Lepeh New Wave di Ujung Kuping Milenial

Lantun tembang Secukupnya dari Hindia kencang diputar. Sementara 5 remaja usia seperempat abad setengah fasih melafalkan liriknya. Tak lama berselang satu dari 6 remaja merebut kendali putar, di mainkan nya lah Domino Dancing karya Pet Shop Boys. Seketika satu tongkrongan pun satu suara menghardik si pengacau tren. Narasi tersebut non-fiksi, kejadian nya nyata adanya. Usainya jadi bahan pikiran bertajuk, bagaimana New Wave di mata milenial hari ini?

Hadir nya di awal 80-an bak terjangan ombang yang begitu dahsyat menghantam karang kultus punk yang kokoh bertender di tepi pop-culture. Alunan provokator dansa, tempo cepat berlapisan synthesizer, dan padatnya dentum bass jadi tanda pengenalnya. Kala itu sebutan post-punk dan synth-pop­ jadi alternatif pengalihan, dan para purist masih memaksa The Velvet Underground pionirnya, meski saut-saut nya terdengar lebih proto-punk. Sudahlah, beberapa dari milenial tidak begitu tertarik dengan pembicaraan sejarah dan celoteh snob teman seumuran mereka.

Bagi beberapa manusia yang lahir di medio 90-an akhir, senandung Bizzare Love Triangle yang senantiasa diputar di akhir pesta sebatas pengiring tarian, Video Killed The Radio Star milik The Buggles sayup-sayup terkenang dan manis Take On Me aransemen A-ha hanya mengundang kembali ingatan pada musik latar Deadpool 2. Ceria dengung New Wave terbatas pada karya sinema dan nada-nada danceable yang telah ada berada di ujung titik lupa, atau bahkan tidak tahu.

Sakti melodi Depeche Mode, Joy Divison, Duran Duran, The Human League hingga Pet Shop Boys tidak lagi dijadikan santapan, atau bahkan dilirik. Digdayanya dilepeh mentah-mentah ketika kidung nya baru terputar 15 detik. Sedangkan musisi lokal lebih diterima, Disko Darurat milik The Upstairs adalah anthem yang pernah meraja dan masih jadi primadona, Rocket Ship Goes By dari Goodnight Electric untuk segi intensitas dansa sedang dan M.A.T.E.L kreasi Kubik untuk pengiring bahagia ria setengah hari.

Tulisan ini murni subjektif, isinya murni opini pada pemandangan sehari-hari dan lingkungan muda-mudi pusat Jakarta. Fokusnya ada pada titik dimana sebuah genre tidak lagi pada golden era dan masa jayanya. New Wave tidak sepenuhnya mati, dengung ria dan nada-nadanya abadi mengundang dansa.