Pengakuan Seseorang Yang Berada di Tengah-Tengah Razia Golden Crown

Kamis pagi 6 Februari 2020, merupakan hari kelabu bagi mereka yang terbiasa menghabiskan malam-malam senang di Golden Crown Pinangsia. Di tengah malam yang seharusnya menggembirakan tersebut, semua pengunjung maupun para petugas yang sedang bekerja dikejutkan oleh razia dadakan yang dilakukan oleh tim BNN.

Siang itu satu dari tim editorial kami bertemu dengan salah seorang saksi yang kebetulan berada di Golden Crown pada saat malam razia berlangsung. Dia mengamati menit per menit segala uraian kejadian melalui sudut lounge tempatnya bercokol. “Gile, kejadiannya cepet banget, tiba-tiba pasukan BNN beserta anjing-anjing pelacak sudah berada di dalam Crown. Padahal baru jam 12 malam!” Ujarnya berapi-api.

Pria baya tersebut meneruskan cerita, bahwasanya semua yang berada di lounge tidak menyangka akan ada peristiwa na’as tersebut. Karena selama mereka menikmati suguhan Live Band, semua terasa berjalan dengan mulus. Tamu-tamu juga berdatangan dengan santainya, dan mereka tetap menikmati sajian minuman sambil tertawa gembira sembari menikmati kumandang lagu-lagu Top 40. Memang, di kiri-kanan terlihat ada beberapa orang yang mulai terlihat ‘keenakan’ menghayati substansi yang telah mereka reguk, namun semua itu terlihat normal-normal saja, tak ada yang berlebihan.

Setelah penampilan grup musik yang membawakan berbagai “tembang hari ini” usai, beberapa belas penari seksi gantian naik ke atas panggung untuk memberikan sensasi hiburan yang berbeda terhadap penonton. Di mana seragam yang mereka gunakan nampak begitu seksi, seseksi-seksinya. Nah, beberapa saat sebelum para penari ini menyelesaikan tugasnya, tiba-tiba lampu Lounge Golden Crown menyala. Sungguh terang benderang! Dan mendadak seluruh manusia yang berada di ruangan itu bisu terpaku, baik petugas, maupun tamu. “Kami saling memandang dengan mimik muka masing-masing yang dipenuhi pertanyaan serupa, benarkah Crown di razia?” di mana akhirnya jawabannya datang langsung dari pelayan pria maupun perempuan yang berada di sekitar saya, “Pak, santai ya, ini ada razia dari BNN, tapi mereka lebih fokus ke yang di room. Kita di sini mah santai aja, yang penting jangan menunjukan gestur yang ganjil dan mengundang perhatian, takutnya mereka nanti ke arah kita. Ini bapak minum air kelapa saja, supaya lebih tenang.” Ujar seorang pelayan perempuan yang baik hati serta penuh perhatian, sambil memberikan segelas air kelapa.

Pria yang menjadi saksi peristiwa bersejarah tersebut berujar kepada kami, bahwasanya untuk mencairkan badannya agar tidak menimbulkan gestur yang kaku, dia mengajak ngobrol beberapa perempuan yang berada di sekitarnya. Dia berusaha menggoda wanita-wanita tersebut, sehingga secara tidak langsung wanita-wanita itu pun akan ikut melunak, dan gestur tubuhnya pun akan kembali normal, senormal-normalnya. Benar saja, metode tersebut berhasil. Sehingga pada pukul jam 4 pagi lebih, seorang pelayan pria senior Golden Crown mencolek pria ini dan mengarahkannya agar keluar melalui pintu biasa, sambil berkata “Pak, silahkan turun melalui pintu keluar umum. Jangan tengok kiri-kanan, biasa saja, dan sebagai tambahan informasi, BNN sudah mendapatkan orang-orang sesuai dengan kuota yang mereka targetkan. Silahkan pak. Terima kasih!”

“Fiuuh, itu pengalaman lumayan kayak Roller Coaster ya! Ngga lagi-lagi deh!” Ujar si saksi ini sambil menyeruput kopi menyudahi perbincangannya dengan Vantage.

Di hari yang sama saat kami melakukan wawancara, di hari itu pula Golden Crown ditutup oleh Anies Baswedan, menyusul Stadium yang ditutup Ahok, dan Alexis yang dibuat kelar oleh Anies juga. Akankah sindikasi diskotik yang selama ini mendominasi wilayah tersebut satu per satu mati?