Dua Sisi Kontroversial Anti Ngak Ngik Ngok

Dua Sisi Kontroversial Anti Ngak Ngik Ngok

Suatu era di penghujung dekade 50-an kala pemerintahan menerap sistem Demokrasi Terpimpin dibawah tangan keras Soekarno. Isu nasionalisme dan pembentukan jati diri dari sebuah negara baru adalah urgensi penting Sang Kepala Negara. Untuk itu, berbagai keputusan dibuat guna mengontrol ragam versi. Satu dari macam kontroversial, pembatasan gaya berpakaian, peredaran musik dan budaya barat dalam tajuk Anti Ngak Ngik Ngok contohnya.

Dua dekade usai proklamasi dibacakan, Indonesia masih menjadi negara muda yang baru bardaulat secara resmi. Pembentukan identitas bangsa menjadi prioritas utama, pengontrolan nya tajam di targetkan bagi para remaja dan belia. Gaya berpakaian, tontonan, musik hingga berbagai literatur yang dianggap membahayakan jati diri negara.

Larangan berasal dari pidato Soekarno tentang-Usdek pada 17 Agustus 1959. Pada pidato tersebut secara terselip Soekarno mengecam gaya barat, dansa-dansi gila-gilaan dan musik ngak ngik ngok. Musik Ngak Ngik Ngok yang tercantum sendiri yang tertera dimaksudkan genre rock n roll yang berada pada puncak jayanya pada masa tersebut.  

Karya musik dan musisi banyak yang menjadi korban nya. Pemusnahan pirangan-piringan hitam, pelarangan jual dan siar danpencabutan izin manggung jadi cara pencegahan nya. Lebih lanjutnya, ada juga tindakan penjegalan, pembubaran acara hingga ke penangkapan. Salah satu yang menjadi tersangka regulasi ini adalah Koes Bersaudara. Ujung dakwaan nya Koes Bersaudara (sebelum berganti menjadi Koes Ploes) berakhir di Penjara Glodok dengan masa tahanan 3 bulan.

Selain larangan pada musik, pengontrolan juga berkutat pada gaya dan busana sehari-hari . Pakaian you can see, celana jengki dan rambut gondrong di razia habis hingga ke tempat-tempat pergaulan nya. Pengawasan yang di lakukan oleh Corps Polisi Militer (CPM) ini cukup unik. Untuk celana jengki, sebuah botol bir dimasukan ke lubang kaki celana, jika tidak muat, si pengguna celana jengki harus terima celana kesayangan nya di gunting habis hingga ke pangkal paha. Begitu juga dengan para rambut gondrong yang harus merelakan rambutnya dicukur asal. Sedangkan sangsi moral lebih diterapkan bagi para pemakai busana you can see. Para wanita dengan pakaian sedikit terbuka harus terima di teriaki ”Ganyang you can see” sepanjang jalan.

Peraturan tersebut jelas sangat merugikan banyak pihak. Tentunya yang paling signifikan adalah bagi para remaja yang asupan pengatahuan nya kekang. Namun di satu sisi, adanya peraturan ini juga punya dampak positif guna mengenalkan dan menjadikan budaya Indonesia sebagai tuan di rumahnya sendiri.

Share this article :
Vantage Banner Ads