Ode Remaja Putus Cinta

Sementara cuaca di luar mendung mendukung, suhunya cocok betul guna menghabiskan waktu lebih lama di ranjang. Di sisi kasur selimut masih menggumpal dengan guling yang terlipat lusuh. Ironi sebenarnya ada di atas seprai beraksen bendera Liverpool, pemuda kelahiran 98 sedang membulatkan niat berangkat ke sumber nafkah. Naas, benaknya hari itu terbagi dengan problematika putus cinta.

Memang setengah mudah menjadi remaja, kepala 2 adalah momen terlabil yang harus di lewati. Permasalahan cinta bak permata terjal yang harus dipijak untuk sampai di pelabuhan bahagia, katanya dalam novel cinta. Sementara ngantor tetaplah kewajiban, bakal memenuhi cita-cita menjadi hipster ibu kota beranjak dari teras adalah keharusan.

Setidaknya bagi kalian yang hari ini menginjak tahun hidup yang ke-21, putus cinta bukanlah neraka. Kenangan, sentuhan hingga perhatian yang pernah ada agaknya sekedar torehan berwarna dalam jurnal hidup yang lembar kosongnya masih tebal menunggu di isi dengan peristiwa baru. Sebuah kitab nyata yang wajib di lafalkan kembali kelak pada waktunya.

Kembali ke permasalahan benak fikir, nyatanya tidak terlalu suram, mood yang jelek juga bukanlah penyakit kronis tanpa obat. Pergantian mindset lah yang harus dilakukan. Kantor sejatinya tempat bermain, dengan kolega seru yang senantiasa penuh dengan cerita baru.  Sementara pekerjaan adalah ayunan dan jungkat jungkit adalah simbol dinamika hidup.

Bercerita dan bertemu orang baru ialah obat mujarab, termenung sendiri di sudut gelap kamar nan pengap adalah perilaku cundang. Yang kelabu butuh warna, temaram butuh cahaya dan yang sepi butuh dampingan. Ini mungkin jadi momen tersosial sang remaja. Komunikasi haruslah tercipta guna menghapus duka lara dan ingatan-ingatan lama. Semoga cepat beranjak, semoga.

Oiya, di telinganya masih terkait handsfree. Jiwa fasih melafalkan bahana. Kidung Melankolia dari Efek Rumah Kaca masih terputar. “Nikmati lah saja ke gundahan ini. Segala denyutnya yang merobek sepi. Kelesuan ini jangan lekas, Aku menyelami sampai lelah hati.” bisiknya.