Jiwa Sepi Berbatin Nelangsa Kian Menyerak di Belantara Ibu Kota

Di beberapa titik jalan-jalan utama Jakarta Selatan, terdapat banyak rumah maupun kamar sewaan yang dibanderol dengan harga cukup masuk akal, karena fasilitas yang diberikan mendekati total. Mulai dari parkiran yang luas, penjagaan yang lentur, kamar yang lumayan luas, kamar mandi dengan air dingin dan hangat, air conditioner yang selalu siap diservis oleh pemberi sewa jika terjadi kerusakan, hingga jasa gratis cuci pakaian, di mana kita dapat semena-mena menumpukan pakaian maupun celana sebanyak yang kita pakai pada hari itu.

Rumah kontrakan serta kamar-kamar kosan premium ini rata-rata dihuni oleh mereka para pendatang dari luar Jakarta, serta orang-orang Jakarta sendiri yang memiliki masalah dengan keluarga maupun rumah tangganya. Ini terujar dari obrolan kami dengan beberapa penghuni asal tanah ibu kota, yang membeberkan alasan mengapa mereka tinggal di situ. “Saya sedang bermasalah dengan suami, dan kebetulan tetangga kamar saya juga sedang ada konflik dengan istrinya, jadilah kami ce’esan dan sering keluar bareng. Hahaha. Jangan dulu berburuk sangka ya Mase, saya dan dia murni hanya berteman, tidak ada cinta cinta-an,” ujar seorang perempuan berkulit cokelat dan memiliki paras ayu, lalu rambut pendek sebahu, saat ditanya alasan mengapa dia tinggal di situ, sambil menunjuk seorang pria bertinggi sedang, putih, tatoan, berusia sekitar 35 tahunan, yang sedang mencuci mobil dan menatap perbincangan kami berdua. Sebut saja perempuan itu bernama Cempaka, dan lelakinya berjuluk Franz.

“Kalo si J dia asli dari Purwakarta, tapi ditinggal mati sama suaminya tahun 2017 yang lalu. Sekarang dia kerja jadi manager di… (cempaka menyebut sebuah tempat makan di bilangan Senayan), tapi anaknya ikut ibunya si J di kampung,” Cempaka semangat bercerita tentang tetangga dia yang lain. “Kami bertiga tidak memiliki pacar, suwer! Hihihi. Saya, Franz sama J hanyalah kumpulan remah-remah tengah baya ibu kota yang sedang mencari jati diri, Mase,” tutur Cempaka sembari terkekeh.

Hebatnya dari entitas ini adalah mereka tidak berusaha mencari pasangan baru, namun hanya berusaha menikmati hidup di luar kebiasaan kehidupan normal layaknya orang berkeluarga. Bukan sesuatu yang aneh juga sih, kumpulan teman-teman kita ini hanya kelompok manusia yang sadar diri akan kekurangan mereka, dan menginginkan sebuah perubahan yang lebih baik bagi mereka ke depannya, dengan berhibernasi terlebih dahulu di tempat lain, demi mencari wujud baru mereka yang lebih baik lagi di kemudian hari.

Cempaka dan kedua temannya di sebuah malam melakukan aktivitas makan bersama di sebuah warung sop kambing ternama bilangan Fatmawati, setelah masing-masing pulang dari kegiatan kerjanya. Dia memiliki salon khusus perempuan, lalu Franz bekerja di sebuah digital agency, dan J yang bertugas sebagai Manager restoran ternama, kerap kali setelah melakukan kegiatan tersebut melanjutkan rundown malam mereka dengan berdisko entah itu di bilangan Senopati, Wijaya, Kemang, Antasari, bahkan hingga ke daerah kota. Aktivitas itu dilakukan seminggu dua kali. “Sayang Mase, kalo kami cuma bobo-bobo’an aja di kamar, hidup jadi lebih banyak ngga berguna nya. Heheheh,” J bersuara ketika saya bertanya seberapa sering mereka melakukan kegiatan tersebut.

“Seringnya sih kami ke Duckdown nyenyong-nyenyong (nyanyi-nyanyi), lalu lanjut ke Leon buat makan lagi sambil nge-wine, terus liat live band di Roosevelt, udah gitu kalo masih pengen minum ya kita beli minuman di daerah Blok M atau Sabang buat dibawa ke rumah,” tambah J.

“Iyah Oom, lebih baik berkegiatan aja deh. Bodo amat mau malem juga, terus pulangnya subuh, lha wong kita ngga ngapa-ngapain toh. Narkoba juga engga, cuma minum bir, nyanyi-nyanyi, terus kalo ada karaoke, ya kita ikutan juga, asal tau lagunya. Hahah. And then, nambah bir lagi deh, sama sesekali tequila, biar afdol Cuk. Hahaha!” Franz menimpali serta diakhiri tawa yang terbahak sekali.

Cempaka menambahkan, “Mase, kami banyak lho punya temen-temen yang senasib seperti ini. Biasanya mereka ini memang hidupnya sedih sekali, tragis pokoknya. Ada yang ditinggal mati suaminya kayak J, lalu ada yang dipaksa cerai sama mertuanya karena ketahuan make narkoba, terus ada yang pindah ke sini jadi anak kos gara-gara rumah kado pernikahan dari mertuanya diambil lagi sama mertuanya karena mereka lagi butuh duit. Dan akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan suami atau istri serta anak-anaknya. Banyak itu yang model begitu. Terus ada lagi pasangan yang ngga mampu beli standar rumah sesuai anjuran orang tua masing-masing, terus akhirnya mereka terpaksa tinggal di rumah mertua. Tapi eh setelah beberapa tahun kemudian mereka kena sindir terus soal rumah, dan akhirnya yang menantu jadi baper, bawaannya pun jadi pengen cabut melulu dari rumah, lalu setelah ditimbang-timbang, dia lebih memilih nyewa kosan lagi kayak zaman waktu kita kuliah dulu. Pokoknya banyak deh yang model begitu. Hihihi,” Cempaka tergelak.

“Lalu bagaimana dengan nasib anak, istri atau suami yang mereka tinggalkan?” saya bertanya kepada mereka bertiga. “Ya kami sih masih berhubungan sama orang rumah, tapi yang darah daging langsung aja ya. Setiap akhir pekan pokoknya saya ajak mereka pergi nonton dan makan di luar. Dan ada kalanya juga saya mendatangi rumah ibu bapak pasangan saya pada malam hari sepulang dari kerja, hanya untuk bermain-main sama anak saya. Hehehe,” tukas Franz.

“Pernah juga sih merasa kesepian parah, tapi untungnya ada orang-orang ini yang se-frekuensi dengan saya, dan akhirnya kami bisa bekerja sama untuk menghindari rasa-rasa sepi tersebut. Kalo hidup kita kebanyakan mikirin kesepiannya, lama-lama kami bisa nyusruk kedaleman. Syerem. Hehehe,” ujar Franz.

“Saya pun demikian. Saya berusaha untuk tidak menciderai hubungan saya dengan bapaknya anak-anak yang sudah almarhum, dengan cara tidak mencari jodoh di dalam waktu dekat-dekat ini. Padahal saya sudah menjanda 2 tahun lebih, lho. Hehehe. Saya sekarang hanya mencoba fokus terhadap pekerjaan saja, dan bagaimana memikirkan cara terbaik untuk membesarkan anak agar dia bisa menjadi orang yang berguna, meski saya jauh darinya. Selain dengan menitipkan anak ke ibu saya, tiap hari itu anak selalu saya pantau. Kalo mau liat mukanya, kita tinggal whatsapp video call aja, cus deh, langsung bisa tatap-tatapan sama anak dan ibu di kampung,” kata J.

“Kami ini hanya onggok-onggok yang kesepian Mase,” tambah Cempaka. “Nih yah, di jalan onoh, di jalan enih, di jalan entuh, di jalan-jalan sebelah sana, di belakang situ, banyak banget orang-orang yang kesepiannya model kami begini”.

“Nelangsa sih hati ini rasanya Mase, tapi ya sudah hadapi saja. Yang penting kami tetap dapat berpikir normal dan jernih, terus punya teman-teman sebaya yang satu sama lainnya bisa saling menghibur, agar kehidupan ini terus berjalan harmonis. Hahahah!” tambah J sekaligus menutup pembicaraan.

Lalu saya pun tiba di satu titik simpul, orang-orang ini kesepian, nelangsa, tapi tetap berusaha ceria dalam menghadapi hidup. Salut!