Konten Satir

Tercabik-cabiknya karakter nampak terlihat jelas sejak munculnya fenomena social media, yang membuat teman, keluarga, saudara, hingga kolega, menyeruakan sisi-sisi lain dari mereka. Tumbuh dengan cara yang organik, namun melalui channel berbasis digital. Aneh tapi nyata memang. 

Kemudian ada yang menjadi sangat serius dengan persoalan negara, berubah apatis, dan cukup banyak juga yang tiba-tiba menasbihkan dirinya menjadi motivator amatir, hingga penasihat profesional, berkat kekuatan konten yang dia tebar di pelbagai lini digital-nya. 

Kemudian permasalahan-permasalahan mulai timbul, lalu membelah teman lama maupun baru, membuat lingkungan sekitar menjadi kubu-kubu, sehingga tanpa disadari kehidupan sosial menjadi abu-abu, sejak kemunculan macam-macam aplikasi ini 11 tahun lalu, di mana tanpa disadari, sekarang para penggiat yang menggebu-gebu belasan tahun tersebut sudah berada di jenjang usia yang tidak muda lagi. 

Ada juga yang baru melek dengan Facebook beserta rekan-rekannya, di mana golongan ini termasuk kawanan yang mudah dikompori, dan pastinya rawan meledak, sehingga mudah disusupi misi-misi kelompok tertentu yang gemar mencerai-beraikan pribadi asli bangsa ini: damai & ramah.

Secara pararel muncul kemudian jagoan-jagoan e-commerce, yang dimotori millenials andal serta mumpuni, baik dari pengetahuan teknologi, marketing, dan sangat menguasai konten. Formula yang mereka modif dari pelbagai macam situs jual beli & monetisasi buatan generasi langgas luar negeri, berhasil memukau sebagian besar kita, budak-budak gawai yang sudah tidak mungkin melepaskan diri dari devices multi akses, karena semua hal personal hingga pekerjaan telah tertanam secara parsial di sebuah benda, bayangkan, sebuah benda, yang kita kenal dengan sebutan ponsel pintar. 

Sesuatu yang tidak pernah terbersit sama sekali di era 90-an, saat kita sedang berasyik masyuk dengan buaian ice cream dairy queen, cheese burger A-ha, gelimang sepatu roda Lipstick, moonwalk di Studio East, hingga mengudap popcorn di bioskop Grand Wijaya sambil nonton Titi DJ dan Chicha Koeswoyo adu tari kejang dalam film “Gejolak Kawula Muda”. 

Lalu ketika sedang asik menemani adik main dingdong di Aldiron, sayup-sayup terdengar ‘Silent Morning’ Noel, yang membuat kita bergegas menuju Aquarius Mahakam untuk mendapatkan terlebih dahulu album kaset terbaru si poni dan kawan-kawan, Swing Out Sister, dan dengan gemasnya kita membuka sampul plastik, dibarengi sensasi harum kertas kaset, lalu kemudian perlahan super pasti plus deg deg plas memasukan ke dalam tape mobil, dan ucapan lirik “Breakout” terdengar bergema di mobil starlet pemberian ayah.

Lalu sekarang kita berada di era jentik jempol, dimana dalam 3 kali usap, tidak butuh waktu hingga sejam, makanan favorit kita sudah tiba dengan sempurna di gerbang rumah, dan saat tubuh serta raga butuh terapi urut untuk meluruskan otot-otot yang tegang, tada, dalam 35 menit massage service sudah menggelar ‘peralatan perangnya’ di kamar kita, dan kemudian healing process jasmani terwujud berkat  beberapa kali klik di sebuah aplikasi yang terdapat dalam gawai kita. 

Oh My God, hidup kita hari ini sungguh mudah! Mau pergi keliling Eropa? Tinggal ongkang-ongkang di kasur sambil menonton Netflix, pencet sana pencet sini, sesuaikan harga, konfirmasi anggota keluarga, kurang dari 25 menit impian liburan kita sudah dipaketkan aplikasi, tugasnya tinggal hanya membawa diri serta koper di hari H. Perfecto!
Sementara itu dalil-dalil yang menyudutkan personal, kelompok, bahkan orang-orang baik, yang hanya karena melakukan sekali dua kali keteledoran, disiksa api sanksi sosial digital, yang jika dilihat dari drone view, cukup menyesatkan. Lihat saja isi YouTube lokal, dengan konten lokal, dan komen lokal, lalu sempatkan lihat feed Facebook beserta aksi-aksi reaksinya, oh, sungguh oh, merapal post konten populasi sejawat di sana seperti mengurai benang yang sebentar-sebentar basah, sedikit-sedikit kering. Seakan-akan satir ingin dimonumenkan menjadi signature era 2000’s.