John Kei Yang Mencoba Menjadi Tony Montana Versi Indonesia

Petualangan pria bertubuh kekar ini dimulai sejak pertama melabuhkan kakinya di Jakarta pada 1990. Berlanjut hingga namanya kerap kali disangkautpautkan dalam berbagai pembicaraan kriminal dan premanisme ibu kota. Lahir pada September 1969, John Refra Kei adalah sosok yang menghabiskan banyak waktunya dalam kelana dunia gelap bawah tanah kota, di mana pahit manis kehidupannya senantiasa jadi sorotan.

John Kei bukanlah nama baru dalam benak masyarakat ibu kota. Namanya kerap kali muncul dalam beberapa pembicaraan seputar premanisme hingga berita kriminal. Perjalanannya dimulai sejak tahun 2000, mana kala dirinya mendirikan organisasi bernama AMKEI (Angkatan Muda Kei). AMKei merupakan organisasi yang bergerak dalam jasa pengamanan dan debt collecting yang anggotanya mayoritas berasal dari Pulau Kei.

Selayaknya organisasi keamanan, AMKEI kerap kali bersitegang dengan kelompok pengamanan lain. Beberapa di antaranya kelompok asal Timur Indonesia, seperti Sangaji, geng Flores Thalib Makarim, dan kelompok Hercules. Baku hantam hingga tarung di jalan kerap mewarnai perjalanan John Kei.

Di 2004, John Kei ditangkap Polda Metro Jaya. Penyebabnya adalah kelompok dia dituduh terlibat dalam pembunuhan Basri Jala Sangaji di Hotel Kebayoran Inn pada Oktober 2004. Berhubung kurangnya alat bukti pihak, kepolisian pun membebaskan John Kei. Namun 8 anak buahnya ditetapkan sebagai tersangka.

4 tahun berselang, di 2008 John Kei kembali ditangkap Detasemen Khusus Antiteror di Desa Ohojiang, Kota Tual, Maluku. Dirinya diduga menganiaya dua saudaranya Charles Refra dan Jemry Refra. Kasusnya pun disidangkan di Pengadilan Negeri Surabaya. John Kei divonis 8 bulan penjara.

Sedangkan pada 2010 kelompok John Kei terlibat baku hantam dengan kelompok Flores Ende pimpinan Thalib Makarim. Keributan awal dipicu dari pertengkaran antara anggota kelompok Kei dengan penjaga Blowfish Ismaya Bar Jakarta Selatan. Dua orang dari kelompok Kei tutup usia, empat orang dari kelompok Flores Ende yang diduga terlibat pembunuhan pun disidang di PN Jakarta Selatan.

Dua tahun berselang John Kei jadi target operasi Kepolisian. Dari rekaman CCTV Swiss-Bell Hotel Mangga Besar, John Kei diduga menjadi eksekutor pembunuhan berencana Tan Harry Tantono alias Ayung, Bos PT Sanex Steel. Ayung ditemukan tewas dengan 32 luka tusuk pada 27 Januari 2012. 21 hari berselang, tepat pada 17 Febuari 2012, dirinya diringkus di kamar 501 C One Hotel, Pulomas Jakarta. John dibekuk kepolisian dengan satu luka tembak pada kaki dan divonis 14 tahun penjara. John mendekam di LP Nusakambangan hingga bebas bersyarat 26 Desember 2019.

22 Juni 2020, dalam masa bebas bersyaratnya, John Kei kembali diringkus pihak Kepolisian. Kelompoknya diduga terlibat dalam kasus penganiayaan dan penembakan di perumahan Green Lake Cipondoh, Kota Tanggerang. John Kei berserta 25 orang lainnya dibekuk di kediamannya Jalan Titian Indah Utama X, Kota Bekasi. Apabila terbukti terlibat, John Kei terancam pencabutan bebas bersyarat dan harus kembali menjalankan masa hukuman hingga Maret 2025 mendatang.