Cara Jepang Mengoperasikan Industri Hiburan Malam di Tengah Pandemi

Cara Jepang Mengoperasikan Industri Hiburan Malam di Tengah Pandemi

Beberapa waktu ke belakang, sempat ramai pemberitaan mengenai para pekerja industri hiburan malam yang menuntut pemangku kebijakan untuk memperbolehkan bisnis hiburan malam kembali beroperasi. Praktis sejak pandemi melanda, penghasilan mereka yang mengadu nasib di industri tersebut terpaksa berhenti mengalir. Melihat fenomena ini, pemerintah dihadapkan dua persoalan, apakah memprioritaskan kesehatan atau aspek ekonomi. Namun untuk mencapai keduanya, pemerintah Indonesia harus berkaca pada Jepang yang tetap menjalankan industri hiburan malam di masa pandemi.

Pandemi membuat beberapa sektor industri menghentikan operasionalnya, tak terkecuali industri hiburan malam. Sektor yang satu ini dianggap sangat berpotensi untuk menjadi pusat penularan bila terus dioperasikan. Bar, karaoke, hingga spa terpaksa menutup operasional berbulan-bulan lamanya karena pandemi. Kini para pekerja hiburan malam pun mulai merana dan sangat membutuhkan penghasilan seperti sedia kala.

Jepang sebagai negara yang cukup terkenal dunia malamnya ikut merasakan akibatnya. Untuk mengurangi dampak pandemi, pelaku industri di negara Sakura telah menetapkan standar kesehatan yang ketat. Distrik Shinjuku di kota Tokyo menjadi salah satu daerah yang menerapkan protokol kesehatan dengan melarang pengunjung berciuman, berbagi alat makan, dan menjaga jarak saat berinteraksi guna menekan kontaminasi droplet (air liur).

“Sebisa mungkin mereka (pengunjung) hanya berciuman dengan pasangan dan hindari ciuman yang dalam,” ujar Shinya Iwamuro, seorang ahli urologi dan kesehatan masyarakat dilansir dari Reuters.

Sebelumnyai kawasan hiburan malam Tokyo disinyalir menjadi klaster penyebaran Covid-19 di Jepang. Pasien positif dikabarkan didominasi oleh usia 20 hingga 30-an. Peningkatan kasus tersebut mendorong Gubernur Tokyo Yuriko Koike untuk meningkatkan peringatan kota ke level “merah” pada 15 Juli lalu.

Kondisi tersebut sempat membuat pemerintah Jepang mempertimbangkan untuk melakukan tes secara intensif di kawasan hiburan malam. Kepala Strategis Kabinet, Yoshide Suga telah mengonfirmasi bahwa akan ada banyak pemeriksaan terkait Covid-19 pada kawasan hiburan malam.

Namun fokus terhadap hiburan malam tersebut memancing protes dari berbagai kalangan. Tetap beroperasinya hiburan malam dijadikan kambing hitam penyebab tingginya kasus Covid-19 di Jepang.

Ultimate Shinjuku Nightlife Guide - Japan Web Magazine
Distrik Shinjuku, kawasan industri hiburan malam Jepang. Sumber: Japan Web Magazine

“Tidak ada bedanya antara bekerja di malam hari ataupun siang hari. Strategi untuk mengurangi infeksi antara manusia tetaplah sama,” kata Mayasuki Saijo, Direktur Virologi di National Institute of Infectious Diseases.

Sementara pendapat lainnya juga datang dari Wakil Direktur Asosiasi Bisnis Kehidupan Malam Jepang, Kaori Kohga. Dirinya menyampaikan bila industri hiburan malam telah menyerap banyak pekerja, terutama ibu tunggal. Terhitung setidaknya lebih dari satu juta orang bergantung pada bisnis ini.

Kohga juga mengakui bila pelaku industri hiburan malam telah mengikuti anjuran pemerintah untuk menerapkan protokol kesehatan. Pemakaian masker dan menjaga jarak telah dilakukan sebagai standar. Bahkan Kohga juga menyiapkan peraturan lain bagi pekerjanya untuk mendisinfeksi mikrofon karaoke.

Meski mendapatkan tekanan dari segala arah, industri hiburan malam di Jepang tetap beroperasi. Dengan terus menerapkan protokol kesehatan, pekerja tetap mendapatkan penghasilan untuk terus hidup melawan pandemi.

Kredit foto: All About Japan

Share this article :
Vantage Banner Ads