Dua Sisi Kesehatan Mental

Indonesia sebagai negara yang terkenal toleransinya belum memiliki pemahaman yang cukup terkait kesehatan mental. Stigma negatif masih menjadi batu sandungan bagi penderita yang ingin mencari pertolongan. Kini beberapa kalangan mulai peduli dengan penyakit yang menyerang otak ini. Namun dari semua itu, masih terjadi kesalahpahaman sebagaian orang yang menyebabkan adanya self-diagnose.

Kesulitan di Indonesia

Tergelitik benak saya ketika membaca sebuah judul artikel media online yang melintas di linimasa Twitter pribadi saya. Petikan judul yang saya ingat adalah “Hakim tak percaya Nunung Depresi”. Karena penasaran saya pun membuka artikel tersebut, hingga akhirnya saya menemukan pernyataan Hakim di persidangan pelawak yang mengawali karirnya dari grup Srimulat ini.

Mengutip dari Vice.com, Dr. Henry Taruli Tambunan yang menjadi saksi ahli di persidangan Nunung menyatakan Nunung mengalami depresi selama tiga tahun terakhir, kondisi itulah yang membuat perempuan 55 tahun itu butuh obat-obatan. Pernyataan ini merupakan hasil diagnosa Dr. Henry selama Nunung di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta. Mendengar kesaksian tersebut, salah satu Hakim Djoko Indiarto merasa tak percaya karena menurutnya Nunung selalu terlihat ceria di televisi.

“Nunung kan kerjanya setiap hari cengengesan (di televisi), kok bisa stres?” ujar Hakim Djoko Indiarto dikutip dari Kompas.com. Sontak pernyataan yang cukup sembrono ini menuai kecaman netizen di media sosial. Sebagai Hakim yang notabene memiliki pengetahuan berlebih, seharusnya Beliau memiliki pemahaman terhadap apa yang Nunung alami.

Hal ini tentu mengindikasikan bahwa kesehatan mental belum sepenuhnya dimengerti masyarakat Indonesia. Fenomena ini diamini pernyataan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Anung Sugihantono. Beliau menyatakan bahwa penyakit yang berkaitan dengan mental belum ditanggapi serius seperti halnya penyakit yang menyerang kesehatan fisik.

“Sering kali persepsi sehat, sakit, hanya diartikan apabila kita tidak mampu melakukan sesuatu,” ujar Anung dikutip dari tirto.id. Menurutnya juga kesehatan mental sama hal nya dengan kesehatan fisik, apabila tidak ditangani dengan serius dapat mengancam keberlangsungan hidup seseorang.

Selain itu, stigma bahwa orang dengan gangguan kesehatan mental dikaitkan dengan kurangnya pengetahuan agama atau yang paling parah disebut “gila”. Masyarakat Indonesia masih konservatif menanggapi permasalahan yang menyangkut masalah psikologis seseorang. Banyak penderita gangguan kesehatan mental yang sebenarnya memerlukan pertolongan, namun enggan untuk mendatangi psikolog atau psikiater untuk menghindari stigma negatif dari masyarakat.

Data dari katadata.co.id dalam Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat bahwa 91% orang yang menderita depresi memutuskan untuk tidak berobat. Semakin parah dengan kapasitas pemerintah dalam menyediakan penanganan dalam masalah kesehatan jiwa masih tergolong kurang memadai. Masih dari Riset Kesehatan Dasar 2018, memperlihatkan data yang cukup mencengangkan dimana tenaga psikologi klinis di seluruh Indonesia hanya berkisar 1.563 orang, dan perbandingan psikiater dengan penderita masih sangat jauh menyentuh 1 banding 300-400 ribu orang. Miris.

Selain stigma negatif yang masih menjamur, biaya pengobatan yang tinggi juga jadi penghalang penderita gangguan kesehatan mental mendapatkan pertolongan. Harga obat dan tentu biaya konsultasi yang tergolong tinggi menjadikan membuat hidup penderita semakin sulit. Saya pun pernah melakukan riset tarif konsultasi dengan psikolog melalui internet. Hasilnya cukup membuat saya geleng-geleng kepala karena biaya yang dipatok berkisar Rp 300-500 ribu untuk satu sesi konsultasi.

Bisa dibayangkan dalamnya kocek yang harus dikeluarkan seorang penderita gangguan kesehatan mental. Bila dirata-rata dalam satu bulan, mereka harus mengeluarkan sedikitnya Rp 1 juta untuk mendapatkan konsultasi dan obat penunjang, jika ada penambahan dosis obat atau sesi konsultasi masih memungkinkan adanya tambahan biaya.

Beruntung saat ini Pemerintah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Kartu Indonesia Sehat (KIS) memberi perlindungan bagi gangguan kesehatan mental. Dikutip dari Kompas.com Kepala Humas BPJS Kesehatan M.Iqbal Anas Ma’ruf menyatakan bahwa program JKN KIS mencakup pelayanan kesehatan mental yang dibutuhkan masyarakat.

“Penyakit kejiawan yang secara medis sudah di tegakkan masuk dalam JKN KIS. Pelayanan kesehatan tetap sesuai prosedur pelayanan kesehatan berjenjang,” ujar Iqbal.

Kesadaran Meningkat dan Salahnya Persepsi

Sebenarnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental sudah mulai meningkat akhir-akhir ini. Hadirnya film baru seperti Midsommar dan Joker yang mengangkat isu mental sebagai topik utamanya membuat beberapa kalangan mulai peduli dengan penyakit dan orang yang menderita gangguan kesehatan mental.

Banyak orang yang merasa kehidupannya sesuai dengan adegan di dua film tersebut. Media sosial menjadi tempat orang mencurahkan pendapatnya mengenai kesannya setelah menonton film tersebut.

Kembali ke Twitter, saya pun memperhatikan tren netizen yang banyak membagikan utas yang berkaitan film Joker. Mayoritas diantaranya menyinggung dampak mental yang ditimbulkan setelah menonton film yang dibintangi Joaquin Pheonix ini.

Beberapa postingan bertema Joker mendapatkan impresi yang cukup besar dari netizen. Fenomena ini memiliki imbas positif untuk kepedulian pada kesehatan mental yang sebelumnya kurang mendapat perhatian.

Namun, fenomena ini juga menjadi salah kaprah karena muncul tren baru yakni “self-diagnosis”. Dimana banyak orang memiliki kecenderungan untuk memvonis dirinya sendiri terkena gangguan kesehatan mental dan membagikannya di media sosial.

Beberapa waktu lalu, viral sebuah tes kesehatan mental yang menjadi parameter netizen dalam mendiagnosa kesehatan mental mereka. Hasil tes tersebut kemudian jadi dasar penilaian mereka utuk menentukan apakah kesehatan mental mereka mengalami gangguan ataupun tidak.

Tindakan ini bukan tanpa resiko karena bisa memberi dampak buruk bagi siapa saja yang melakukan diagnosa sendiri. Tes kesehatan mental tersebut juga belum terbukti tingkat akurasinya dan belum diakui secara resmi oleh institusi kesehatan terkait.

Para pakar juga menyarankan untuk tetap melakukan konsultasi untuk memperoleh diagnosa yang akurat terkait kesehatan mental. Karena dalam melakukan diagnose diperlukan keahlian dan pengetahuan khusus untuk mendiagnosis masalah, gangguan, dan sindrom.

Saya pribadi ketika merasa sedang gundah atau down, pertolongan pertama yang saya cari tentunya adalah bercerita dengan teman yang paling saya percaya. Memiliki pendengar yang baik menjadi obat yang mujarab untuk mengurangi kegundahan saya.

Seperti yang dilakukan oleh Aktris terkenal Ariel Tatum. Dalam wawancaranya di Program QnA Metro TV, perempuan berusia 22 tahun tersebut menceritakan secara gamblang bagaimana ia melalui momen-momen sulit saat menderita gangguan kesehatan mental.

Pada usia 13 tahun, Ariel menyadari dirinya mengidap gangguan kesehatan mental. Dirinya mendatangi beberapa psikolog untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Beberapa vonis telah Ariel terima seperti bipolar atau multiple personality disorder. Sampai akhirnya ia menerima vonis terakhir yang menyatakan bahwa Ariel mengidap Borderline Personality Disorder (BPD) atau kepribadian ambang.

“I think i need some professional help, i don’t think this is healthy,” ujar Ariel menceritakan awalnya mencari pertolongan dalam menyembuhkan penyakitnya.

Mengalami gangguan kesehatan mental tentu menjadi hal yang tak ingin dialami setiap insan. Penyanyi terkenal sekaliber Demi Lovato juga pernah mengalami gangguan yang menyerang kesehatan mentalnya.

“Anda dapat hidup secara baik dengan mengalami gangguan kesehatan mental, ini memerlukan waktu namun sepadan. Anda (penderita) pantas menjalani hidup dengan bahagia dan sehat,” ujar Demi dikutip dari huffpost.com

Baiknya kita sebagai manusia tidak abai dengan penyakit yang satu ini. Para penderitanya hanya memerlukan dukungan. Berhentilah memberi stigma kurangnya iman atau gila untuk mereka. Biarkan mereka berjuang mencapai kesembuhannya.