Nostalgia Masa Jaya Warnet

Pernahkah kalian dengan sadarnya rela menghabiskan berjam-jam waktu, berpuluh-puluh ribu uang saku hingga berbatang-batang rokok hanya untuk duduk anteng bermain game di kursi warnet? Jika jawabannya iya, artinya kita lahir di era yang sama. Era dimana warnet masih berjaya dan menjadi surga bagi remaja dengan berbagai game-game candunya. Mari mengingat kembali masa indah tersebut.

Awal dekade 2000 menjadi titik balik di mana game-game console yang sebelumnya didominasi Play Station tergusur pamornya oleh kemunculan berbagai game online yang dapat dimainkan lewat perangkat komputer yang terkoneksi dengan internet. Dengan grafis yang lebih memadai dari game console, experience baru nan canggih dan beragam jalan permainan baru, game online pun menjadi animo baru remaja di era milenium. Namun pada era tersebut komputer dan internet masih menjadi barang langka untuk dimiliki secara pribadi. Satu-satunya tempat dimana para remaja dapat memainkan game online adalah Warnet.

Warnet yang pada awal kemunculannya sebatas menyediakan jasa pengetikan dan print pun bergeser fungsinya menjadi game center. Lambat laun Warnet kian berkembang menjadi destinasi tempat hiburan terfavorit bagi para remaja yang ingin bermain menuntaskan candunya bermain game online.

Masa jaya Warnet sebagai ‘tempat nongkrong’ pun kian berlanjut seiring pesatnya perkembangan game-game online. Game online yang awalnya hanya Counter Strike, Audition, Ragnarok, Seal Online, dan Warcraft pun bertambah. Kemunculan game-game baru seperti Point Blank, Lost Saga, Luna Online, Rising Force Online, Crazy Cart hingga DOTA membuat semarak kejayaan tren Warnet semakin menjadi.

Tidak sebatas tempat nge-game, hadirnya platform-platform sosial media dan aplikasi perpesanan seperti Yahoo Massanger, Friendster, Facebook, dan Twitter pun membuat Warnet kian diserbu kawula muda. Masih mahalnya harga gawai seluler yang dapat terkoneksi dengan internet menjadikan Warnet satu-satunya sarana mengakses itu semua.

Namun era kejayaannya harus runtuh ketika berbagai alternatif smartphone murah, laptop dengan harga terjangkau dan berbagai penyedia jasa layanan internet hadir. Warnet tidak lagi dilirik dan mulai ditinggalkan pamornya. Berbagai developer game online pun beralih ke perangkat smartphone yang dinilai lebih efisien dan ramai pengguna. Masa jaya Warnet pun runtuh dengan sendirinya tergerus perkembangan teknologi.