Solo Traveling? Boleh Juga….

Menutup tahun yang penuh peluh ini saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan sebelumnya. Mencoba menjalani hal yang cukup ekstrim dan menantang diri. Ya, solo traveling. Perjalanan yang dilakoni seorang diri ini tentu menjadi hal baru yang menyisakan beberapa pertanyaan bagi diri sendiri. Akhirnya, perjalanan ini pun berakhir dengan limpahan kesan yang tak lekang untuk dikenang.

Setiap insan pastinya memerlukan waktu untuk berlibur. Melepaskan penat dan lelah selepas berkegiatan sepanjang tahun menjadi hajat yang harus ditunaikan. Begitupun dengan saya yang telah menghabiskan waktu 2019 ini dengan bekerja. Hinggap di satu titik di mana ingin melepaskan diri sejenak dari rutinitas. Hingga akhirnya memutuskan untuk merencakan perjalanan liburan.

Awalnya ingin mengajak beberapa teman untuk berlibur bersama. Respon positif dari mereka pun didapat. Namun ketika mengajukan destinasi liburan yang diinginkan, mereka perlahan mundur teratur dalam rencana liburan ini. Hingga akhirnya terbersit untuk melakukan perjalanan seorang diri atau yang dikenal dengan sebutan solo traveling.

Istilah solo traveling terdengar cukup asing bagi yang terbiasa berlibur bersama keluarga atau teman-teman. Beberapa pertanyaan sebenarnya menghinggapi pikiran sebelum melakukan perjalanan ini. Pertanyaan seperti apakah saya mampu bertahan sendiri, atau apakah dapat berbaur dengan orang-orang baru di tujuan nanti sempat membuat ragu. Namun tekad sudah bulat untuk melanjutkan perjalanan ini.

Banyuwangi menjadi pilihan dalam melakoni solo traveling pertama ini. Belum pernahnya ke kota di ujung pulau Jawa itu menjadi faktor penentu dalam memilih tujuan liburan. Dengan begitu saya akan merasakan pengalaman liburan baru yang belum pernah dicoba sebelumnya.

Ketika memutuskan untuk pergi sendiri artinya harus menjalani sendiri proses dari hulu ke hilir dalam merencanakan liburan. Selain itu kita juga dipaksa untuk memasrahkan perjalanan kepada orang yang tidak dikenal. Kita sendiri harus siap dengan segala kondisi yang terjadi saat berlibur. Terpenting adalah menghindari ekspetasi berlebih saat berpergian, apalagi jika melakukannya seorang diri. Misal mengharapkan cuaca yang cerah, atau mengharapkan spot wisata yang dikunjungi sesuai dengan apa yang dilihat dari gambar. Kadang kedua hal ini menjadi pembatas untuk merasakan esensi liburan yang sebenarnya.

Solo traveling adalah proses pembelajaran. Dengan melakukan perjalanan seorang diri, kita dipaksa untuk beradaptasi dengan kondisi yang belum pernah kita alami. Beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru menjadi tantangan yang pastinya harus dihadapi seorang diri.

Selama melakukan perjalanan seorang diri, kita dituntut untuk mandiri. Mulai dari proses persiapan, dan hingga keberangkatan ke tujuan semuanya dilakukan sendiri. Selain itu dengan melakukan solo traveling, kita dapat meningkatkan rasa percaya diri. Perasaan ini muncul karena dituntut untuk berbaur dengan orang baru. Tak jarang seseorang yang melakukan solo traveling akan menemukan kenalan baru, dan ini terjadi juga dengan saya.

Selain itu, dengan solo traveling kita juga dipaksa untuk independen. Segala keputusan harus diambil seorang diri dan ini menjadi nilai plus tersendiri bagi saya. Kebebasan tentu menjadi kelebihan dalam melakukan solo traveling. Contoh seperti kebebasan memilih destinasi atau memilih tempat makan tak tergantung pada teman atau partner perjalanan. Atau kita tak perlu memikirkan apakah teman yang ikut dalam perjalanan ini akan menikmati perjalanan atau tidak.

Poin diatas sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan riset pasar dan analitik data internasional, YouGov yang menyatakan bahwa 66 persen orang Amerika telah melakukan perjalanan sendiri atau akan mempertimbangkan untuk melakukan solo traveling. Alasan yang paling banyak ditemui dalam melakukan solo traveling adalah, para traveler menginginkan kebebasan untuk membuat rencana perjalanan sendiri. Selain itu mereka yang berpergian sendirian berujar bahwa solo traveling  membuat mereka merasa lebih mandiri dan percaya diri.

Pengalaman pertama saya dalam menjalani solo traveling begitu berkesan. Ketika saya kembali ke rumah, saya pulang dengan membawa semangat baru. Banyak hal baru yang saya dapat dalam perjalanan kali ini. Keberanian untuk berinteraksi dengan orang yang tak saya kenal setelah perjalanan ini menjadi hal yang tak sulit untuk saya lakukan.   

Saya pun merasa ketagihan untuk melakukan perjalanan ini kembali di masa depan. Setelah ini, rasanya solo traveling akan menjadi agenda tahunan yang akan saya tunaikan. Sesegera mungkin saya akan membuat bucket list daerah mana saja yang akan saya jelajahi berikutnya.

Solo traveling harus Anda lakukan setidaknya sekali seumur hidup. Sebisa mungkin sebelum anda memutuskan untuk menikah, Anda harus mencoba perjalanan yang satu ini. Pengalaman untuk menjalani perjalanan ini mungkin sulit untuk dicapai ketika Anda telah memiliki keluarga. Jadi, siapkah Anda melakukan solo traveling?