Langkah Panjang Nadiem Makarim dan Wishnutama

Deretan pencari berita dengan kamera, buku catatan, dan bolpoin telah memadati pelataran Istana Negara. Para penyelenggara negara satu per satu turun dari mobil mewah tumpangannya. Wajah heran para pewarta terlihat jelas di tengah terik pelataran. Hari itu kabinet baru penuh harapan ditentukan, kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024. Nama-nama dibacakan, beberapa dari Bapak dan Ibu pembantu Presiden tersenyum sumringah menyambut shutter para buruh pena. Diantara semua, dua nama patut jadi perhatian: Nadiem Makarim dan Wishnutama.

Besarnya keputusan yang dibuat sepadan betul dengan nilai tanggung jawab yang akan diemban. Lima tahun akan dijalani dengan berbagai bara dan rintangan. Di luar pagar Istana berjuta pasang mata menyaksikan. Para rakyat, yang di tengah sanubarinya terselip harapan tapi memiliki pertanyaan besar, mungkin bertanya-tanya akan seperti apa keputusan yang dibuat para Menteri ini nantinya? Jika masalah pantas atau tidaknya, kredibel atau cocoknya para menteri tentunya menjadi tanggung jawab langsung paduka raja, masih ada hak terlihat sembrono bernama reshuffle. Para sipil hanya titip harapan dan keinginan sejahtera.

Kembali ke dua nama yang menjadi rangkain kejutan perjalanan negeri ini dan masuk perhatian masyarakat luas, Nadiem Makarim dan Wishnutama. Keduanya memang bukan nama-nama asing. Latar belakang mereka berbeda namun keduanya memiliki dampak dan hasil kerja yang menjanjikan pada korporat tempat mereka bernaung. Sejauh ini Nadiem cukup berhasil pada perusahaan transportasi decacorn nya, Gojek. Sedangkan Wishnutama pernah hadir dengan ‘televisi masa kini’ yang merangkul para milenial dengan konten program out of the box nya, Net Mediatama. Sedikit kita lebih dalam pada sepak terjang mereka berdua.

1. Nadiem Makarim

Nama Nadiem Makarim mencuat ke pemberitaan usai pada 2010 perusahaan transportasi berbasis digitalnya dirilis ke publik. Gojek yang merupakan ojek online menjadi cukup kontroversial usai beberapa wilayah melarang penggunaan aplikasi daring karena dinilai merugikan pengendara ojek konvensional yang penghasilannya menurun. Seiring berjalan nya waktu dan sosialisasi yang mumpuni plus kontiniti, Nadiem dan tim berhasil menjadikan Gojek sebagai alternatif transportasi yang dapat diterima di tengah beringasnya badai kemacetan kota yang tidak terbendung.

Latar belakang pendidikan pria yang memiliki nama lengkap Nadiem Anwar Makarim ini juga tidak lah main-main. Pria kelahiran 1984 tersebut berkelana jauh ke negeri Paman Sam dan berhasil menyelesaikan pendidikan Strata satu nya di Brown University, US. Selepas itu Nadiem melanjutkan pendidikan pasca-sarjana di kampus maha bergengsi Harvard Business School dan selesai dengan gelar Master of Business Administration.

Usai meraih gelar, Nadiem sempat menjabat sebagai konsultan di McKinsey & Company. Setelah McKinsey selesai, Nadiem melanjutkan perjalanan karirnya dengan terjun langsung mendirikan Zalora Indonesia dengan jabatan Managing Editor. Selanjutnya giliran Kartuku yang menjadi tunggangan Nadiem. Di perusahaan fintech tersebut Nadiem menjabat sebagai Chief Innovation Officer (CIO) sebelum akhirnya mengembangkan bayi perusahaan besarnya Gojek Indonesia.

Nadiem didaulat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di kabinet Indonesia Maju pimpinan Presiden Joko Widodo dan Ma’ruf Amin. Disini Nadiem akan mengemban tanggung jawab besarnya sebagai Mendikbud, lebih besar dari korporat sekelas Gojek. Meski demikian, dalam beberapa wawancara Nadiem mengaku siap untuk hal-hal itu.

“Tapi ke depannya saya harus jujur, tantangannya akan luar biasa. Di bawah saya itu juga bukan hanya Mendikbud yang tradisional tapi juga digabung dengan pendidikan tinggi, itu semua ter-integrated. Tapi itu baik, itu berita baik, karena semua strategi akan terpadu,” kata Nadiem seperti dikutip dari kompas.com.

Selain itu, yang menarik pula dari sosok Nadiem adalah umurnya. Suami Franka Franklin tersebut menjadi menteri termuda dalam kabinet Indonesia Maju. Di umurnya yang baru menginjak angka 34 tahun, dirinya menjadi satu-satunya generasi milenial yang menjabat salah satu pos terpenting yang menunjang masa depan dan kualitas SDM negeri ini. Nadiem Makarim juga diharapkan dapat menjadi penyalur suara generasi muda. Kehadirannya di ranah politik setidaknya menjadi penghilang batasan dan stigma kolotnya penyelenggara negara tua terhadap para milenial. Nadiem setidaknya sedikit menghilangkan isi narasi kotor itu di segelintir pikiran rakyat muda Indonesia.

2. Wishnutama

Wishnutama Kusubandio pria yang akrab dikenal dengan Wishnutama ini merupakan seorang pembisnis dalam bidang informasi terutama pada media televisi. Lahir di Jayapura pada 43 tahun silam, karir Wishnutama kian meroket seiring dengan semakin dikenal saluran TV bentukan nya bernama Net TV.

Tama muda menghabiskan masa remajanya di Kooralbyn Internasional School, Queensland, Australia (setara SMA). Selanjutnya Tama hijrah ke Amerika Serikat. Boston mungkin berpengaruh besar dalam perkembangan masa remajanya. Dirinya melanjutkan pendidikan sarjana di Mount Ida Collage, Boston, Amerika Serikat dengan program studi Liberal Arts. Lebih jauh tentang pertelevisian, Tama juga menimba ilmu di Emerson College dengan jurusan Komunikasi.

Usai jauh melalangbuana mencari ilmu, Tama kembali ke tanah air pada 1994. Masih ketatnya regulasi pemerintah Orde Baru pada media membuat ruang geraknya sedikit terhambat. Di tanah air, Tama memulai jalan pertelevisian-nya di Indosiar sebagai Supervisor On Air Promotion. Setahun berselang dirinya kembali ke meja produksi sebagai Production Assistant. Kinerja baiknya berbuah manis dengan diangkatnya Tama ke jabatan strategis sebagai Production Manager. Ragam program-program unggulan ditelurkan bersama Indosiar.

Pada 2001 Wishnutama memutuskan berpindah kapal ke Trans TV. Wishnutama langsung di dapuk sebagai Kepala Divisi Produksi dan Fasilitas. Karir Wishnutama semakin merangkak naik dan gemilang. Jabatan-jabatan kepala seperti Wakil Direktur Utama/COO Trans TV hingga ke bangku jabatan tinggi seperti Direktur Utama/CEO Trans TV berhasil ia emban. Puncaknya di 2013 saat bayi saluran televisinya Net Mediatama kian berkembang. Jabatan terakhinya adalah Presiden Direktur/CEO Net Mediatama.

Selain dalam karir pertelevisian, Wishnutama juga dipercaya sebagai seorang pemimpin acara besar yang kreatif. Contohnya, Wishnutama dipercaya sebagai Creative Director pada Ceremonies Asian Games 2018. Acara yang cukup begengsi dan menjadi sorotan mata dunia pada Indonesia. Untuk itu, ragam penghargaan bergengsi pun ia kantongi dari beragam institusi dan media.

Kini di 2019, presiden Joko Widodo mengganjarnya dengan jabatan bergengsi dalam kubu penyelenggara negara sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dilansir dari kompas.com salah satu politisi yang deket dengan Presiden, yaitu Erick Tohir mengutarakan maksud memilih Tama pada pos pariwisata dan ekonomi kreatif karena Tama adalah seorang yang menurut pemimpin tertinggi negara ini sangat kreatif. Kreatifitasnya dipercaya dapat menjadi pendongkrak industry parawisata dan ekonomi.

“Contoh, selama ini kita kan promosikan pariwisata, tapi kalau tidak ada event siapa yang mau dateng. Kalau kayak Asian Games kemarin kan event-nya (yang membuat turis datang ke Indonesia). Mesti ada industri kreatifnya,” ujar Erick Tohir di Kementerian BUMN.

Keduanya memang penuh dengan berbagai prestasi dan raihan bergengsi dalam lini bidang pekerjaan nya masing-masing. Dua nama putra bangsa yang memang patut menyandang gelar Menteri. Terlebih keduanya tidak memiliki lembar hitam – catatan kriminal, pelanggaran HAM dan Korupsi – yang semestinya jadi pertimbangan paduka Jokowi dan tim.

Selamat bekerja, Nadiem Makarim dan Wishnutama.