Sebelum Depresi Menggurita, Dulu Sudah Ada Anti Anti Depresan Club

Apakah para musisi yang mengambil jalur ini di era para pendahulu kita memiliki warisan kisah berantakan seperti yang kita harapkan? mari kita ungkap kenakalan pop masa lalu masa kini.

Glamor-nya kehidupan para musisi, grup, pelaku film, yang menempatkan dirinya sebagai budak industri jenis pop, bisa jadi lebih keras dan kencang dari kawasan rock. Mulai dari penggunaan kokain, obat anti depresan hingga LSD, yang menjadi menu utama sesepuh folk 70-an, hingga pemberlakukan “Melrose Place Rules” di beberapa kalangan elit grup-grup pop lokal 90-an yang tidak pernah tenar menjadi cerita kenakalan remaja terbaik di dekade tersebut.

Saat itu, dengan uang Rp. 100.000 berbagai obat anti depresan “Roda Roda Gila” mudah didapatkan. Isinya beraneka ragam seperti : Magadon, Nipam, Rohipnol, Rivotril hingga Lexotan, yang merupakan “The Big five” nitrazepam era itu. Sori dori mori untuk Dumolid, penggemarmu tidak sebanyak masa kini, di mana dirimu sendiri pun kian susah dicari oleh para pemujamu.

Dengan permintaan yang begitu besar dari muda mudi akhir 80-an serta remaja tumbuh kembang 90-an, demam obat anti depresan begitu menggila di mana-mana, terutama kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogja, juga daerah kecil seperti Cianjur, Sukabumi, Bogor dan Sumedang.

Menikmati 5 butir Magadon sekaligus dengan ditemani soda, merupakan pemandangan umum yang kerapkali terjadi di tongkrongan pinggir jalan maupun warung ujung jalan yang terdapat di kota-kota tadi.

Di Jakarta sendiri, terutama daerah selatan, para pria tanggung penikmat musik Rick Astley, Lisa Stansfield, Madonna, Michael Jackson, Whitney Houston, The Cure, The Smiths, hingga kelompok jazz semacam Four Play & Level 42, setiap malam begitu gesit mencari obat-obatan ini ke daerah Gajah Mada, Jakarta Pusat.

Warung-warung chemical yang berjejer di sepanjang jalan itu memberi varian rasa mabuk obat yang luar biasa! Aneka menu obat yang dijajakan benar-benar mampu menemani malam-malam kumpulan para pria tanggung berambut gondrong tanggung ini untuk ngobrol ngalor ngidul tanpa subjek yang berarti.

Efek segar yang luar biasa akibat dari mengkonsumsi macam-macam obat ‘gesit’ tersebut juga menjadi dampak ranking satu se-dunia industri permabukan ibu kota masa itu. Mengapa? Ini semua disebabkan oleh “Teknik Berbincang, Teori Kehidupan, Formula Defensif Akan Kebenaran Mutlak Yang Hakiki” ciptaan mereka akan menjadi modal paling brilian para abg masa lalu ini dalam melakukan manuver komunikasi dengan siapapun.

Mengapa artikel ini saya beri judul “Kenakalan Pop Indonesia”? Jawabannya adalah karena mereka ini adalah representasi dari kultur pop yang sesungguhnya, yakni: senang terhadap musik pop, di dalam mobilnya didominasi playlist lagu dari Go West, The Human League, Chaseiro, Guruh dan Madonna, lalu hobi menonton film bergenre pop drama seperti Pretty Woman, Titanic, serta Ghost, dan juga terbiasa memainkan games di tempat dingdong dengan pilihan permainan yang soft, anti peperangan.

Tak ketinggalan, mereka ini selalu berpenampilan dandy a la presenter kuis, dan dianugerahi kemampuan ‘speak’ yang luar biasa terhadap lawan jenis. Pemilihan kata-katanya sungguh manis. Teramat manis, malah.

Bagaimana dengan kenakalan pop masa kini? Era milenial merupakan pengulangan yang pernah dilakukan oleh Tante dan Om mereka. Jenis drugs-nya masih sama, mulai dari yang dibakar, disedot, hingga dihisap. Jika ke club pun, menunya juga itu-itu saja, cuma berganti nama.

Lalu bagaimana dengan para pelaku di industri musiknya sendiri? Lagi-lagi ini seperti pengulangan era 70-an dan 90-an. Banyak musisi tidak populer yang maksimal dalam hal permabukan. Mereka menutupi ketidakpercayaan dirinya maupun ketidakpopulerannya dengan datang ke tongkrongan-tongkrongan dalam keadaan ‘enak’.

Memang tidak semua band yang tak terkenal berlaku seperti itu, tapi coba Anda datangi skena kota kembang, dan coba lebih dekat lagi dengan mereka, lama-lama komunikasi kalian akan diarahkan ke sebuah jargon ‘pelan tapi party’.

Dan jika Anda lihai serta jeli melihat acara-acara komunitas yang crowd-nya itu-itu melulu, coba tengok ke beberapa sudut venue yang gelap. Jika ada sekumpulan manusia matang sedang tertawa secara lebay, dan terlihat berbagi sesuatu, hampiri dan senyumi saja. Kemungkinan Anda diajak bergabung oleh mereka adalah 90 persen.

Hal di atas pun terjadi di beberapa kegiatan-kegiatan musik reguler ibu kota, garapan komunitas yang hype-nya tidak begitu menggelegar namun semangatnya tak pernah luntur untuk terus terdengar. Biasanya konten acara mereka lebih banyak berisikan konsep A Tribute.

Selain minuman dari tempat acara berlangsung, plastikan berisikan intisari maupun anggur merah, serta selipan “Roda Roda Gila” pun akan menjadi senjata pamungkas yang dikeluarkan oleh sebagian dari mereka, sebagai mood booster ‘kemesraan yang teramat manis’ untuk menemani malam indah tersebut.

Tak lupa, lagu-lagu cinta dari The Smiths maupun The Cure menjadi soundtrack karaoke mereka hingga acara usai. Dan, saat si DJ menutup acara dengan memutarkan lagu-lagu Rick Astley dan Madonna Cs, sorak sorai pun akan semakin menggila.

Ternyata, cerita kenakalan pop masa lalu dan kini hampir sama. Para pendahulunya lebih menikmati kenakalan mereka sambil nongkrong di komplek, sedangkan penerusnya cukup di acara-acara komunitas. Dunia berputar.