Demi Toutatis, Kuhentikan Segala Hujan Agar Seluruh Festivalmu & Semua Kegiatan Minum Anggur Kalian Berjalan Khidmat

Bersyukurlah hidup dan lahir di negara dengan kultur dan ragam ritual yang membuat semua yang irasional terasa memungkinkan atas kuasa magis. Sementara negara-negara lain fokus pada pengembangan rekayasa cuaca, zat-zat kimiawi dan teknologi mutakhir, Indonesia masih berkutat pada para ahli nujum dan Sang Pawang Hujan dengan sesaji dan kemenyan yg dipercaya dapat memindahkan awan hujan menjauh dari suatu area.

Profesi Pawang Hujan bukan lah hal baru, kepercayaan terhadap seseorang yg punya mukjizat untuk memohon pada gaib untuk menunda sementara hujan yang akan turun jadi rahasia umum di seluruh belahan dunia. Jasanya terutama dicari untuk gelaran acara penting, pertemuan hingga festival luar ruang yang akan dihadiri ribuan masa. Beberapa penyelenggara acara percaya kemampuan sang Dukun nyata adanya. Sedangkan ironi mengatakan tidak ada jaminan pasti atas kinerjanya.

Salah satu nya kami temui langsung ada di helatan akbar festival musik kaliber internasional, BNI Java Jazz Festival 2020 lalu. Hari ketiga hujan dan angin kencang datang tanpa permisi menyapu Ji-Expo Kemayoran, disaat bersamaan pada ujung koridor menuju Java Jazz Stage seorang pria paruh baya tengah melakukan kuda-kuda dan gerakan khas Kung Fu China di bawah terpa badai. Perhatian tertuju padanya, setelah ditanya nyatanya dirinya adalah Pawang Hujan yang sedang melakukan ritual sakralnya menolak hujan di area tersebut. Sementara pakaianya kian kuyup disiram rinai yang kian menjadi malam itu. Tidak ada yang berubah dari deras curahnya.

Dari beberapa situs jasa Pawang Hujan yang berserak di mesin pencarian, angka yang cukup fantastis terpampang. Kerjanya dibayar berdasarkan durasi dan luas venue acara. Beberapa mematok harga 2,5 sampai dengan 3 juta rupiah untuk delapan jam kerja. Situsnya lengkap dengan barisan nama acara yang sukses ditangani, dikategorikan berdasarkan helatan lokal hingga luar negeri. Diantara yang ditemui pun menjamin kesaktianya di angka 80 persen dan rela tidak dibayar jika misinya gagal.

Jika dipikir secara logika waras apa yang dilakukan Pawang Hujan tentu tidak rasional. Tidak ada satu pun ilmu di dunia ini yang bisa menjelaskan bagaimana mantra, dupa, kopi hitam, beras dan rokok kretek pada tampah sesaji dapat bereaksi dengan kumulonimbus yang datang menerpa. Apakah ada ilmu kasat mata semacam tenaga dalam yg berperan di belakangnya?