Enny Arrow : Dalang Libido Era Stensil

Pada rak buku kayu berbau tua, buku tipis beraksen ungu gelap semi pudar mencolok mata. Di tengah sampulnya ilustrasi wanita lokal blaster kaukasia dengan payudara besar mencuri mata pembaca. Font putih tegak kapital bertulis Cinta Yang Membara jadi tajuknya sastra erotis tersebut, di atasnya disangkut nama Enny Arrow. Nama misterius yang patut diberi tanda tanya di ujung kata, siapakah dia?

Sastra erotis telah lahir sejak berabad-abad lalu. Penentangan akan sastra-sastra serius, dogma-dogma agama dan penentangan sex adalah hal tabu, hingga melahirkan pikiran-pikiran berontak para penulis kawakan yang jiwa seninya tak terbendung batas. Sejarahnya ada sebelum dunia mencatat Giovanni Boccaccio dengan karya The Decameron di 1350-an. Lebih tua, Kama Sutra tulisan Vatsyayana jadi bukti literatur erotis.

Sementara Eropa memulai lebih dulu, Indonesia menjemput lewat Enny Arrow. Untaian-untaian kata sakral pemandu syahwat menjadi peluru utama penulis misterius tersebut. Kemampuan Enny Arrow dalam menggandrung syahwat pembaca bak mukjizat tiada tanding. Novelnya ludes tiap terbit dan diburu kala terbenam. Sementara identitasnya terjaga tak terumbar. Profilnya samar hingga hari ini. Perselancaran maya pun dilakukan untuk mengetahui siapa sang penggiring libido.

Versi pertama jatuh pada Enny Sukaesih Probowidagdo yang sering kali keluar jadi jawaban terdepan nama asli sang penulis. Lengkapnya, Enny Sukaesih merupakan perempuan kelahiran 1924 asal Hambalang, Bogor. Ia mengawali karir sebagai pewarta sejak era kolonial hingga terjun bebas ke ranah penulis novel. Karangan nya berjudul “Sendja Merah di Pelabuhan Djakarta” melambungkan namanya. Anonimitas pun dipilihnya, Arrow disertakan pada belakang nama menggantikan Sukaesih Probowidagdo.

Hingga akhirnya kecamuk politik Indonesia pecah di 1965. Enny harus beranjak, kelana nya ke Fillipina, Hong Kong dan beberapa negara Asia lain membawa banyak kisah. Lantas tanah Amerika jadi pelabuhan akhirnya pada 1967. Amerika Serikat menjadi guru kreatifnya, karirnya berlanjut pada koran-koran dan tabloid lokal. Enny tidak lupa berkarya, jiwa seni kata nya masih menggebu dengan karya Mirror Mirror jadi buah pikirnya.

Di 1974 Enny kembali ke tanah air. Kemampuan menulis karya sastranya meningkat pesat. Kepopularitasan “Kisah Tante Sonya” melambung pesat mengalahkan, bahkan digadang-gadang karya-karya penulis sekelas Ali Topan, Goenawan Mohamad hingga Leon Agusta.

Karya-karya Enny adalah antitesis dari novel-novel cinta picisan dan tokoh-tokoh pahlawan super fiksi. Diksinya tersohor dan menjadi katarsis nafsu bagi pembaca prianya di medio 80-an. Lewat karya-karyanya seperti Selembut Sutra, Sepanas Bara dan Pergaulan Bebas mukjizatnya terpancar nyata pada setiap kata, kalimat hingga paragraf dalam novel erotisnya. Namanya abadi hingga kini.