Si Narko Ter-Hits Dekade 2010

Kala banyaknya pejuang bermisi semi-mustahil namun mulia menuntut pemberdayaan dan legalisasi tanaman ganja berjibaku mengumpulkan fakta dan penelitian, ganja sintesis seolah hadir merusaknya. Mukjizat yang dikandung THC dalam ganja alami bagai disandingkan dengan produk kimiawi jahanam sumber seribu penyakit. Sementara muda-mudi kota di terror dengan pasokannya yang melimpah dan doktrinnya persuasifnya yang berbicara bak alternatif si Maha Fungsi.

Ganja Sintesis atau yang kerap kali disebut sinte bukanlah peracau kesadaran baru dalam tabiat pergaulan remaja. Kemunculan nya yang fenomenal di warsa 2013 disambut baik muda-mudi ibu kota yang katanya kehabisan pasokan marijuana dampak dari semakin gencarnya operasi penangkapan bandar lokal. Kemunculannya sebagai alternatif giting para hipster medio itu pun membuat popularitasnya meroket tajam dengan berbagai merek seperti Gorila, Ganesha, Nataraja, Kingkong, K2 dan varian lainnya. Pembuatannya sendiri melibatkan tembakau murni yang disemprotkan berkali-kali dengan zat kimiawi tertentu hingga meresapi tiap helainya. Terbahayanya, mayoritas produksinya yang dilakukan dalam skala rumahan tidak memiliki pengaturan dosis dan campuran asal ditiap-tiap batch-nya.

Sementara ganja penuh tumbuh dengan mukjizat karena kandungan delta-9-tetrahydrocannabinol-nya, sinte penuh mudorot dengan racun dan dosis abu-abu dari kandungan AB-CHMINACA, 5-fluoro-ADB, FUB-AMB, annabicyclohexanol, JWH-018, JWH-073, atau HU-210 dan lain-lainya. Anugerah ganja sebagai tanaman beribu fungsi dipelintir oleh sinte yang cenderung punya dampak negatif dan merusak.

Soal efek dan sensasi saat pasca konsumsinya pun jauh berbeda. Ganja sebagai depresan alamiah yang dapat menimbulkan efek tenang, relaksasi, euphoria dan rasa lapar tidak sejalur dengan sinte yang menimbulkan rasa cemas, halusinasi berlebih dan paranoid pada pemakaiannya. Begitu pula pada efek jangka panjang yang ditimbulkan keduanya, berbeda jauh. Sinte menurut banyak penelitian terbukti dapat merusak syarat otak yang menimbulkan paranoid berkepanjangan, cemas berlebih, gangguan pernafasan, stroke hingga kematian akibat over-dosis. Berbanding jauh dengan ganja alami yang konsisten terjaga pada tingkat kematian di angka 0 sejak dalam catatan sejarahnya.

BNN dan pemerintah pun tidak tinggal diam semenjak maraknya kasus keracunan dan kematian akibat semakin jamaknya peredaran zat ini. Belum lagi penggunanya yang semakin beragam dari muda hingga tua, status ekonomi lemah hingga kuat dan segala kalangan. Buahnya, Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika terbit. Isinya menggolongkan ganja sintesis dan segala variannya ke dalam bentuk narkoba Golongan I. Sedangkan penggunaan dan kepemilikannya dapat dijerat UU Nomor 35 Tahun 2009 mengenai Narkotika.