Melamunkan Trainspotting : Putaw Yang Kumau

Filmnya mematikan banyak orang dalam artian sebenarnya. Mengapa? Puluhan ribu muda mudi yang besar di era 90-an dan jatuh cinta terhadap film ini, sebagian besar tewas mengenaskan akibat terpengaruh konten super buas yang terpapar dalam keganasan jalan cerita Trainspotting. Sementara itu, lagu-lagu pengiringnya sukses menjadi teman lamunan terbaik pada dekade tersebut.

Masih merekat erat di ingatan bagaimana terjadi pertumbangan masal pada era tengah 90, di mana kawan dan saudara terhipnotis pesona gairah narkotika yang menjuntai keji sepanjang film Trainspotting berlangsung. Mungkin itu adalah 1 jam 35 menit terbaik sekaligus paling rusak dalam sejarah hidup mereka. 90% takdir mereka setelah menonton karya ini adalah tragedi.

Musibah masal menerpa generasi tanpa rekam jejak tersebut, berkat faktor salahnya pengaplikasian dari makna sebuah film. Trainspotting dianggap sesuatu yang kultus. Dingin. Padahal yang dimaksud dari karya ini adalah metoda pembelajaran: bagaimana cara cepat bangkit dari keterpurukan sebagai seorang junkie. Akan tetapi kawula muda mengimplementasikannya sebagai: bagaimana seharusnya menjadi seorang junkie. Gagal paham total.

Keteledoran Renton, kegoblokan Spud, kegaduhan Sick Boy, dan kesadisan Begbie, menjadi nilai-nilai intoleran yang dijunjung tinggi para penggemarnya. Padahal sosok-sosok bebal tersebut sedang belajar hidup di dalam film karya Danny Boyle, sutradara kawakan berilmu panjang sumber inspirasi lintas generasi para awak industri layar perak dimanapun berada. Namun yang dimaknai oleh generasi Cobainizm ini adalah: Trainspotting merupakan rantai organik dalam menyambung hidup. Dianggapnya film ini adalah senyawa karbo penghasil darah. Hasilnya? 90% yang penjiwaaannya agak kental, menjadi zombie. Dan peraduannya pun berakhir di peti mati. Tragis.

mark renton putaw trainspotting

Barang di rumah ledis. Uang tabungan hangus. Keluarga ikut-kutan sakit jiwa. Masa iya tabung gas bisa dibarter putaw. Yang benar saja, kulkas dan alat penanak nasi ditenteng sepanjang gang demi mencecap kebahagiaan sang ampas kokain? Apakah setelah menonton filmnya mereka terlalui memaknai “Lust For Life” Iggy Pop yang menjadi soundtrack nya? Atau mereka tidak mau mendengarkan pesan Bernard Sumner dalam “Temptation” New Order, yang menjadi antitesis “Born Slippy” Underworld.

Akhirnya kekacauan ini berakhir juga di di dasawarsa Lord Of The Rings, Harry Potter dan Pirates Of The Caribbean berbagi jati diri dengan generasi sesudahnya. Imbuhan-imbuhan kebaikan tersalurkan dengan rapi. Sehingga terjadi peralihan pola pikir yang simultan terhadap penokohan sosok tiru fiktif namun ideal secara benar. Dan tanpa perlu kita pikirkan mendalam maupun matematis, unsur-unsur itu memompa bawah sadar untuk berpikir bahwasanya berbuat baik itu ada di segala zaman. Lalu penokohan karakter baik itu memang diperlukan untuk mengembalikan dunia kembali menjadi normal. Entah itu saat miliaran penyihir dan bangsa serigala hidup rukun di masa lalu, atau ketika ratusan ribu pasukan dedemit berjibaku melawan karakter baik.

Kebaikan mutlak dijadikan sebagai pedoman yang harus selalu berada di atas angin. Semesta pun diciptakan untuk selalu berpihak terhadap pola ini. Sehingga membuat mereka solid, dan mampu memengaruhi keburukan seperti fenomena putaw yang kumau tergerus hancur menceburkan sekaligus melenyapkan diri, hingga hinggap di dasar yang paling buruk dari yang terburuk tempat pembuangan akhir ampas-ampas kutukan terjahat di segala masa.

Trainspotting menghabisi satu generasi.