Lo Alay Anjir!

Mari sejenak mundur ke medio 2000-an akhir, kala pria yang sebagian besar hobi mengunyah obat anti depresi basi dengan gaya rambut poni lempar dan style emo, berfoto dengan pengambilan sudut kamera birdeye. Sementara itu, para perempuan yang haus kenarsisan, dengan poni rata tebal dan pose tangan di pipi, plus ekspresi duck face, menjadi gaya andalan medio itu. Jangan lupakan, bersatunya huruf dan angka pada satu kata di setiap teks yang dikirim terhadap teman sejawat. Jika anda merasa pernah melakukannya, tenang, semua pernah alay.

Ada kala manusia yang bermain di ranah digital dengan bangganya menjentikan jari kala menulis padanan kata yang berisi angka dan huruf hingga menghasilkan frasa “m4b0k l4h di h0uz w” kala mengajak temannya minum di malam hari. Sungguh kampseupai. Ada juga yang dengan vokalnya menuliskan “I’m so gay today” hingga menjadi cemohan masa di 10 tahun kemudian. Padahal mau pro LGBT atau dia memang homo sekalipun, apa urusan elo, Njing.

Arsip foto dan video juga memalukan jika dibahas sekarang. Gaya rambut dan busana yang diadopsi pada masa itu pun terbilang norak. Tapi tenang, lemparkan saja sumber masalah itu ke Ariel Peterpan berserta geng pop melayu basi lain nya. Karena sesungguhnya mereka dan jiwa rapuh kalian lah, yang bertanggung jawab atas fenomena kejelekan super mampus ini.

Era suram cara berbusana para publik figur yang menjijikan dan tidak memiliki gaya yang menggugah selera ini nyatanya memang rajin mondar-mandir di media mainstream. Semisal penampakan jaket Rollink Charlie ST12 yang teramat katro dan sangat berpotensi menuai hujatan para Fashion Police.

Namun di masa ini sebagian orang sadar betul untuk memprivasikan foto dan post aib masa lalu mereka, lalu membuatnya tidak dapat dilihat publik. Sayangnya sebagian besar belum mampu menahan rasa malu kala bukti empirik kealayannya ditemukan oleh teman masa kininya. Belum lagi di saat ulang tahun, di mana momentum tersadis berlangsung, foto-foto alay bertebaran di timeline, dan hal tersebut dijadikan cemoohan oleh para teman dekatnya seharian. Tradisi aneh, yang cenderung menjurus ke pembulian. Ngntot.

Perkembangan tren adalah induk kata alay. Setiap era memiliki umurnya masing-masing, jika sampai pada titik kebosanan, tren lama akan ditinggalkan hingga menjadi minoritas. Teori sederhananya seperti itu. Usainya semua berpindah kearah stereotip baru yang lebih segar nan modern untuk diadopsi. Adanya media sosial semacam jadi pelumas ejakulasi berkehidupan yang mempercepat gerak laju sebuah tren ke arah titik jenuh. Hingga semestinya tidak perlu terjadi pengulangan tren yang sebenarnya sudah terbunuh hanyut terbawa dera nista bara dajal kebanggaan neraka.

Alay juga berkaitan dengan kedewasaan dan eksistensi, semakin dewasa pengguna media sosial tentunya akan lebih membatasi diri dalam membagikan sesuatu. Namun masih saja ada pria maupun wanita dewasa, atau lebih enaknya kita sebut saja orang-orang ini Gadun dan Mamih, yang katro dalam berbagi info. Mereka ini termasuk ke dalam populasi Alay Purba. Harusnya Eksistensi para dewasa di sosial media akan semakin berkurang dan kian selektif dalam membagikan suatu momen ataupun konten. Namun kolektif entitas usia senja ini tetap saja ada. Ganggu, sih, tapi ya mau bagaimana lagi.

Tidak ada yang salah dengan apa yang dibagikan di masa lampau. Toh sejatinya peran media sosial adalah tempat berbagi segala keluh kesah, mulai dari momen hingga tempat pamer. Media sosial tak ubahnya bak diari pribadi yang dengan sengaja kalian bagikan pada beberapa orang yang dipilih sendiri. Namun ada baiknya lebih bijak bersosial media sedari dini, sebab jejak digital akan abadi tersimpan hingga masa ini. Nanti yang ada Anda malah terjerembab ke dalam hutan ‘kemiskinan’ ide dalam bermedia sosial. Karena lebih banyak foto jeleknya, serta perbendaharaan ujaran tanpa manfaatnya, yang akan membuat Anda akan terlihat sangat miskin di mata sanak kolega.