Twitter dikenal sebagai salah satu platform media sosial yang awalnya digunakan untuk memperluas jejaring pergaulan sosial insan di seluruh dunia. Di mana dalam perkembangannya terdapat inovasi inovasi yang dilakukan oleh para penggunanya, seperti menjadi sarana pencitraan, yang akhirnya diikuti juga oleh bermacam brand-brand di seantero bumi.

Seiring berjalannya waktu, Twitter mulai dirusuhi oleh orang-orang yang memang memiliki niat berbeda dari kebanyakan orang baik. Media sosial ini oleh mereka dialihfungsikan sebagai tempat penyebaran caci maki yang menyerang kelompok maupun perseorangan yang tidak mereka sukai. Orang-orang ini membabi buta dalam menulis sesuatu. Sarkas, dan potensial viralnya begitu kuat. Sehingga mereka dapat dengan mudahnya menemukan teman-teman yang berada di frekuensi kejahatan yang sama.

Obama dan Jokowi adalah salah dua pemimpin dunia yang berhasil memaksimalkan platform ini dalam kampanye-kampanye politiknya. Sebelum ada Twitter, siapa juga yang mengenal kedua sosok positif ini. Namun pararel dengan pencapaian maksimal mereka, media sosial ini pun dihinggapi oleh para pembencinya, sehingga vice versa, Twitter akhirnya mulai digumuli oleh orang-orang yang menderita penyakit hati akut.

Tidak sampai di situ, setelah menginjak usia belasan tahun, para perusuh di Twitter pun kelakuan oceh teks barbarnya pun semakin menjadi-jadi. Malah cenderung seperti orang gila, yang menjadi preman di dunia maya, di mana tidak ada kata ujung sabar, yang penting lawan harus dihabisi dengan cara yang buas dan mematikan. Kelompok para perusuh ini lumayan terorganisir dalam melumat musuh-musuhnya, karena biasanya manusia-manusia pengecut ini memiliki akun-akun bodong lain yang sengaja dibuat untuk menghancurkan mereka yang bertentangan dengannya.

Ya, mari kita doakan saja, agar orang-orang bebal tersebut semakin terpuruk dengan penyakit hatinya, dan lekas diberi penyakit agar segera pergi meninggalkan dunia ini.