Food Not Bombs, Makanan Adalah Hak Semua Orang

Seseorang masih tersungkur lemas, total sudah masuk hari ketiga dirinya tidak mendapat asupan nutrisi padat yang melewati tenggorokan. Terakhir jumpa pangan, beberapa suap nasi dengan sayur tempe yang rasanya sudah hambar. Kini perutnya mulai berbunyi kencang bak genderam, tubuh pun mulai gemetar, serta keringat mulai banyak mengalir. Katanya makanan adalah hak setiap semua orang? Emang iya?

Mari berkenalan dengan pergerakan Food Not Bombs. Sebuah aktivitas berbagi makanan secara sukarela yang dilandaskan rasa kemanusiaan dan tolong menolong sesama makhluk hidup. Makanan yang dibagikan biasanya olahan sayuran dengan beberapa varian sajian yang dapat khalayak ciduk sekenyangnya tanpa charge seperserpun.

Kemunculan gerakan ini bermula dari kelompok kecil di Amerika yang menentang keras isu kemiskinan dan kelaparan yang terjadi dampak dari peperangan, pergerakannya masifnya berkembang ke Eropa dan lambat laun masuk ke tanah Asia. Aksi Food Not Bombs juga kerap dikaitkan dengan paham Anarki, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama menentang hirarki dan struktur kepemimpinan pada tahap perancanaan dan pelaksanaannya. Artinya, setiap orang dapat berpartisipasi, berkontribusi dan punya hak setara dalam pengambilan keputusan.

Gerakan ini menjunjung tinggi semangat Do It Yourself. Mayoritas bahan dasar Food Not Bombs di dapat dari sayuran normal namun tidak lolos kualifikasi supermarket yang akan dibuang percuma dan dapat diminta secara gratis. Ada pula yang secara swadaya membangun kebun bersama yang hasil panennya dapat diolah.

Selain sebagai aksi kemanusiaan, Food Not Bombs juga punya pesan mendalam yang ditafsirkan sebagai kritik pada kondisi politik dan ekonomi. Pada penyelenggaraannya, gerakan sukarela ini dapat dipandang sebagai aksi yang secara implisit menyampaikan ketidaksetujuan terhadap dominasi global dari koorporasi, kelaparan, perang, kekerasan, dan rasisme. Makanan dalam FnB juga disimbolkan sebagai kebutuhan fundamental setiap manusia yang kekuatannya dapat mempersatukan berbagai unsur serta lapisan pada satu titik kumpul.

Namun istilah Food Not Bombs nampak mulai jarang digunakan. Selama masa COVID-19 contohnya, berbagai aksi mulia berbagai makanan yang dilakukan secara kolektif maupun individu sudah jarang ada yang menggunakan istilah ini sebagai temanya. Mungkin slogan ‘berbagai makanan’ lebih mudah dipahami pun lebih ramah daripada sangar sebutan Food Not Bombs, mungkin ya.