Ketika Industri Film dan Musik Tanah Air Kembali Lesu

Nusantara, utamanya ibu kota, sontak kembali terkejut oleh keputusan PSBB total yang diumumkan Gubernur Jakarta Anies Baswedan.

Bioskop yang seharusnya bisa mulai berjalan dalam beberapa pekan ke depan, kini rencananya terhalang lagi oleh keputusan ini. Dan hal tersebut jelas saja mengganggu program para pelaku industri terkait. Apa yang sudah diidam-idamkan umat sineas, kembali kandas. Bak serpihan mutiara retak, ya.

Di bidang lain, yakni musik, musisi juga ikutan meringis. Segala mimpi untuk bisa tampil live seakan-akan menjadi ‘cita-cita yang kejauhan’. Kafe dan Restoran yang sekiranya dapat dijadikan sebagai alternatif bagi mereka untuk unjuk pentas, dipastikan tidak boleh buka untuk sementara waktu hingga batas tenggat yang setan pun tidak tahu sampai kapan pemberlakuannya.

Ini seperti gejala sakit yang kontiniti sebelum kita semua dijemput ajal. Karena antara satu ornamen ke unsur yang lainnya saling berkaitan. Sakit, namun harus bagaimana lagi, kita tidak mampu mengenyahkannya. Ibarat malang yang dua ratus persen tak dapat ditolak. Bahkan nasib pun tidak tahu harus berbuat apa.

90 persen orang-orang yang berada di profesi film dan musik berontak, tersakiti, dan tidak tahu harus melontarkan apa. Terdapat garis yang sangat tipis antara benar dan salah. Selalu beririsan. Betul, memang ada protokoler yang harus dipatuhi, tapi seperti yang telah kita ketahui bersama, semakin banyak saudara saudari kita dari industri ini yang tidak tahu harus berbuat bagaimana, semuanya dibingungkan. Dan yang paling ganas, mereka cenderung dimiskinkan.

Jangan bicara mengenai konglomerat dari industri film seperti Multivision Plus dan koleganya. Atau para YouTuber dadakan pindahan stasiun TV model Raffi Ahmad, Sule, Andre Taulany, Gading Marten, Nikita Mirzani Cs. Juga gegedug konten receh seperti Atta Halilintar, Ria Ricis, kemudian keluarga Anang Hermansyah dan para konco-konconya. Apalagi MNC bersaudara. Mereka sudah pasti aman untuk hal finansial. Secara transparan pun kita semua dapat melihatnya. Mayoritas para ‘si serius’ yang memang benar-benar menggeluti dunia akting serta seni musik secara benar-benar dari hati, mereka semua adalah korban serius dari malapetaka ini. Ngenes.

Memang ada platform Video On Demand. Tapi apakah mereka mampu konsisten serta kuat di segi resistensinya untuk membantu industri perfilman nasional. Dan juga memang ada live streaming untuk bidang musik. Namun apakah hal ini dapat menjadi garansi pasti untuk pemasukan para pelaku? Anda sendiri sudah pasti tahu jawabannya.

Terang sebentar, redup lagi. Harapan sempat menyala, kemudian mati lagi. Solusi hanyalah teori. Apa kabar dengan keyakinan aku, kamu, dan mereka semua?