Mereka sedikit-sedikit membesarkan yang kecil. Malah hal tidak terpenting sekali pun akan seperti menjadi masalah satu negara, ketika hinggap di pendengaran maupun penglihatan populasi ini.

Tersebar di berbagai penjuru kanal kehidupan, gerombolan pendengki tersebut kerap merasa tersiram bensin mana kala ada sesuatu yang bertentangan dengan pola pikirnya. Biasanya landasan dasar mereka dalam memberi komentar, membuat ujaran, menulis yang dirasa, adalah bagaimana mengkonversi hal-hal yang dirasa tidak nyaman, menjadi dendam tak berkesudahan, di mana rembetan masalahnya menjadi seperti tisu yang begitu mudah terbakar. Hingga kawanan ini akan selalu berpindah-pindah, untuk terus menggoreng satu masalah ke masalah yang lainnya. Lumayan gila, ya. Di mana ada sekumpulan orang-orang yang merasa nyaman dengan kondisi tersebut.

Kelompok ini sama sekali tidak perlu dikasihani, karena mereka tahu betul bagaimana cara merusak karir, hingga menghancurkan kehidupan pribadi mangsanya. Bak agen yang bertugas menumpas kebaikan, para gerombolan pendengki tersebut merupakan mujizat jahat yang bisa ditindak dengan cara pendiaman sediam-diamnya, atau diberi makzul yang paling kejam, sekejam-kejamnya. Karena berdasarkan pengalaman orang-orang yang berhadapan dengan kaum ini, memang hanya dua cara tersebut yang bisa dilakukan untuk menyeimbangi kelakuan orang-orang ‘tanpa akal sehat’ tersebut.

Mereka akan berkelompok ketika menyerang Anda di salah satu platform media sosial. Apapun itu. Bisa di Facebook, Twitter, kolom komentar di YouTube, hingga ke grup-grup Whatsapp yang mereka dirikan dengan landasan kebencian. Semua ranah bisa mereka jamah untuk ajang berbenci rianya. Mulai dari komunitas, hobi, pekerjaan, arena senang-senang, kesenian, politik, hingga keagamaan. Yang disebut tiga terakhir, belakangan mendapat porsi perhatian yang cukup lebih dari gerombolan ngaco ini.

Memang, pada akhirnya pembenci akan bergabung lagi dengan pembenci. Lalu pecinta akan selalu berada di ruang lingkup yang banyak orang-orang penyayangnya. Dan, para jumawa akan tetap konsisten untuk berada di lingkaran kesombongannya. Lalu, bagaimana dengan gerombolan pendengki populas tisu mudah terbakar ini? Sudah pasti mereka akan selalu mencari pembenaran di dalam setiap kesalahannya.