Semua Berawal Dari Perdebatan Bubur Diaduk dan Tanpa Diaduk

Warga Negara Indonesia memang paling pintar mempermasalahkan hal-hal yang paling tidak penting menjadi sesuatu yang fenomenal. Dari sini kita dapat membaca bahwa tak sedikit orang yang senang menggumuli ilmu remeh temeh untuk kebutuhan perdebatan tanpa makna demi meramaikan khasanah wacana mereka.

Betapa senangnya sebagian besar dari kita ini mengulang-ulang apa yang sudah menjadi kebiasaan ke dalam bentuk parodi gambar bercerita, sehingga terjadi pembahasan tiada henti yang akan membawa ke sebuah perdebatan model usang, yang memakan waktu lama. Malah terkesan dilama-lamakan, sehingga menjadi hiburan basi, yang anehnya tetap saja memiliki ketahanan tanpa lekang.

Itu tercermin dari bagaimana cara negeri ini berpolitik, bersosial, berkomunikasi, hingga bertahan. Tradisi kampanye peraihan masa, metodenya diulang-ulang. Formula membangun hubungan sosial kerukunan bangsa, masih mencomot gaya lama. Lalu kepekaan cara berkomunikasi masa antar jiwa, pola pakem yang digunakan seperti sudah termaktub oleh ajaran-ajaran lama. Dan kesigapan kita semua dalam menyikapi hal-hal besar, kerap kali bergantung terhadap ketidakjelasan info dari media.

Mungkin untuk menyegarkan kehidupan dunia bagian belahan Nusantara, dapat dimulai dengan meninggalkan perdebatan usang semacam debat bubuk diaduk dan tanpa diaduk. Bila Anda perhitungkan secara Matematika kasat, pertikaian obrol digital semodel itu merupakan kegiatan pembuangan waktu yang sangat-sangat percuma.

Niscaya, jika kita telah terbiasa melupakan segala bentuk kecuma-cuma-an seperti perdebatan bubur diaduk dan tanpa diaduk, ini akan memudahkan kita semua untuk menghadapi masalah besar secara bersama-sama dengan standar pikir yang praktis. Karena selama ini kita sebenarnya terlalu senang berputar-putar di riak kolam yang itu-itu melulu, sehingga saking asiknya hanyut di dalam nostalgia belaka, bangsa kita lupa bagaimana cara untuk melawan permasalahan vital secara praktis dan bahu membahu.