Para Pemabuk Kawakan Lapangan Hijau

Minuman beralkohol bisa dikonsumsi siapapun, tak terkecuali pesepakbola. Intensitas tinggi untuk menjalani pertandingan tiap pekan membuat mereka juga membutuhkan pelepasan agar keseimbangan hidup terus terjaga. Ada yang sekedar hanya menjadi social drinker, tapi ada juga yang suka melewati batas dan akhirnya dijuluki pemabuk lapangan hijau.

Terasa kontradiktif memang ketika seorang atlet sepakbola yang diatur untuk memiliki kesehatan yang prima setiap saat pada akhirnya senang mengkonsumsi alkohol (menjadi pemabuk), yang notabene merusak stabilitas tubuhnya sendiri. Tapi apa mau dikata, ketika keinginan mengalahkan keharusan, peraturan pun dirabas. Berikut nama-nama pesepakbola yang juga menjadikan alkohol teman terbaik mereka:

George Best

Pesepakbola asal Irlandia Utara ini memiliki catatan karier cemerlang bersama Manchester United pada 1960-1974. Berposisi sebagai gelandang serang, Best tampil dalam 474 laga dan mencetak 181 gol. Di Old Trafford, Best sukses mengukir namanya di buku sejarah MU. Pencetak gol terbanyak Divisi Utama pada 1967-1968 tersebut memenangkan dua gelar juara Divisi Utama (1964-1965, 1966-1967) dan satu trofi Piala Eropa pada 1968. Dirinya pun ditasbihkan menjadi salah satu legenda MU dan salah satu pemakai jersey nomor 7 yang berhasil dari The Red Devils.

“Jenius” menjadi kata yang langsung bersarang di benak mantan pencari bakat MU, Bob Bishop, ketika dia pertama kali melihat Best menunjukkan permainan terbaiknya di Belfast. Ketika itu, Best masih remaja berusia 15 tahun. Tak berpikir panjang, Bishop langsung menghubungi manajer MU saat itu, Sir Matt Busby.

Dibalik prestasi mengkilapnya, Best dikenal sebagai flamboyan yang gemar mengkonsumsi alkohol dan suka ditemani wanita penghibur. Kehidupan malamnya hampir menyamai aktivitas harian Best untuk berlatih dan bertanding. Dia pun dikenal sebagai pemabuk yang konsisten.

Dengan seringnya Best mengkonsumsi alkohol, akhirnya ia mengalami kecanduan dan harus menjalani transplantasi hati di tahun 2002. Karena memang sudah kadung tidak bisa meninggalkan kebiasaan meminum alkohol, selepas operasi dirinya masih saja melakukan kebiasaan buruknya itu. Pada hari pertama di Oktober 2005, Best dilarikan ke Rumah Sakit Cromwell di London karena sindrom yang menyerupai flu.

Lima hari sebelum kematiannya, tepatnya pada 20 November 2005, ada sebuah foto yang dimintanya untuk dipublikasikan di News of The World. Foto itu menggambarkan dirinya terbaring di ranjang rumah sakit dengan peringatan bagi para peminum alkohol dengan tulisan, “Don’t die like me.”

Pada akhirnya, Best harus tutup usia di tahun 2005 saat usianya menginjak 59 tahun dengan sejumlah infeksi di organ tubuhnya.

Socrates

Di atas lapangan, Socrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira adalah gelandang tangguh, cerdas, dan visioner. Dia juga seorang pemain yang memiliki kemampuan baik dari kedua kakinya, pencetak gol yang produktif, dan digambarkan sebagai seorang pemain yang kasar pada masa Perang Dingin. Dia pun memiliki gerakan terkenal bernama “blind heel pass” (umpan tumit tanpa melihat).

Socrates adalah gelandang pengatur serangan dalam formasi W-M yang digunakan Brasil pada medio 1980-an. Sosoknya mudah dikenali karena posturnya yang tinggi menjulang dengan 192 sentimeter. Selain unggul duel udara, Socrates juga mudah dikenali karena tak menggunakan pelindung tulang kering.

Di luar sepakbola, Socrates merupakan dokter berkualifikasi dan memiliki izin praktek. Selain itu, pesepakbola yang lahir pada 19 Februari 1954 itu juga menyandang gelar PhD dalam bidang filsafat. Dirinya juga dikenal sebagai pribadi yang memerhatikan politik dan menunjang nilai-nilai demokrasi.

Walaupun Socrates menjadi dokter, tapi dirinya juga tetap seorang pemabuk yang gemar mengkonsumsi alkohol dan rokok hingga kecanduan. Akibatnya, ia sempat menjalani operasi transplantasi hati pada 2011. Sayang, tindakan itu tak bisa menyembuhkannya dari sakit. Di akhir 2011, Socrates akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.

Socrates memperkuat lima kesebelasan sepanjang kariernya: Botafogo, Corinthians, Fiorentina, Flamengo, dan Santos. Ia mengoleksi 60 caps bersama Brasil dan mencetak 22 gol. Angka tersebut terbilang fantastis buat seorang gelandang.

Diego Maradona

Legenda sepakola yang penuh bakat, sekaligus kontroversial. Itulah penggambaran dari seorang Maradona. Tubuhnya yang pendek dengan pusat gravitasi yang rendah memungkinkan dirinya melakukan sprint cepat sambil men-driblle bola. Maradona adalah pengatur serangan dan seorang yang bermain untuk timnya, selain itu dia juga mempunyai skill yang tinggi dalam menguasai bola.

Beberapa gerakan trademark Maradona di antaranya adalah melakukan sprint di daerah sayap dan kemudian mengirimkan umpan tarik kepada rekan setimnya. Lainnya adalah tendangan Rabona yang menyilangkan kaki berlawanan di belakang kaki yang menguasai bola untuk menendang bola. Ia juga dikenal sebagai pengambil tendangan bebas yang akurat dan mematikan. Maradona sebagian besar menggunakan kaki kirinya dalam permainannya, bahkan jika bola berada di sebelah kanannya.

Di luar semua kemampuan terbaik olah bolanya, Maradona punya beberapa catatan buruk yang berimbas efek negatitf terhadap dirinya. Mulai dari pro komunis, narkoba, seks, hingga pemabuk ulung pecinta alkohol.

Perkenalan Maradona dengan narkoba jenis kokain dimulai sejak dirinya bergabung dengan Barcelona setelah Piala Dunia 1982. Ia ditransfer dengan mahar 5 juta pounsterling dari Boca Juniors dan memecahkan rekor dunia pada saat itu. Tapi, kariernya di FC Barcelona mengalami beberapa kendala. Pertama adalah ketika Maradona divonis mengidap penyakit hepatitis, kemudian cedera engkel yang parah, menjadi provokator perkelahian massal dengan Athletic Bilbao, dan juga penggunaan kokain.

Selepas itu, Napoli membelinya. Harganya naik menjadi £6,9 juta. Lagi-lagi rekor dunia. Namun, kali ini Maradona mampu membayarnya dengan tuntas. Selama tujuh musim di Napoli, Maradona menjelma pahlawan. Dua gelar Serie A Italia, satu trofi Piala UEFA, dan satu Copa Italia adalah persembahan Maradona untuk Napoli. Tapi lagi-lagi Maradona membuat ulah. Suatu malam di bulan Januari 1991, dirinya kedapatan sedang berusaha secara diam-diam memesan dua pekerja seks dari seorang rekan mafia Neapolitan. Sontak hal itu menjadi sorotan media dan menambah keriki karir sang primadona.

Pada April di tahun yang sama, ditemukan jejak kokain dalam darah Maradona setelah dilakukan tes narkoba. Ia kemudian dilarang bermain sepak bola selama 15 bulan.

Maradona kemudian melarikan diri dari Italia menuju Argentina. Ia ditangkap aparat kepolisian karena kedapatan memiliki kokain. Polisi membawa dan menggelandang Maradona, yang saat itu berjalan sambil menangis. Pamornya pun menukik. Maradona sempat singgah semusim di Sevilla musim 1992-93, sebelum pulang kandang bersama Newell’s Old Boys pada 1993, dan Boca Juniors pada rentang 1995-97.

Di level timnas, karir Maradona terlihat berbeda. Piala Dunia Meksiko 1986 menjadi bukti paling sahih tatkala dirinya memberikan tangisan luar biasa kepada rakyat Inggris setelah menghempaskan Peter Shilton dkk di partai perempat final. Dua gol magis nya akan selalu diingat dunia. Setelah mencetak gol kontroversial lewat tangannya, “la mano de Dios” (tangan Tuhan), lima menit kemudian Maradona meraih status legenda dalam partai tersebut. Enam pemain dilewatinya seorang diri dengan 11 sentuhan kaki dan mencetak gol. Gol impian seluruh pemain sepakbola. Di Final, Argentina mengalahkan Jerman Barat. Berkat penampilan gemilang di Meksiko kala itu, banyak yang menyebut Piala Dunia 1986 diraih seorang Diego Maradona, bukan Argentina.

Maradona pensiun pada hari ulang tahunnya yang ke-37, tapi pemberitaan soal dirinya tidak pernah luntur. Sayangnya, berita yang muncul tidak bernada positif, seperti kasus penembakan terhadap wartawan, obesitas, atau masalah kecanduan alkohol yang membuatnya direhabilitasi hingga ke Kuba. Maradona juga harus melakukan dua kali operasi untuk menurunkan berat badannya akibat menjadi pemabuk.

Setelah itu, Maradona mencoba peruntungan karir sebagai pelatih. Beberapa klub pernah ia besut hingga menjadi pelatih Timnas Argentina. Tapi sayangnya, belum ada prestasi yang dihasilkan Maradona. Terakhir, pria yang kini berusia 59 tahun tersebut melatih klub Gimnasia de La Plata sejak 5 September 2019.

Paul Gascoigne

Gazza, panggilan akrab Gascoigne, lahir dan besar di Dunston, Gateshead, Inggris. Tak jauh dari markas salah satu klub raksasa di era 90’an, Newcastle United. Sejak kecil ia selalu memperhatikan dan mendengar gemuruh supporter Newcastle saat pertandingan berlangsung. Dan itu menjadi faktor besar dirinya ingin menjadi pemain bola kelak.

Pada usia ke-16, Gascoigne akhirnya masuk skuat Newcastle Junior. Dengan kemampuan yang sudah diasah dari usia yang lebih kecil, karir sepak bolanya melesat cepat. Manajer Newcastle saat itu, Jack Charlton melihat bakat Gascoigne dan menjadikan dia kapten tim muda Newcastle. Tidak lama berselang, Charlton kembali memercayainya masuk ke dalam tim utama. Pertandingan pertamanya saat itu melawan Wimbledon.

Kelihaiannya mengolah bola menarik minat klub besar Inggris. Bahkan Gascoigne menjadi rebutan Terry Venables, pelatih Tottenham Hotspur dengan Sir Alex Ferguson yang menukangi Manchester United. Akhirnya Gazza memilih pinangan Tottenham setelah Venables memberikan penawaran lebih menarik. Empat tahun bermain bersama The Lilywhites terus membuat skill Gazza menjadi hebat.

Manajer Inggris saat itu, Bobby Robson kemudian memanggil Gascoigne untuk masuk timnas. Robson mengaku terpukau atas kualitas dan karakter Gazza. Akhirnya pada 1990 Gascoigne sudah berseragam The Three Lions, dan ikut skuat tampil dalam Piala Dunia di Italia.

Walau hanya mengantar Inggris mencapai babak perempat final karena dikalahkan Jerman Barat, publik sepakbola dunia melihat kehebatan dari Gazza dan percaya bahwa telah lahir bintang baru dari Inggris. Ia pun membuktikan dengan meraih trofi Piala FA bersama Tottenham Hotspur.

Keadaan memang tidak selalu menyenangkan. Setelah mendapatkan cedera parah di pertandingan final piala FA, ia dimasukan dalam daftar jual Tottenham. Di tahun 1992, akhirnya Gazza dilego ke Lazio dan mulai mendapatkan masa suramnya disana. Ditambah, tidak lama setelah itu sepupunya meninggal dan membuat dirinya terpuruk serta mulai menjadi pecandu minuman beralkohol dan pemabuk berat.

Karir Gascoigne di Lazio hanya bertahan tiga tahun. Dia juga kembali mengalami cedera parah setelah dalam sesi latihan mendapat tekel keras dari Alessandro Nesta. Tahun 1995 klub asal Skotlandia, Rangers, meminangnya dengan mahar 4,3 juta Euro.

Banyak yang berpikir karirnya sudah habis, tapi tak disangka malahan dia kembali menemukan permainan terbaiknya. Bermain selama tiga tahun bersama Rangers, Gascoigne berhasil memberikan empat trofi; dua Divisi Premier Skotlandia, Piala Skotlandia, dan Piala Liga Skotlandia.

Setelah itu, pemain kelahiran 27 Mei 1967 memutuskan untuk pulang ke Inggris dan bergabung dengan Middlesbrough mulai dari tahun 1998. Disana, karirnya mulai menemui titik akhir sebelum pensiun di klub Boston United pada tahun 2004.

Gascoigen menjalani masa pensiun nya dengan buruk. Ia sering keluar masuk tempat rehabilitasi karena berada di kumpulan pemabuk. Hobi mabuknya membuat Gazza ‘penyakitan’. Ia bisa mabuk selama lima-enam kali dalam sepekan untuk mengusir kegalauannya. Dirinya juga pernah untuk memutuskan bunuh diri tapi tak berhasil.

Adriano

Adriano Leite, merupakan salah satu enigma terbesar dalam sepakbola abad ke-21. Dia disebut sebagai salah satu bakat terbaik dari Brazil yang pernah ada. Harusnya juga, ia mewarisi tahta dari Ronaldo sebagai striker terbaik Brasil di peralihan millennium. Tapi, kematian Ayahnya, kecanduannya terhadap alkohol dan kehidupan malam membuat hidupnya kini teramat memprihatinkan. Padahal mungkin, tidak pernah ada dibenaknya sedikit pun menjadi seorang pemabuk.

Adriano adalah pesepakbola bertalenta emas. Kariernya melesat sejak usia remaja. Pada usia 17 tahun, nama Adriano sudah tercantum dalam skuat utama Flamengo. Dua tahun kemudian, FC Internazionale Milan datang menyodorkan kontrak senilai 13 juta euro. Tanpa berpikir dua kali, Adriano menerima tawaran tersebut.

Awal karirnya di Inter tak berjalan mulus ketika ia berusia 19 tahun. Untuk perkembangannya, Adriano dipinjamkan ke Fiorentina di paruh kedua musim 2001/02, namun tak menunjukkan perkembangan signifikan hingga Inter menjualnya ke Parma.

Di Parma, Adriano memupuk skill nya dengan baik dan menunjukan potensi sebagai calon pemain hebat. Selama dua musim berkostum Parma (2002 sampai 2004) Adriano tampil dalam 33 pertandingan di semua ajang dengan torehan 23 gol. Melihat perkembangan pesat Adriano di Parma, Inter memutuskan memulangkan Adriano ke Giuseppe Meazza dengan mahar 23,4 juta euro.

Sinar kebintangannya lebih terpancar ketika bermain di Inter pada kesempatan kedua. Adriano turut membantu Inter meraih kejayaan, khususnya di pentas domestik. Ia berperan besar membawa Nerazzurri meraih scudetto empat musim beruntun (2006-2009), dua trofi Coppa Italia (2004/05 dan 2005/06) serta tiga gelar Supercoppa Italia (2005, 2006, 2008). Dari tahun 2004 hingga 2009, Adriano tampil dalam 115 pertandingan di semua ajang dan mencetak 47 gol untuk Inter.

Menjulangnya prestasi sejalan dengan kehidupan yang akhirnya bergelimang harta. Tapi, itu merupakan sebuah awal malapetaka yang akan dirasakan Adriano di kemudian hari. Ditambah, ia mengalami frustasi mendalam kala Ayahnya meninggal.

Akhirnya, ia sering keluar masuk klub malam untuk berpesta dan berkumpul dengan berkumpul dengan para pemabuk yang menjadi teman sejatinya. Pada 2006, ia sempat dua kali tertangkap berpesta di klub malam. Tak hanya itu, Adriano pun mulai kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang.

Kegemarannya menenggak alkohol dan keluar malam untuk berpesta malam membuat performanya di lapangan menurun. Inter pun menjadi berang. Pada pertengahan musim 2008/09, Inter sempat meminjamkan Adriano ke Sao Paulo untuk mengembalikan performanya. Namun usaha Inter tak membuahkan hasil.

Pada akhir musim 2008/09, Adriano pun dilepas ke Flamengo. Disana, lambat laun dia mengalami peningkatan. Selanjutnya pada 2010 di kembali ke Italia untuk memperkuat AS Roma. Tapi dia membuat keputusan yang salah karena Adriano kembali mengalami penurunan.

Hanya satu musim Adriano membela Roma. Pada 2011, ia kembali Brasil untuk memperkuat Corintians. Dari 2011 hingga 2016 perjalanan karier Adriano terus merosot. Kariernya terus menukik hingga berakhir di Amerika Serikat bersama Miami United. Setelah itu Adriano memutuskan kembali ke Brazil dan tinggal di favela, pemukiman padat penduduk di Rio de Janeiro.

Selain terkenal kumuh, wilayah tersebut pun memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi. Di sana, kehidupannya semakin parah. Kegemarannya terhadap alkohol dan kehidupan malam semakin menjadi. Adriano pun tercatat sebagai anggota Comando Vermelho (CV) – salah satu kelompok kriminal di sana. Ada foto yang tersebar luas saat dirinya mengangkat senjata api jenis AK47 bersama seseorang yang dicurigai anggota geng CV.

Alkohol memang menjadi biang keladi kehancuran karir Adriano, tapi dirinya sendiri juga yang bertanggung jawab penuh menyia-nyiakan bakatnya sebagai pesepakbola bertalenta emas dan penjadi pemabuk yang mengenaskan.

John Terry

Kualitas John Terry menjaga tembok pertahanan tidak perlu diragukan. Memiliki nama lengkap John George Terry, pria yang lahir 39 tahun lalu di Barking, London, mengawali karier sebagai pemain akademi West Ham United dan Chelsea. Terry bermain di tim utama Chelsea sejak tahun 1998. Terry pernah dipinjamkan ke Nottingham Forest pada tahun 2000.

Ia terpilih sebagai Bek Terbaik Klub UEFA pada tahun 2005, 2008, dan 2009. Ia terpilih juga sebagai anggota Tim Terbaik Dunia versi FIFPro selama empat musim berturut-turut dari 2005 sampai 2008. Terry juga terpilih sebagai satu-satunya pemain Inggris dalam Tim Terbaik Piala Dunia FIFA 2006.

Terry adalah kapten tersukses dalam sejarah Chelsea. Ia berhasil meraih lima gelar juara Liga Primer Inggris, empat gelar juara Piala FA, dua gelar juara Piala Liga Inggris, dua gelar juara Community Shield, satu gelar juara Liga Champions UEFA sebagai kapten klub tersebut.

Akan tetapi, ketika sudah bersentuhan dengan minuman beralkohol, karisma yang ditunjukkan Terry di lapangan hijau runtuh seketika dan berubah menjadi pemabuk ulung. Ketika dalam kondisi mabuk, Terry diketahui sempat buang air kecil di depan umum dan membuat keonaran semisal bertengkar dengan orang lain.

Bahkan, Terry sempat merayu seorang perempuan saat berada di kelab malam. Padahal, perempuan tersebut sedang bersama sang kekasih.