Winston Churchill, Gelas Alkohol dan Gemuruh Perang Dunia

Masa kelam Eropa tergambar jelas lewat film Darkest Hour. Kala itu armada Nazi Jerman kian buas melakukan argresi besar ke semenanjung benua biru. Prancis telah bungkam dan memilih membudak pada sang fasis. Sedangkan Inggris masih terlunta-lunta menyerang, menolak tunduk pada begundal Hitler. Dengan segelas Whisky di tangan, Winston Churchill memimpin negeri sang Ratu dengan tenangnya.

Winston Churchill, seorang perdana menteri yang dibayat ditengah kecamuk perang dunia. Pada 1940 Churchill naik takhta, menggantikan Neville Chamberlain dicekal Mosi Tidak Percaya dari parlemen Inggris. Churchill menjadi orang tertinggi kedua dibawah sang Ratu yang menjadi pengambil keputusan negara. Sebuah jabatan penuh tanggung jawab yang harus diemban seorang pria alkoholik kelahiran 1874.

Ya benar, Churchill laksana orang mabuk yang menjadi pembawa lentera terang Britania ditengah masa gelap perang dunia kedua.

Reputasi Churchill sebagai pemabuk berat dimulai sejak sejak 1899 kala usianya 25 tahun. Churchill muda kala itu bertugas sebagai koresponden Morning Post untuk meliput kecamuk Perang Boer di Afrika Selatan.

Bukan senjata dan kamera yang menjadi bawaan wajibnya, tercatat 36 botol Wine, 18 botol scotch-whiskey berumur sepuluh tahun dan 6 botol vintage-brandy jadi muatan nya kala terjun ke zona perang. Churchill mungkin jadi satu-satunya orang yang memiliki cadangan minuman keras pribadi terbanyak di Afrika Selatan tahun itu.

Dimasa kepemimpinan nya Churchill dikenal sebagai seorang yang tegas, konservatif dan emosional. Dirinya cukup temperamental, namun disatu sisi dirinya adalah seorang yang visioner dengan segala keputusan-keputusan nya ditengah kepanikan massal kala kelam kecamuk perang dunia.

Pada 1945, akhirnya bendera putih berkibar di pihak Nazi, Berlin dikepung pasukan merah. Inggris Berjaya tanpa pernah menekuk lutut selama perang pada tentara fasis. Nama Churchill menjadi sorotan dari beragam media. Sayangnya, hal tersebut tidak menghapus kebiasaan buruknya pada konsumsi alkohol.

Beberapa berfikir alkohol lah yang menjadi dalang menurun nya kinerja Churchill sebagai Perdana Menteri. Seperti pendapat Lord Moran, “Pidato Churchill menjadi lebih sulit dipahami dan membingungkan, sulit menerka apa yang ia maksud.”

Usai masa pensiun, Churchill makin semakin memburuk. Kebiasaan minumnya makin jadi. Satu botol champagne dikala makan siang dan satu lagi dikala makan malam jadi sajian pelengkapnya. Hal ini mungkin yang melandasi sifat kerasnya, selayaknya yang ia katakan dalam sebuah kutipan nya.

“Take more out of alcohol than alcohol takes out of you.”

-Winston Churchill