namun karier Maradona di Barcelona juga tak lama karena ia terlibat keributan di final Copa Del Rey tahun 1984 melawan Athetic Bilbao. Setelahnya, Barcelona menjual Maradona ke Napoli.

Menemukan Rumahnya

Kepindahannya ke Napoli menjadi berkah tersendiri bagi Maradona. Bersama klub kota Naples itu, Maradona mencapai puncak kariernya. Total tujuh musim dilalui Maradona dan ia sukses mengantar Napoli dua kali memenangi Scudetto, dan masing-masing satu gelar Coppa Italia, Piala UEFA, dan Piala Super Italia.

Di Napoli, Maradona benar-benar seperti berada di rumahnya sendiri. Sosoknya begitu dihormati dan dicintai para penggemar I Partenopei. Bahkan pihak klub pun memberikan penghargaan besar dengan memensiunkan nomor punggung 10 miliknya.

What do Napoli and Diego Maradona mean to a generation of younger fans?
Momen manis saat Diego Maradona bermain untuk Napoli. Sumber: These Football Times

Namun dibalik kehebatannya bersama Napoli, Maradona semakin terjerumus dalam dunia hitam. Dirinya terus mengonsumsi kokain dan kerap mendapatkan denda oleh klub karena tidak tampil dalam latihan dan pertandingan karena alasan stres.

Kebiasaan buruknya itu membuat karier Maradona terus menurun. Pada tahun 1991, Maradona terbukti menggunakan doping dan mendapatkan hukuman larangan bermain sepakbola selama 15 bulan. Maradona pun akhirnya meninggalkan Napoli di tahun 1992. Setelahnya Ia kembali ke Spanyol untuk memperkuat Sevilla.

Bersama Sevilla, karier Maradona juga tak berakhir sukses karena berakhir pemecatan di akhir musim. Kemudian ia kembali ke Argentina dan bermain bersama Newell’s Old Boys selama semusim, hingga menutup karier di Boca Juniors.

Pahlawan Sejati Argentina

Membahas karier Maradona tak lengkap bila tak mengenang kiprahnya bersama Timnas Argentina. Ia memulai debutnya bersama Tim Tango pada usia 16 tahun kala melawan Hongaria pada 27 Februari 1977. Pada usia 18 tahun Maradona berpartisipasi dalam Piala Dunia Junior yang diselenggarakan di Jepang, di mana Argentina sempat berhadapan dengan Indonesia dengan hasil 5-0. Maradona mencetak 2 gol bersama Ramón Díaz yang mencetak hattrick.

Tibalah Maradona di Piala Dunia pertamanya di tahun 1982. Pada edisi tersebut, Argentina yang datang sebagai juara bertahan tidak bermain maksimal karena gagal mempertahankan gelar juara. Maradona, pada partisipasi perdananya berhasil mencetak dua gol pada Piala Dunia 1982.

Partisipasi Maradona berikutnya di Piala Dunia 1986 menjadi catatan sejarah yang tidak bisa dilupakan sampai hari ini. Didaulat sebagai kapten tim, Maradona tampil sebagai contoh yang baik bagi rekan setimnya. Pada turnamen itu, Maradona mencetak gol terbaik sepanjang masa kala bertemu Inggris di babak perempat final.

Pada saat itu Maradona melakukan sprint sambil membawa bola dari tengah lapangan, kemudian melewati 5 orang pemain Inggris (Glenn Hoddle, Peter Beardsley, Steve Hodge, Peter Reid, Terry Butcher) dan menaklukkan kiper kenamaan Inggris, Peter Shilton. Semua itu dilakukan Maradona hanya dalam rentang waktu kurang lebih 10 detik.

Sayangnya, pada partai tersebut pula, Maradona membuat gol yang sangat buruk. Gol tersebut tercipta melalui bantuan tangan, yang dikatakan Maradona sebagai hasil bantuan “tangan Tuhan”. Ia akhirnya mengakui bahwa hal tersebut dilakukan dengan sengaja pada 22 Agustus 2005. Total Maradona mencetak 5 gol dan 5 assist dan tidak pernah diganti selama pertandingan Argentina dalam Piala Dunia FIFA 1986.

He never apologised': Peter Shilton refuses to forgive Diego Maradona for  'Hand of God' goal after his death | The Independent
Gol ‘Tangan Tuhan” Maradona saat melawan Inggris di Piala Dunia 1986. Sumber: The Independent

Setelah kiprah magisnya di Piala Dunia 1986, Maradona masih tampil membela Argentina di Piala Dunia 1990 dan 1994. Di edisi 1990, Maradona harus tampil dengan rasa sakit sepanjang turnamen karena cedera lutut yang dideritanya. Namun ia berhasil mengantar Tim Tango sampai partai puncak, namun kalah dari Jerman Barat dengan skor 1-0.

Sedangkan di edisi 1994, Maradona kembali tampil sebagai kapten Argentina. Namun kiprahnya di Piala Dunia yang berlangsung di Amerika Serikat itu berakhir buruk karena tertangkap menggunakan doping dan dilarang tampil dalam turnamen.

Akhir Karier

Selepas pensiun dari lapangan hijau, Maradona melanjutkan kariernya sebagai pelatih. Ia tercatat pernah melatih beberapa klub seperti Textil Mandiyu, Racing Club, Al Wasl, Fujairah, Dorados, dan Gimnasia La Plata, di mana ia masih menjabat sebagai pelatih saat meninggal dunia.

Maradona pun juga sempat melatih Timnas Argentina. Penunjukkannya yang mengejutkan pada 2008 lalu menjadi cerita yang cukup dikenang. Pada debutnya, El Diego berhasil membawa tim asuhannya menang kala menghadapi Skotlandia dengan skor 1-0. Kiprah Maradona terus berlanjut di Piala Dunia 2010. Dalam turnamen itu, Maradona mampu mengantarkan Argentina melaju hingga babak perempat final sebelum dikandaskan Jerman dengan skor telak 0-4. Setelah turnamen terakhir, Maradona dipecat Asosiasi Sepakbola Argentina (AFA).

Diego Maradona, soccer legend from Argentina, dies at 60
Aksi Maradona saat melatih Timnas Argentina di Piala Dunia 2010. Sumber: The Mercury News

Melihat panjangnya karier Maradona di lapangan hijau, jelas sudah jika dirinya adalah salah satu legenda terbaik yang pernah ada di sepakbola. Walau bukan tanpa cela, Maradona tentu layak mendapatkan penghormatan setinggi-tingginya. Tak terhitung sudah kesedihan yang tumpah setelah kepergiannya.

Meski raganya telah pergi, Maradona pun tetap abadi. Segala tentangnya mulai dari permainan berkelasnya hingga problematika di luar lapangan membuat sosok pahlawan Argentina itu menjadi tokoh tak akan bisa untuk dilupakan.

Selamat jalan, Diego Maradona.

Kredit foto: The New Yorker

Vantage

Merasa Stres dan Depresi? Berendam di Air Dingin Bisa Jadi Solusinya

Previous article

Dampak Lain Setelah Meminum Alkohol Berlebihan: Melemahnya Sistem Imun Tubuh

Next article

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *