Ketika Nostagia Menjadi Penyakit Mengganggu

Sebenarnya tidak ada salahnya jika setiap insan mengumbar nostalgia di dalam feed media sosial mereka, lalu datang ke acara-acara yang band maupun disjokinya memutar playlist masa lalu, asalkan ini tidak menjadi senjata utama Anda di dalam perihal gairah kehidupan. Karena kalau seperti ini terus, kapan Anda akan majunya? Sedangkan kehidupan Anda saja dibuat mundur terus.

Sungguh mengasyikan jika kita memutar lagu-lagu era lalu yang romantis berirama melankolis, yang akan membawa pikiran kita sejenak beranjak ke masa lampau yang penuh keceriaan, kemurnian, maupun romansa-romansa yang terasa sangat membahagiakan, di mana getaran hebatnya menyentuh masuk menusuk kalbu dan dada. Dalam seketika perasaan pun akan terbawa ke tempat-tempat yang dirasa akan menjadi bagian dari cerita manis kehidupan kita di kala itut, yang tentu saja akan mengungkit masa-masa emas keindahan dekade remaja aku, kamu, dan mereka semua para pemuda pemudi masa lalu.

Namun jika Anda terus mengulang-ulang era itu di dalam keseharian, yang ada kita akan terus mundur terdorong hingga ke perosok pinggiran jurang ego sentris, di mana hal ini akan berpengaruh besar terhadap pola pikir masa sekarang Anda. Nanti sedikit-sedikit Anda akan selalu melakukan perbandingan, “kalau dulu saya begini, tidak seperti sekarang begitu.” Aduh, masa iya ujaran-ujaran basi tersebut akan menghiasi hari-hari Anda? Kasihan otak Anda yang masih encer tersebut jika sebentar-sebentar dikaitkan dengan apa yang telah Anda lakukan di zaman dahulu kala itu. Percayalah, mengikuti zaman adalah salah satu bentuk agar kita dapat tetap terus bertahan di dalam berkehidupan. Ini berlaku dalam segala aspek, baik di pekerjaan, lingkungan pergaulan, hingga ke masalah kepercayaan.

Sementara itu generasi Anda sudah menua, dan jumlahnya pun mulai berkurang, dan untuk tetap bisa berkompetisi secara sehat di dalam persaingan global pola pikir praktis dan pragmatis pun mulai memegang andil yang begitu besar, ada baiknya Anda tanggakan dulu cara berpikir yang sedikit sedikit nostalgia tersebut, dan sebentar-sebentar selalu flashback. Hei, bukankah hari ini harus lebih baik dari hari sebelumnya?