Hobi Yang Menyesatkan

Ketika seseorang memutuskan untuk mengakhiri hobi yang dia anggap akan mengancam kelangsungan hidupnya, pada saat itu jugalah ia sudah memilih kehidupan yang lebih aman demi masa mendatang yang lebih menjanjikan. Janganlah terpuruk oleh kegemaran Anda yang dari tahun ke tahun semakin merugikan, karena akan semakin banyak yang dikorbankan dari hidup kalian.

Biar bagaimana pun hobi yang sudah keterlaluan memakan waktu seseorang, sampai-sampai tanpa disadari orang tersebut selalu memikirkan nafsu hobinya hingga tak kenal waktu bahkan keluarga, maka jalan terbaik yang harus diputuskan adalah melepaskan apapun itu yang berbau dengan kegemarannya tersebut.

Hidup memang akan selalu ada yang dikorbankan, di mana Anda tak perlu memaksakan apa yang bukan menjadi rejeki kita. Karena sepertinya sebagian besar penduduk bumi banyak yang menganut asas jalani hobi hingga mati. Dan, mereka ini tidak bisa membedakan apa yang menjadi skala prioritas di dalam hidupnya. Padahal sudah banyak waktu dan uang yang telah dihabiskan untuk membayar segala kegiatan yang berhubungan dengan hobinya tersebut. Keluarga jadi ditelantarkan, performa pekerjaan menurun, semangat mencari uang melalui profesi utama kian hari semakin merosot.

Terparah adalah orang-orang ini beranggapan akan ada pemasukan yang berarti dari kegemarannya ini. Padahal itu semua hanyalah mitos belaka. Yang ada dan terjadi adalah rugi, rugi, dan rugi terus. Nyusruk, se nyusruk-nyusruknya.

Jadi, memutuskan untuk melupakan kegemaran yang telah kita tekuni sedari dulu kala merupakan keputusan terbaik, tepat guna, dan akan sangat bermanfaat bagi nasib kita ke depannya nanti. Tergawat adalah ketika seseorang sudah mencapai angka usia 40, dan dia tetap ‘keukeuh sureukeuh’ untuk melanjutkan hobinya yang tanpa imbal berarti serta selalu memboroskan ini, maka dia sedang menggali liang kuburannya sendiri. Jika Anda sedang terdampar di situasi seperti itu, maka segera berlarilah dari lubang tersebut. Karena pusarannya akan tanpa ampun terus menerus menggerus pikiran kita untuk selalu berada di putaran lingkarannya. Bahaya.

Hindari ketragisan sedini mungkin sebelum keterpurukan menjadi teman sejati hingga Anda dijelang usia lanjut. Amit.

Foto: elevenia.id