Pada Akhirnya Semua Harus Berdamai Dengan Corona

Sudah dua bulan lebih Indonesia terinfeksi virus corona. Sepanjang periode inilah semua orang di Republik ini harus mengalah dengan ganasnya virus yang menjadi pandemi ini. Sampai hari ini, belasan ribu orang telah terinfeksi Covid-19 dan ribuan di antaranya meninggal dunia. Negara yang seharusnya hadir sebagai juru penyelamat malah terkesan tak begitu serius menangani pandemi Covid-19. Meski berbagai kebijakan telah dibuat, hasilnya tak begitu berdampak dan semakin menyengsarakan masyarakat. Bahkan, orang nomor 1 di Republik ini sudah menyarankan agar semua orang bisa berdamai dengan virus corona. 

Sejak Presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama Covid-19 di tanah air Maret silam, sampai detik ini kasus positif corona masih terus bertambah. Angka penambahannya pun masih stabil dan belum ada tanda-tanda penurunan. Terhitung sebanyak 18.496 kasus positif telah terkonfirmasi dan 1.221 orang di antaranya telah meninggal dunia. Perolehan ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara Asia dengan kasus corona terbanyak.

Data di atas sebenarnya membuktikan bahwa Indonesia masih belum terbebas dari virus corona. Masih banyak penularan yang terjadi di tengah masyarakat. Berbagai faktor pendukung memiliki andil besar pada masifnya penyebaran virus corona di tanah air.

Kesadaran Masyarakat yang Tak Kunjung Hadir

Ada anggapan bahwa garda terdepan melawan Covid-19 adalah para tenaga medis. Mereka para dokter, perawat, petugas rumah sakit hingga pengantar jenazah pasien adalah orang-orang yang harus berhadapan langsung dengan virus corona. Tetapi izinkan saya berpendapat lain. Garda terdepan bukanlah mereka para tenaga medis, namun kita semua masyarakat yang memiliki kewajiban untuk mengikuti anjuran dalam melawan virus ini.

Tagar #IndonesiaTerserah mungkin jadi gambaran paling jelas untuk masyarakat Indonesia saat ini. Betapa tidak, sebagian orang masih saja tak mengikuti berbagai imbauan untuk tetap beraktivitas di rumah ataupun menjaga jarak saat berada di keramaian. Peristiwa Mcd Sarinah dan Bandara Soekarno Hatta beberapa hari yang lalu adalah cerminan betapa egoisnya sebagian masyarakat tak mengindahkan protokol pencegahan virus corona.

Mereka dengan mudahnya melanggar kodrat yang sudah berjalan selama dua bulan terakhir. Tenaga medis jelas menjadi pihak yang paling dirugikan dengan kurangnya kesadaran masyarakat. Mereka sudah cukup menderita dengan mengalami berbagai penolakan dari orang terdekatnya, kini tenaga medis memiliki beban yang lebih berat untuk melawan virus corona. Padahal, banyak dari mereka yang sudah berguguran karena ganasnya pandemi tersebut.

Kebijakan Pemerintah yang Tak Jelas Arahnya

Perilaku masyarakat tadi sebenarnya juga bukan tanpa alasan. Sebagian dari masyarakat harus tetap menyambung hidupnya. “Tak kerja, maka tak makan”, adalah paham yang menggambarkan nasib mereka yang terdampak virus corona. Para pekerja harian seperti penjaja makanan, pengemudi ojek online, dan pekerja informal lainnya jelas gigit jari selama virus corona mewabah.

Sebenarnya dampak dari Covid-19 bisa ditekan bila ditangani dengan cepat. Maaf bila saya terkesan mengkritik pemerintah, karena memang ingin. Gemas rasanya bila melihat pemberitaan mengenai kinerja pemerintah pusat saat ini. Hampir setiap harinya para pejabat terus membuat para warganya kesal dan terus dirundung ketidakpastian.

Bagaimana tidak, sejak awal virus corona hadir di Republik ini, pemerintah terkesan kurang cekatan dalam menangani penyakit yang menjadi pandemi tersebut. Malah sebagian pejabat terkesan meremehkan dan tidak menganggap serius wabah yang satu ini.

Hingga akhirnya Presiden Jokowi mengumumkan kasus pertama, pemerintah tampak tak memiliki ide untuk menangani virus corona. Parahnya lagi, pemerintah terkesan lambat dalam mengambil kebijakan. PSBB sebagai kebijakan penumpas corona baru dilakukan satu bulan lebih setelah kasus positif pertama diumumkan. Padahal salah satu resep jitu untuk menangani virus corona adalah penanganan yang cepat. 

Vietnam bisa menjadi satu contoh negara yang mampu menangani virus corona. Sampai hari ini, Vietnam hanya mencatat ratusan kasus positif. Hebatnya, tak ada angka kematian akibat Covid-19 di negara itu. Padahal Vietnam memiliki perbatasan langsung dengan China.

Kembali ke Indonesia, kebijakan PSBB yang dilakukan bisa dibilang tak begitu berpengaruh untuk menekan penyebaran Covid-19. Banyak dari masyarakat yang masih keluar rumah dan berkerumun di pusat keramaian. Tak adanya ketegasan pemerintah jelas menjadi pemicu, padahal karakter masyarakat kita sangat membutuhkan ketegasan untuk tunduk pada aturan.

Selain itu, pemerintah bisa dibilang tak hadir dalam membantu kesulitan masyarakat. Program bantuan yang diberikan dinilai kurang cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sudah tak cukup, untuk mendapatkannya pun masyarakat masih dihadapkan birokrasi berbelit-belit khas pemerintah.

Malahan, pemerintah melalui Presiden Jokowi mengumumkan akan menaikkan lagi iuran BPJS Kesehatan. Yang katanya untuk mengatasi kesulitan keuangan yang dihadapi oleh perusahaan. Jelas, kebijakan ini menambahkan beban masyarakat yang sebelumnya harus menerima kenyataan bila penghasilannya berkurang.

Kebijakan setengah hati pemerintah juga diperparah dengan sikap para pejabatnya. Di parlemen, DPR diam-diam mengesahkan UU Minerba (Pertambangan Mineral dan Batubara) di tengah pandemi. Padahal undang-undang ini ramai dikritik karena tak berpihak pada rakyat kecil. Selain itu, kegiatan MPR yang melaksanakan konser amal beberapa hari lalu juga ikut mendapat kritik karena tak mengindahkan imbauan jaga jarak. Kedua hal ini bisa menjadi gambaran betapa pejabat belum peka pada kesulitan yang dialami masyarakat.

Mungkin yang bisa dilakukan adalah mencoba berdamai dengan virus corona seperti ucapan Pak Jokowi. Menerima kenyataan bahwa kita harus hidup di tengah pandemi dan tak didukung serius oleh negara yang terus alpa untuk menyelamatkan warganya. Semoga kita semua dapat melewati pandemi ini dengan selamat.