Mengurai Para Pencari Tuhan, Program Televisi Paling Layak Tonton Selama Ramadan

Bulan Ramadhan selalu diramaikan dengan berbagai serba-serbi yang muncul setahun sekali. Salah satunya adalah program televisi bernuansa Ramadan. Namun dengan adanya pandemi saat ini, beberapa hal tadi terpaksa dibatasi karena faktor kesehatan. Meski begitu, ada satu program yang tetap konsisten menghibur para pencintanya di bulan suci ini. Serial Para Pencari Tuhan tetap mengudara seperti biasa, untuk menemani di kala santap sahur. Tak hanya itu, serial ini tetap konsisten menjaga kualitas cerita yang tetap bisa dinikmati meski dihuni beberapa tokoh baru.

Bulan Ramadan di Indonesia sepertinya tak lengkap bila tanpa menyaksikan program acara televisi yang menemani di kala santap sahur dan berbuka puasa. Setiap tahunnya stasiun televisi berlomba-lomba menyajikan program acara yang menghibur dan kental dengan nuansa Ramadan.

Beragam acara mulai dari variety show, dakwah islami, hingga sinetron silih berganti menghiasi layar kaca televisi kala datangnya bulan suci. Ada yang memberikan pesan-pesan kehidupan yang berkaitan dengan agama, ada yang menampilkan drama, hingga lawakan-lawakan tak berbobot yang tak jelas apa manfaatnya.

Bila diminta menyebutkan satu program Ramadan terbaik, saya tak segan menyebutkan satu judul serial yang menemani santap sahur saya setiap tahunnya. Tak lain dan tak bukan adalah Para Pencari Tuhan yang telah mengisi waktu Ramadan saya mulai dari bangku Sekolah Dasar hingga menjadi penulis kreatif seperti sekarang ini. Tepatnya pada tahun 2007 silam, Para Pencari Tuhan memulai penayangannya hingga tahun ini yang sudah memasuki jilid ke-13.

Berbagai Alasan

Serial yang diperankan Deddy Mizwar ini masih menjaga kualitasnya dari jilid pertama hingga sekarang. Sebagai penonton setia, tentu saya mengikuti perjalanan cerita Para Pencari Tuhan dalam setiap jilidnya. Deddy Mizwar yang berperan sebagai Bang Jack, seorang marbot mushala yang bertindak sebagai tokoh utama, selalu berhasil menjadi poros utama cerita. 

Perjalanan selama 13 jilid tentu membawa dinamika pada pengembangan cerita Para Pencari Tuhan. Tak hanya itu, pergantian para tokohnya juga kerap terjadi di hampir setiap edisi. Uniknya, dengan adanya perubahan-perubahan tadi tak serta merta membuat Para Pencari Tuhan menjadi tak elok untuk disaksikan, justru malah semakin memperkaya eksplorasi setiap tokoh, baik yang masih dipertahankan maupun pendatang baru.

Hal di atas juga mengindikasikan keberhasilan Para Pencari Tuhan dalam membangun cerita para pemeran. Bisa dibilang tak ada satu pun tokoh yang begitu dominan dalam serial ini, setiap tokoh diberikan porsi yang sama untuk membangun karakter dan ceritanya masing-masing. Inilah yang selalu menarik Para Pencari Tuhan untuk disaksikan.

Selain itu, sebagai program Ramadan tentu Para Pencari Tuhan sarat akan pesan kehidupan yang berkaitan dengan agama. Namun hebatnya serial ini, pesan yang disampaikan selalu di mampu diterjemahkan secara ringan dan tak terkesan menggurui. Setiap pesan disampaikan secara sederhana melalui perilaku para tokoh dan disalurkan dengan cara-cara yang mudah untuk dicerna. 

Bila boleh berpendapat, Para Pencari Tuhan menurut saya merupakan paket lengkap sebuah program Ramadan. Selain kaya dengan pesan moral kehidupan, serial ini mampu menghibur dengan komedi yang cerdas tanpa merendahkan. Kelucuan yang ada di Para Pencari Tuhan benar-benar dibangun secara alami. Tak jarang kritik sosial juga dimasukkan dalam penggalan adegan, dan lagi-lagi dikemas dengan balutan komedi berkelas.

Berhasil menghibur dengan sisi komedinya, Para Pencari Tuhan juga menampilkan drama percintaan yang dikemas secara apik. Bila serial lain membalut kisah percintaan begitu dramatis, Para Pencari Tuhan tak sampai hati menerapkan prinsip tersebut. Serial ini cukup membalutnya dengan santai, namun tetap memiliki kesan mendalam. Anda yang menyaksikan Para Pencari Tuhan tentu masih ingat dengan kisah asmara dari Aya (Zaskia Adya Mecca) dan Azzam (Agus Kuncoro). Bagaimana proses pendekatan digambarkan sebagai proses yang panjang, dan tetap dibangun dengan perspektif agamis.

Hal lain yang menjadi senjata Para Pencari Tuhan adalah kelihaian dalam memainkan cerita. Meski sudah tayang berjilid-jilid, cerita dari satu jilid ke jilid lainnya selalu mengalami perbedaan dan tak diakhiri dengan cerita yang menggantung. Setiap konflik yang ada di satu jilid selalu diselesaikan di jilid yang sama. Setiap konflik yang dialami setiap tokoh selalu berakhir dengan cara yang apik. 

Itulah beberapa alasan mengapa saya menobatkan Para Pencari Tuhan sebagai program acara terbaik. Saya pun belum bisa membayangkan bila serial ini tak ada selama Ramadan, kehadirannya menyelamatkan saya dari program Ramadhn lain yang menjual lawakan tak bermutu dan drama-drama tak berkelas. Semoga serial ini tetap konsisten berada di jalan yang tepat.