Keluarga Halilintar Yang Menyesatkan

Sejak opini publik banyak digiring oleh rombongan Halilintar ini, resmi sudah puluhan juta pengikutnya seakan menjadi Zombie yang mau saja dicocok hidungnya untuk menyaksikan kebegoan-kebegoan yang dihadirkan oleh keluarga tersebut.

Yang paling berasa adalah Saaih Halilintar dan Atta Halilintar. Keduanya merupakan pegiat media sosial yang paling azas manfaat di seluruh muka bumi Nusantara. Entah apa yang ada di benak para pengikutnya sampai rela menghabiskan banyak kuota demi berkhayal jadi mereka atau apapun, yang dianggap oleh para fansnya agar mereka merasa jadi bagian dari salah dua Klan Halilintar tersebut.

Jika dilihat dari konten video yang telah mereka buat, silahkan Anda tilik-tilik lagi secara seksama, apakah karya mereka sudah sesuai dengan nurani regulasi konten bermanfaat, atau yang mereka torehkan hanyalah sekedar omong kosong tiada makna yang lebih cenderung menjadi untaian video sampah? Saya rasa yang terakhir adalah jawaban terbaik.

Belakangan Saaih Halilintar memanfaatkan Virus Korona sebagai senjata konten terbarunya. Bisa dicari langsung di link-link terdekat internet Anda untuk mendapatkan detail permasalahannya seperti apa, dari kekatroan yang dilakukan oleh manusia penuh dagelan ini. Dan hal tersebut jelas membuat muak banyak orang, di mana hal tersebut seperti semakin membuat kebegoan serta ketololan Saaih kian terpampang jelas, yang mana kemampuan otaknya dalam mengurasi sebuah konten sama sekali tidak dipakai. Seharusnya otak dia digunakan, namun nampaknya adik dari Atta Halilintar ini lebih mengutamakan saraf birahi popularitas ketimbang menggunakan otaknya untuk dipakai berpikir, walaupun hanya setetes.

Baik Atta maupun Saaih sudah seharusnya pamit undur dari industri perkontenan di negeri ini. Jelas sudah dari apa yang mereka gadang-gadang sebagai wujud kontribusi kepada industri digital tanah air, sama sekali tidak memberi perubahan berarti perkembangan sektor ini ke arah yang lebih positif. Apa coba nilai dan pengaruh baik yang bisa kita tiru dari keduanya? Apa nilai edukasi yang bisa kita angkat dari konten adik kakak tersebut? Lalu kandungan unsur lucu mana yang memang bisa dijadikan landaian agar generasi di bawah kita dapat merilis kadar lucu yang memang bisa menghibur secara naturaliah?