Tongkrongan Bandung-Jakarta Masa Lalu

Ngomongin tempat nongkrong 80’s & 90’s, masing-masing punya favoritnya. Saya sendiri, yang sempet liat fenomena tongkrongan musik keras di Bandung, menemukan keragaman tempat nongkrong mereka. Yang metal, gondrong dan sangar, nongkrongnya di tempat jual beli barang bekas Cihapit. Juga di Palaguna Bandung. Dan beberapa ada yang terdampar di BIP. Lalu anak-anak punk nya memilih depan hotel Santika Bandung sebagai singgasana mereka, yang menjadi tongkrongan masa lalu mereka.

Bandung pada saat berjaya-nya, di mana anak-anak grunge nya total bercokol di Jalan Purnawarman Bandung. Kemudian yang indie-pop merasa nyaman di beberapa area, ada yang di Jalan Ranggamalela, Dipati Ukur, Adipati, hingga Trunojoyo. Di Jalan Sultan Agung pun, pada beberapa tempat jajanannya, jadi tempat hangout beberapa band, termasuk Koil salah satunya. Lalu di Bandung belahan timur ada studio Palapa, yang menjadi tongkrongan band besar seperti Burger Kill dan beberapa band keren lainnya. Sementara di Sultan Plaza dan Teuku Umar, sempat juga dijadikan tempat nongkrong anak hardcore. Dan mereka penyuka musik top 40, Fame Station yang dulu masih berlokasi di Jalan Gatot Subroto, Bandung menjadi pilihan utama. Kurang lebih itu diketahui tau tentang tongkrongan di Bandung.

Tongkrongan masa lalu pada masa jayanya di Jakarta, untuk wilayah Ibukota biasanya para rocker ngumpul di apotik. Entah alasan apa yang membuat mereka memilih lokasi tersebut sebagai tempat kongkow-kongkow. Yang beken di ibukota ada dua, yaitu apotik Retna Fatmawati dan apotik Jaya Panglima Polim. Terus yang anak disko, sudah pasti Ebony Kuningan, Stardust Kota, Earthquake Monas, Musro Hotel Borobudur, Lipstick dan Happy Day Blok M jadi pilihan utama mereka. Saya sendiri kalau ke Ibukota seringnya diajak sepupu yang lebih tua pergi ke Aldiron, Melawai. Di tempat tersebut saya bisa mengetahui Mariam The Legend, beberapa toko CD & cassette legendaris yang sudah punah,  toko-toko yang menjual kaos band, baik asli maupun palsu, dan tempat dingdong paling keren se-Indonesia. Ah, surga banget! Dari situ biasanya melipir ke Aquarius Mahakam, milih-milih kaset pake feeling, berdasarkan cover album saja. Mengapa? Karena saya nggak punya bekal referensi sama sekali mengenai sebagian besar album-album yang ngejogrok di sana. Pokoknya milihnya capcipcup. Berharap pas disetel isinya bagus. Saya rasa semua remaja se-angkatan saya di luar sana memiliki pengalaman yang sama, mengenai tradisi capcipcup di toko kaset ini. Pulangnya mampir ke Dairy Queen beli ice cream blizzard nya yang enak banget itu, sekalian ngeceng liatin zus-zus Jakarta. Biasanya kalo hari masih tersisa agak panjang, sepupu saya mengajak ke Duta Suara Sabang, buat apa? ya buat liat-liat kaset lagi sodara sodariku.

Yang punya hobi ngoprek kendaraan, biasa disebut anak otomotif, biasanya nongkrong di warung-warung yang dekat dengan sekolah mereka. Yang solo karir pun banyak. Biasanya para muda model ini seringnya ngelayap ke tempat dingdong, bioskop, sambil cari-cari mangsa buat dipacarin. Hahah.

Kalo anak band, saya rasa di semua belahan kota dan daerah Indonesia sudah pasti mojoknya di studio musik. Mereka doyan banget ngobrol ngalor ngidul soal idolanya masing-masing, berdasarkan info yang dibacanya. Baik itu dari majalah Hai, maupun majalah luar yang dibawa oleh saudara maupun temannya yang baru pulang dari luar negeri.

Yang doyan basket, untuk wilayah Jakarta udah pasti kalo ngga di sekolahnya masing-masing, ke Bulungan, Senayan, kalo ngga  Kuningan. Yang di Bandung ngumpulnya di GOR Saparua, bagian luar, yang di kota lain? Silahkan isi sendiri.