Regan Reuben: Hibrida Penggiat Kultur Ibu Kota

Regan cukup memberi pencerahan terhadap berbagai macam kegiatan influensial di Jakarta melalui konten-konten yang ia selundupkan di beberapa media tempat dia pernah bekerja. Beberapa brand ternama pun akhirnya mempercayakan urusan kreatifnya terhadap pria 39 tahun ini tanpa keraguan. Terbukti, sejak awal 2000-an, sentuhan magis Regan untuk urusan branding bagi para kliennya kerap menuai sukses. Dan, hingga hari ini, sentuhan Midas-nya, tak surut-surut.

Bagaimana ceritanya, Anda bisa memberi pengaruh yang lumayan besar terhadap beberapa event so called urban culture, seperti Brightspot ?

Dulu di JUICE (sebuah majalah street culture & nightlife yang sempat dijadikan injil tata kehidupan terbaru pemuda pemudi ibukota di era tengah 2000-an) banyak memuat konten label-label lokal, mungkin dari situ mereka menjadikannya sebagai referensi. Kebetulan saat itu label lokal lagi emerging banget, era peralihan setelah distro, lah.

Di medio 2006 – 2011, lumayan banyak info yang sampai ke kuping saya kalau Anda banyak berperan besar terhadap beberapa event yang dikultuskan pada era itu. Bisa tolong dijelaskan?

Oh, awalnya tahun 2005, waktu bikin Daily Whatnot (embrio website street culture lokal), saya buat street culture event pertama, Medium Rare dan Sneaker Pimps. Nah, sejak saat itu banyak event-event serupa yang diadakan dengan sebutan Urban Culture. Setelah itu saya bergabung dengan Juice Magazine, yang kebetulan memiliki misi visi sama dengan saya untuk melanjutkan kegiatan dan pergerakan sub kultur tersebut.

Menurut Anda sendiri, Medium Rare dan Sneaker Pimps merupakan pionir yang menginspirasi event-event so called urban culture setelahnya, nggak?

Iya. Setelah itu banyak urban culture events yang dibuat dan dibiayai sponsor, terutama rokok. Dan dampaknya terhadap pelaku-pelaku pertama seperti saya. Misalkan Darbotz, sudah mencapai hasil yang bisa dibilang luar biasa! Brand mempercayai dia sebagai main talent salah satu iklan handphone. Beberapa teman yang se-angkatan pun menuai sukses serupa, dipercaya banyak brand untuk mengerjakan materi promo dalam bentuk seni spesialisasi mereka masing-masing. Dan, bagusnya, regenerasinya makin ke sini kian menggila. Terbukti, event seperti ini target market-nya jelas.

Ok, balik lagi ke event-event, terutama seputar nightlife. Portfolio Anda yang berhubungan dengan kegiatan malam dan memorable, apa saja?

Tahun 2001 saya bikin party setiap dua minggu sekali di Diva, Senayan. Itu event kolektif, namanya Echosystem. Lalu ada Rave Rhythm Unity, di mana gelaran kedua-nya digerebek polisi, sampai masuk berita. Hahaha. Kemudian Higher Level di Buqiet Skate Park. Lalu ada beberapa event juga yang saya kerjakan di Embassy dan Centro. Waktu di Juice juga sering bikin party kecil, bareng Dipha Barus, namanya Misch Masch dan Quirk It, di Willow tahun 2008. Terus ada Juice The Knowledge, rubrik di Juice Magz yang bahas macam-macam genre, yang dijadikan kegiatan party. Terus waktu saya kerja di Vice, juga sempat bikin event di SCBD, dan terakhir banget, bikin bareng Frekuensi Antara, yaitu serial Optimal, sebanyak 3 kali, dan itu lumayan jadi sejarah juga. Oh ya, waktu itu sempat juga bikin Wizard juga di bekas Taman Ria Senayan, memorable banget tuh.

Regan di mata saya merupakan tipe orang yang sedikit bicara, tapi sekalinya mengeluarkan ide, maksimal semua sih rata-rata. Dan, Hal tersebut tidak pernah terpikirkan oleh tim Anda sebelumnya. Itu bakat alami, apa ada ilmunya? Atau mungkin saat Anda menempuh bangku high school di luar, sering bertemu orang-orang kreatif yang satu frekuensi?

Kebanyakan hasil bengong aja, sih. Jadi imajinasinya ke mana-mana, banyakin ngayal aja. Ilmunya nggak ada. Dari pergaulan bebas aja sih. Hahaha. Kalau sekarang sih idealnya kerja sama dengan milenial, mereka idenya lebih gokil! Oh ya, mau nambahin dikit, dengan adanya MRT dan peluasan public space, street culture juga mengalami evolusi, di mana bermunculan spot-spot baru untuk bombing, lalu kita juga jadi bisa main skate di mana-mana, banyaklah pokoknya benefit yang didapatkan warga ibu kota.

Bedanya kreativitas angkatan Anda dengan milenial menurut Anda seperti apa?

Sama saja. Mungkin anak-anak sekarang pendekatannya lebih kepada bikin-bikin workshop begitu, jadi lebih tertata saja. Kayak kemarin ada acara manggung band Trees and The Wild, mata penonton ditutup pakai kain untuk menikmati konser mereka. Pokoknya sekarang seru banget, semua subkultur tersedia. Dulu juga sempat ada satu kolektif psy trance di Jakarta, tapi bukan hanya party saja, mereka juga bikin workshop yang tema-nya psychedelic. Sekarang juga saya senang banget, akhirnya scene hip hop lokal jadi besar, thanks to YouTube kali ya? Karena dulu saya sering bertanya-tanya, mengapa hip hop di Indonesia kecil banget, sedangkan di negara-negara tetangga seperti Thailand, Vietnam udah jadi banget!

Anda kan sering pindah-pindah nih, ngurusin Subcult, branding untuk VICE, lalu sekarang Frekuensi Antara, yang notabene dimodali rokok. Itu para investor mungkin kepincut kali ya, dengan ide-ide Regan yang selalu berujung memuaskan?

Selama ini sih saya diajak ketemu-ketemu aja, mungkin ya, mungkin nggak. Nggak tau juga sih. Hahaha

Sekarang lagi mengerjakan kegiatan apa?

Terakhir saya buat serial katalis kota short documentary di 4 Kota besar: Jakarta, Bandung, Bali, Jogja. Kontennya tentang electronic scene di kota-kota tersebut. Sama saya mau melanjutkan event Optimal sekali lagi, tapi belum tau mau di mana. Yang pertama itu di hotel Monopoli, kita take over satu gedung, sekitar 2000 orang lintas generasi ngebludak, setelah itu lanjut Optimal di Fairground, konsepnya lebih hip hop ada drum n bass-nya juga. Lalu yang terakhir di Monopoli lagi, konsepnya lebih ke retail. Jadi lantai 5 kamar-kamarnya jadi pop up shop, party-nya di atas lebih yang nge-roots, di bawah live electronic dan disco. Nah yang terakhir dan next gue nggak begitu involve, serahin ke yang milenial hahaha.

Ada pesan dari seorang Regan untuk milenial yang ingin berkarir seperti Anda?

Jangan dilawan, rasain aja!

Foto : Albert Judianto