Kawasan Blok M sejak jaman dulu telah menjadi tempat yang lekat dengan kehidupan anak muda. Era 80-an hingga 90-an menjadi masa jaya kawasan di selatan Jakarta itu. Mulai restoran, hotel, dan tempat karaoke berjejer rapi memenuhi kebutuhan insan yang haus akan hiburan. Tak hanya itu, kawasan Blok M juga lekat dengan nuansa Jepang yang begitu kental. Sangat mudah ditemui tempat hiburan malam dengan konsep Jepang. Bahkan, Blok M kerap disebut dengan kawasan ‘Little Tokyo’-nya Jakarta. Lantas apa yang membuat fenomena tersebut terjadi?

Banyak kisah manis tercipta di Blok M, Jakarta Selatan. Kawasan ini memang telah dikenal sebagai tempatnya anak muda era 80 hingga 90an berkumpul. Jalan Melawai yang dijejali banyak pertokoan dan pusat hiburan juga tak bisa dilepaskan dari gemerlapnya Blok M. Fenomena ini pun menjadi inspirasi lagu milik Denny Malik yang berjudul ‘Jalan Sore’. 

Perkembangan Kawasan

Bila menilik sejarah, kawasan Blok M tercipta dari rancangan Belanda yang ingin membuat kawasan pemukiman dengan konsep taman. Sejak itulah berjejeran deretan Blok A-S pada tahun 1947. Hingga pada tahun 1962 ketika Indonesia menyelenggarakan Asian Games, kawasan Blok M menjadi terkenal karena ramainya daerah Senayan yang meluas.

Masa berikutnya, Blok M semakin dikenal karena menjadi salah satu pusat transportasi Ibu Kota. Disana juga terdapat terminal bus yang memuat berbagai trayek kendaraan umum di Jakarta. Tak ayal, terjadi banyak pembangunan besar-besaran di kawasan Blok M yang meliputi pemukiman dan fasilitas penunjang lainnya.

Melawai, Lokasi Legendaris Anak Nongkrong Jakarta - Page 21 | KASKUS
Kawasan Melawai tempo dulu. Sumber: Kaskus

Sampailah di Era 80an di mana mulai berjajar rapi berbagai tempat hiburan mulai dari restoran, mal, hingga tempat karaoke yang menjadi wadah berkumpulnya anak muda masa itu. Setidaknya ada 3 mal besar yang berada di kawasan Blok M yakni Pasaraya Blok M (kini menjadi kantor Gojek Indonesia), Aldiron Plaza, dan Plaza Blok M. Semakin berkembangnya Blok M kala itu juga mengundang hadirnya ekspatriat Jepang untuk tinggal di kawasan tersebut.

Hadirnya Ekspatriat Jepang

Era 80an hingga 90an juga diyakini menjadi momen datangnya ekspatriat Jepang di kawasan Blok M. Bersama jalan Melawai dan Kebayoran Baru, daerah ini menjadi semacam mes atau penginapan orang-orang Jepang. Bersamaan dengan itu, kedai-kedai makanan jepang juga ikut menjamur di kawasan tersebut.

Namun ekspatriat Jepang sempat teralihkan perhatiannya karena kawasan Aldiron Plaza berubah menjadi kawasan yang kini dikenal dengan Blok M Square. Perubahan ini sempat membuat sebagian orang Jepang yang menghuni kawasan Blok M berduyun-duyun pindah.

Ramen Little Tokyo Blok M - Ramen Near Me
Salah satu restoran Jepang di kawasan Blok M. Sumber: Ramen Near Me

Untuk menarik perhatian ekspatriat Jepang agar berkunjung ke kawasan Blok M kembali, para pengusaha tempat hiburan lantas mendirikan hiburan malam bernuansa Jepang yang terdiri dari karaoke, panti pijat, hingga klub malam yang lekat dengan nuansa negeri Sakura.

Tak hanya itu, untuk mempertahankan perhatian ekspatriat Jepang, banyak tempat hiburan yang menawarkan wanita yang bisa diajak tidur. Pemilihan wanita yang akan ditawarkan pun juga tak sembarangan, karena orang Jepang dikenal selektif ketika sedang melacur. Mereka dikenal menyukai wanita yang berpenampilan menarik dan bersih.

Selain kaya dengan hiburan malamnya, kawasan Blok M juga kerap mengadakan festival seni kebudayaan dan kuliner Jepang bertajuk ‘Little Tokyo’. Festival ini diramaikan dengan berbagai penjaja makanan dan pernak pernik khas negeri Sakura. Gelaran ini juga dilengkapi dengan pertunjukkan hiburan seperti musik dan cosplay.

Kredit foto: Qraved