Gerak Gerik Cepat Indie Dalam 2 Dekade Terakhir – Part 1

Berawal dari angkatan 90-an yang terlalu percaya diri akan kapabilitasnya sebagai pionir. Padahal sebagian yang berada di rumpun seleb generasi tersebut cahayanya telah memudar, dan tidak begitu pintar meninggalkan jejak yang pasti terhadap generasi selanjutnya.

Hanya beberapa gelintir akar saja yang mampu tetap tegak berdiri dan menjadi pelita para penerus. Selebihnya sudah menjadi buncah-buncah yang terpecah di serba serbi komunitas kecil, dan tetap terus berjuang demi mendapatkan rekomendasi, bahwa apa yang telah mereka jalankan adalah benar adanya. Tidak ada salahnya juga sih, jika para musisi bawah tanah sebawah-bawahnya ini melanjutkan gerilya mereka, karena toh tidak ada yang dirugikan ini. Dan itu semua adalah pilihan, di mana ada yang senang berkomunitas secara skala kecil, dan memang ada yang dari awal grupnya direncanakan untuk tampil di panggung-panggung besar.

Ini hanya merupakan pengamatan dari seseorang yang sudah terjerumus di dalam gemerlap indie selama 3 dekade. Gemerlap juga ngga gemerlap gemerlap amat, namun ada kalanya skena ini mendapat sorotan lebih, sehingga apa yang mereka sentuh dianggap sebagai akar berarti yang dapat memengaruhi krisis identitas bermusik tanah air. Hal tersebut terjadi secara pararel dan terintegrasi di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, Makassar, serta Jogja.

Awal 2000-an adalah peluh yang berbuah. Di mana nama-nama berpengaruh mulai menancapkan kukunya di pemetaan musik bangsa ini. Dari Bandung terdapat beberapa nama seperti Harapan Jaya, Pure Saturday (memang band ini berasal dari zaman 90, tapi gaungnya tetap menyalak di awal 2000) Burgerkill, Jasad, Themilo, Mocca, The S.I.G.I.T, Homicide, Teenage Death Star, Polyester Embassy, Rock N Roll Mafia, Homogenic, Cupumanik, Koil, dan beberapa nama lagi yang saya sendiri sudah lupa, padahal ini pun sudah berusaha mengingatnya secara keras, pelan, keras, hingga lupa lagi.

Dari Jakarta sendiri ada gerombolan IKJ semacam The Upstairs, White Shoes & Couples Company, Goodnight Electric, The Adams, dan lagi-lagi saya lupa beberapa nama, ditambah lingkup di luar lingkungan kampus itu ada yang keras-keras seperti Dead Squad, Tengkorak, lalu campursari Jakarta Bandung, Seringai, hingga hadirnya sang pencerah pop sebangsa Blossom Diary, Santamonica, Efek Rumah Kaca. Sementara dari Bali ada Superman is Dead, kemudian Jogja ada kolektif Jogja Hiphop Foundation, Bangku Taman, serta Shaggy Dog (mereka sempat berada di bawah major label, lalu sekarang produksi sendiri), juga Dubyouth. Nama-nama di atas rupanya menjadi jaminan ingatan tua semi bangka sebagai adigung yang memang selalu diperhitungkan oleh pecandu musik tanah air. Bagaimana dengan yang berada di tengah-tengah? Apakah mereka megap-megap? Bergantung hanya karena kebutuhan pengakuan, dengan selalu berucap iya takala hanya dibayar ucapan terima kasih serta sebungkus nasi buncis plus paha ayam goreng yang diberi garnis emping? Cukupkah itu semua untuk tetap terus mengobarkan semangat independen mereka?