Masih Mau Membedakan Status Ekonomi Dari Jenis Rokok?

Jika Anda salah satu manusia yang menganggap perokok kretek adalah kelas rendah, perokok SKM kelas menengah dan perokok SPM atau rokok putih adalah kelas atas, maka ketahuilah jika persepsi Anda menyedihkan dan nampak harus segera diakhiri. Pilihan rokok ada pada rasanya dan tidak bisa dijadikan patokan kelas, wahai para dungu.

Banyak orang masih berpikiran sempit, mengkategorikan strata ekonomi dari jenis rokok yang dihisap. Entah darimana persepsi buntu itu muncul. Sangat tidak nyaman tentu di-judge berdasarkan jenis rokoknya. Begitu aneh dan tidak masuk akal kedengarannya.

Penasaran hinggap ke bagaimana persepsi tersebut bisa hadir. Ada banyak alasannya ternyata. Mulai dari anggapan rokok kretek terlalu tradisional dari cara pembuatan yang masih menggunakan tangan hingga penyajiaannya yang hanya menggunakan bungkus kertas tanpa frame. Dibanding, rokok SGP atau rokok putih yang lebih berkelas, higienis serta modern pada proses produksinya karena menggunakan teknologi termutakhir yang menghasilkan produk berkualitas. Hingga yang paling masuk akal, pemikiran tersebut mungkin lahir dari selisih harga rokok putih dengan rokok kretek yang terpaut cukup jauh. Hari ini rokok putih “merk premium” seperti Marlboro, Camel atau Lucky Strike memiliki range harga pada kisaran Rp.25.000 – Rp.32.000 sementara rokok kretek merek terkemuka seperti Dji Sam Soe dan Djarum Cokelat hanya dibandrol dengan harga Rp.14.000 – Rp.21.000.

Namun selisih harga dan cara produksi tetap tidak masuk akal jika dijadikan indikator yang mendukung pikiran salah tersebut. Pilihan rokok dasarnya merupakan masalah selera pribadi yang relatif dan tidak bisa dipukul rata, bukan? Lantas mengapa masih saja berfikiran sempit seperti itu?