Indonesia Sedang Menikmati Pesta Halusinasi Masal

Durjana nya peradaban dengan fluktuatifnya kondisi ekonomi, sosial, politik hingga keyakinan memaksa otak untuk berputar dua kali lebih keras agar tetap waras. Dampak jelasnya ada terhadap semakin variatifnya obat sakit kepala. Alam sadar kian terkikis serta makin lupa beda nyata dan fana. Ini mungkin yang terjadi oleh beberapa manusia yang tergabung dalam sekte-sekte anti rasional pun realis: Sunda Empire, Agung Sejagat hingga Kerajaan Ubur Ubur.

Entah berapa butir benzodiazepine yang meracuni Rangga Sasana. Halusinasinya tentang digdaya tanah sunda melebihi delusi Jim Morrison akan gurun sahara dan oase indahnya. Cakap pria matang ini tentang kekuatan yang dimiliki organisasinya dalam sebuah forum mengundang decak tawa. Untuknya Sunda Empire adalah kekuatan dunia dan kuasanya sebagai Grand Prime Minister dalam tatanan dunia baru adalah nyata adanya. Halu.

Belum lagi kelakuan sejoli Toto Santosa dan Fanni Aminadia yang menobatkan diri selaku Raja dan Ratu dalam ordo Keraton Agung Sejagat. Ceritanya soal wangsit yang didapat mampu memperdaya kurang lebih 400 anggota. Penangkapan nya berujung pengakuan, Toto dan Fanni pada hilirnya mengaku tindakan mereka hanya halusinasi dan tipu muslihat demi cuan semata. Konyol.

Kehadiran manusia seperti Toto, Fanni dan Rangga dengan ide-ide konyol dan gilanya bukan hal baru. Sebelumnya ada Lia Aminuddin alias Lia Eden dengan jamaat Samalullah nya. Lia mengaku mendapat wahyu dari Jibril atas penggabungan tiga agama Samawi. Ada juga Ratu Kerajaan Ubur-ubur, Aisyah Tusalamah dengan ritus sesatnya mampu mendoktrin berpuluh pengikut. Aisyah memproklamirkan dan menggaet jemaahnya dari sosial media. Pondasi jemaat nya ada pada wangsit yang Aisyah dapatkan dari Nyai Roro Kidul. Aisyah juga bersuara lantur tentang arah kiblat dan pandangan menyimpangnya tentang Nabi Muhammad. Tak perlu lama, nasibnya sama berujung pada kurungan penjara.

Beberapa contoh kerjaan halu dan dogma sesat yang muncul nampak jadi dinamika baru yang harus diperhatikan gejolaknya. Tidak lupa menyoroti pengikut-pengikutnya yang dapat dikatakan masif. Betapa mudahnya manusia era ini menghamba dan mengharap ilham pada figur-figur tidak masuk akal, mungkin berkaitan pada tingkat putus asa dan psikologis massa.