Nada-Nada Ringan 90-an

Betapa mudahnya hidup orang-orang yang sempat mencecap kenikmatan hidup organik di masa 90-an. Hubungan harmonis kerap kali menghiasi berbagai cara komunikasi para manusia zaman itu.

Lagu-lagu anti pretensius yang apa adanya, anti jlimet, mengalir lancar tanpa beban harus terdengar ini itu. Seluruhnya berjalan alamiah, tidak ada yang mengarahkan, terjadi dengan pasrah, dan hampir semua berlangsung menyenangkan.

Berbagai musik pop rock yang lahir kala itu terasa begitu menyayat, dan benar-benar menggambarkan perasaan cinta para kawula yang sedang dihinggapi rasa romantisme nan luar biasa penuh bunga-bunga. Setiap karya yang muncul selalu disambut antusias yang menggembirakan dari khalayak.

Musik-musik a la Vertical Horizon, Better Than Ezra, Live, Soul Asylum, hingga ke Gin Blossoms, menusuk merasuk jiwa dengan indahnya. Mau jalan-jalan ke taman, mini market, pusat busana, jalanan yang menjual barang-barang bekas, sampai ke stasiun kereta, lagu-lagu mereka kerap bersenandung di Walkman muda-mudi.

Kita pun juga mengalami masa-masa di mana Ahmad Dhani dengan pasukan Dewa 19 nya sukses menjadi grup band yang paling mengharu biru mengisi kisah-kisah romansa pasukan putih abu masa itu.

Sekat-sekat asmara Melrose Place, Beverly Hills 90210, hingga Dawson Creek, adalah melodi memori yang akan selalu menakjubkan untuk dikenang. Pola kesederhanaan hidup era itu adalah kunci dari segalanya. Obrolan teman melalui telepon rumah selalu menarik untuk didengar hingga larut tiba, dan menulis diari berisikan kata-kata mutiara untuk si dia adalah penutup hari yang teristimewa.

Kami tidak memiliki YouTube, Facebook, Twitter, LinkedIn, apa lagi WhatsApp. Tapi mengapa yang pernah terjadi di dekade tersebut teramat sangat sulit untuk dilupakan bahkan tergantikan? Mungkin semesta sedang berusaha mengingatkan umatnya, bahwa pernah ada masa-masa tersebut, yang sebenarnya cukup patut untuk diulang lagi. Namun masalahnya, mungkinkah terulang kembali?