Mendulang Rupiah Melalui Barang Seken

Di acara Urban Sneaker Society dan Lapak Loka tahun ini, para pemburu sandang bekas dan barang seken bertebaran mencari harta karun versi mereka. Antusiasme penuh gairah menyelimuti dua kegiatan keren dan bermanfaat tersebut.

Secara konten mereka terlihat seragam dalam menawarkan pilihan barang yang dijual. Namun jika diteliti lebih mendalam lagi, masing-masing pegiat yang turut serta dalam event Urban Sneaker Society dan Pasar Loka tahun ini memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Urban Sneaker tentu saja sebagian besar concern-nya ada di sepatu, sementara Pasar Loka, agak sedikit ke thrift market.

Ada yang fokus di sweater seken, band t-shirt bekas, lalu merek-merek kultus di masa lalu yang masih mendapatkan singgasana teratas dalam hal fashion seperti Stussy, Fido Dido, Benetton, Nike, dan New Balance. Lalu ada beberapa lagi yang paripurna sebagai penjual jaket bekas.

Sean Wotherspoon sebagai sesepuh pejuang barang bekas kelas internasional, selain sebagai salah satu pemberi pengaruh fashion terhebat abad ini, juga meluangkan waktu sempitnya untuk helatan Urban Sneaker Society tahun ini.

Berlangsung di District 8 SCBD Jakarta Selatan, pameran itu menghadirkan koleksi ekslusif mulai dari sepatu Compass, Patta, hingga G-Shock. Sekedar info, Compass merupakan produk sepatu lokal yang sekarang sangat digilai muda mudi, di mana mereka rela menginap demi mendapatkan salah satu collectible items-nya, dan telah hadir di Indonesia sejak 1998.

Di kegiatan yang disesaki para pemburu fashion terkini maupun pencari sandang yang sempat tren di masa lalu tersebut, juga mempersembahkan kolaborasi sneakers seperti FR2, Atmos, Public Culture, dan Round 2 Sean Wotherspoon.

Sementara dalam acara Lapak Loka yang berlangsung 16 & 17 November kemarin di gedung AD Premier TB Simatupang Jakarta Selatan, perhelatan yang kontennya cukup terfokus terhadap kegiatan thrift ini lumayan menyegarkan mata dengan menyajikan macam-macam pilihan pakaian seken berkelas. Misal kehadiran merek Ellesse Windrunner yang lekat dengan generasi MTV dekade 80-an di beberapa booth partisipan, nampak mencuat seksi mengundang perhatian kami yang memang punya concern tertentu terhadap brand-brand fashion nomor satu di masa lalu.

Setelah menyempatkan diri ngobrol dengan beberapa store, terbersit pemikiran bahwa industri barang seken ini akan semakin menuai hasil gemilang dari tahun ke tahunnya. Untuk Anda ketahui, bisnis ini sudah ada sejak era 90-an. Di bandung terpusat di Cimol (akronim dari Cibadak Mol, salah satu nama jalan di kawasan Pecinan, China Town-nya Kota Kembang) yang memulai perjalanannya di akhir tahun 1995, dan akhirnya tergusur di mana mereka mengungsi ke wilayah Pasar Gedebage Bandung Timur. Lalu untuk Jakarta sendiri tersentralisasi di Pasar Senen Jakarta Pusat. Di mana bal-balannya (istilah kumpulan baju bekas yang sudah dikarungi) sudah terikat tegas dalam karung sejak berada di kapal pengangkutnya yang berlabuh di Pelabuhan akhir Tanjung Priok.

Konon menurut sesumbar para pemain lama, karung-karungan ini merupakan barang-barang yang berasal dari negara utama yang niat awalnya adalah untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan di negara ketiga. Namun jika dilihat dari perkembangannya sekarang, yang mana barang-barangnya semakin terlihat jelas terkurasi, mitos tersebut lambat laun kian bergeser nilai kepercayaannya.

Jika sebuah industri sudah berlangsung melewati angka 20 tahun, biasanya bisnis tersebut akan kekal. Semoga.

Image: @sean_wotherspoon