Gerak Gerik Cepat Indie 2 Dekade Terakhir (Part 2)

2010 – 2020 penuh dengan macam-macam asupan musik bergizi dari mereka yang sebagian besar lahir di era 80 dan 90-an. Bukan yang besar di era 80 dan 90-an, ya. Pola aransemen yang tangkas, dibalut dengan lirik lugas membuai, menjadi formula mutakhir para pelaku muda berbahaya ini. Dan Nusantara pada dekade tersebut pun penuh dengan warna warni notasi cerkas pun bergelora.

Barasuara, Feast, FSTVLST, Stars & Rabbit, Sigmun, Polkawars, Tuan Tigabelas menjadi corong depan musik lokal yang enak dan bermanfaat, di mana setiap suaranya berkelana di lorong-lorong kepala dan pikiran generasi muda. Lagu-lagunya menginspirasi generasi ini untuk menjadi manusia yang lebih baik serta peduli terhadap kondisi sosial, melalui tulisan dan guratan liriknya. Sementara teman-teman lain yang gemar meluluhlantakan lantai bar, klab, festival, juga gedung kesenian, semacam Kelompok Penerbang Roket, Heals, The Panturas, Mardial, dan Ramen Gvrl, lumayan mengandalkan macam-macam rumusan notasi istimewa sebagai ramuan mereka dalam berkomunikasi dengan para pendengarnya.

Yang tidak terdengar pun cukup banyak, dan tersebar di macam-macam ranting pelosok Indonesia. Mereka berusaha setengah mati untuk melanjutkan kolektifannya agar tetap terdengar dan dapat bersuara, namun terkadang opini dari orang-orang biasa yang sudah melihat dari apa yang telah mereka kerjakan dengan usaha super militan tersebut, acap kali tidak menuai hasil yang sesuai.  Alias lebih besar pasak daripada tiang. Mungkin kalau tujuannya untuk mengejakulasi acap kemampuan berkesenian mereka, hal tersebut agak dapat dimaklumi, namun andai  alasannya adalah demi pengakuan karya seni serta kebutuhan eksistensi, kami memutuskan untuk mundur teratur dari pembahasan ini.

Menjalani kesenian indie dengan apa adanya terkadang menjadi sebuah pukulan balik yang telak di mana realitanya terkadang suka jauh dari impian. Sementara untuk melanjutkan prinsip adab ada apanya pun kerap kali bersinggungan dengan kompetisi pergaulan, yang mana hal tersebut belakangan ini cukup memegang peranan penting dalam laku tidaknya sebuah grup lokal di dalam hal urusan perpanggungan. Memang materi karya lagu harusnya tetap menjadi prioritas yang utama, namun skalanya sekarang ada di posisi yang sama dengan ‘sejauh mana Anda bergaul’.

Jangan lupakan juga bombarditas koplo yang sedang marak belakangan ini. Di mana muncul trio, duo, kwartet koplo yang melakukan campursari musik indie, dan ternyata hasilnya cukup mengejutkan. Remix jenis ini masuk di kuping anak muda, dan mendapat pengakuan besar di festival-festival ternama akhir zaman. Sementara itu dari sudut Nusantara lain muncul juga tawaran-tawaran musik keren nan imajinatif seperti Heals dan Sir Lommar John, yang jelas menilik pasar satu frekuensi, dengan resiko vice versa: menawarkan 10, penerimaan 10. Artikan sendiri saja, ya, saya malas mengurai dan menyederhanakan definisi tersebut.