Gundala Diobrak Abrik Joko Anwar

Gundala Diobrak Abrik Joko Anwar

Kegelapan yang bergulir di awal cerita, berhasil meyakinkan penonton, bahwa scene-scene selanjutnya tidak akan begitu jauh dari prolog-nya. Di mana karya asli ciptaan Harya Suraminata, Gundala, diobrak abrik Joko Anwar, sutradara dan produser kawakan nasional terbaik era ini.

Gundala yang pertama kali dirilis tahun 1969 dengan judul “Gundala Putra Petir”, aslinya mengambil setting di kota Yogyakarta, namun Joko Anwar memindahkannya ke Metropolitan. Saya rasa ini lebih kepada kebutuhan cerita, yang butuh banyak lokasi tepat guna, agar sisi esensial dari komik legendaris ini tetap menyala.

Muzzaki Ramdhan aktor berusia 10 tahun yang berperan sebagai Sancaka Kecil, berhasil menghidupkan roh film ini dalam 30 menit pertama. Keterlibatan anak ini di dalam setiap scene, berada di nilai sempurna. Sorot mata dendam yang dia tunjukan, ada di point 9. Nilai-nilai kebenaran yang diusung oleh bapak dan ibunya, menjadi modal keberanian dia untuk selalu berkontribusi terhadap perjuangan bapaknya yang seorang buruh pabrik, yang selalu diperlakukan secara semena-semena oleh atasannya. Rio Dewanto, yang menjadi bapaknya Sancaka, menjadi man of the match di part pertama “Gundala”.

Beranjak ke Sancaka besar yang diperankan aktor watak Abimana Aryasatna, dengan segala kegundahan polemiknya, berhasil memberi petunjuk bahwa film Gundala yang diobrak abrik oleh Joko Anwar ini adalah kekuatan dasar dari kebesaran kerajaan Bumi Langit Cinematic Universe di kemudian hari. Bagaimana Joko memperlihatkan sisi kemiskinan Sancaka yang hidup serba pas-pasan, plus hal-hal sentimentil ketika dia membantu tetangga flat-nya, Wulan Merpati, yang diperankan gadis matang eksotis Tara Basro, dalam menghadapi ancaman debt collector yang menagih uang bulanan sewa secara paksa terhadap Wulan, terlihat cukup organik. Sepak terjang Sancaka dalam membantu musuh-musuh Wulan pun, terlihat total.

Perpindahan dari scene ke scene yang dilakukan Joko bersama tim produksi, bisa dibilang mendekati halus. Saya lihat penonton begitu menikmati. Beberapa tambahan adegan yang tidak pernah ada di komik aslinya, menjadi hal yang lumrah untuk dimasukan ke dalam film ini. Saya rasa para pembaca komik aslinya pun akan sampai ke taraf sangat memaklumi. Eksekusinya tepat, dan jarang membosankan.

Di luar Abimana dan Tara Basro, hanya Lukman Sardi dan Asmara Abigail yang tampil stand out. Maaf Aming, Hannah Al Rashid, dan Aqi Singgih, mungkin Anda bertiga perlu lebih fokus lagi saat workshop, karena kalian terlihat seperti tempelan.

Mumpung baru main, bergegas saja ke Cinemax terdekat, dan buktikan sendiri, bahwa produk film karya anak negeri semakin ke sini kian mampu bersaing dengan film-film superhero produksi luar. I salute you, Joko!



Share this article :
Vantage Banner Ads