Flirting di Digital Dari Dulu Hingga Sekarang

Digital Flirting mulai dilirik ketika MIRC menjadi gejolak baru pengguna internet di tahun 1995. Dia adalah pionir pergerakan percakapan intens melalui digital. Dari situ bermunculan persekutuan media chat seperti the almighty Yahoo Messenger di tahun 1998, lalu Friendster tahun 2003, disusul kemunculan Multiply di akhir 2003, yang sangat digemari kawula muda masa itu, kemudian raksasanya muncul, yakni Facebook yang berdiri tahun 2004, dan menyebar secara worldwide di tahun 2005, lalu The Phenomenon Twitter di tahun 2006, lanjut Nimbuzz pada tahun 2008, diakhiri Whatsapp, Line, Telegram, Tinder, dan beberapa aplikasi lainnya yang kurang begitu hits.

Flirting melalui media digital menjadi fenomena baru selama 17 tahun terakhir. Di mana orang banyak menemukan jodohnya melalui semua aplikasi yang telah disebutkan di atas. Pasangan yang menikah karena bertemu di Friendster jumlahnya jutaan. Begitu juga mereka yang menemukan cinta abadinya akibat MIRC, jumlahnya ratusan ribu pasangan. Dan begitu Yahoo Messenger beroperasi, banyak drama yang terlahir dari sana. Mulai dari skandal kantor, hingga sandiwara pertemanan satu lingkaran. Yang paling dahsyat ketika Facebook merebak pesonanya melalui berbagai keunggulan fitur mereka. Banyak yang merasa diuntungkan berkat kehadiran si raksasa social media ini. Upload foto sendiri, foto keluarga, kongkow-kongkow, pengumuman kepemilikan pasangan, memajang keceriaan anak, pasang kumpul-kumpul foto sepupu, foto pernikahan, pameran wajah-wajah berseri setelah kelahiran, hingga pemberitahuan status perceraian, semua bisa dilakukan hanya dengan jentikan jari dalam waktu yang sangat singkat. Dari sini Facebook sukses membuka lebar mata penduduk dunia, bahwa dunia bisa mereka libas hanya melalui laptop atau ponsel pintar, untuk memberitahukan kepada seisi bumi, perihal hal-hal di atas. Selain itu, dalam hitungan detik juga mereka bisa menampilkan sosok citra yang diinginkan, mau jadi si orang baik, ketus, pemalu, penyendiri, penyuka binatang, si tukang khotbah, si motivator, hingga unjuk diri sebagai sang provokator.

Rayuan cara digital ini berhasil membuat orang menjadi tergila-gila terhadap siapa yang mereka temui melalui deretan aplikasi di atas, bahkan aplikasi-aplikasi tersebut juga dapat membuat orang menjadi gila, akibat terlalu mendalami kehidupan social media mereka, sehingga apapun yang terjadi di sana, mereka anggap realita.

Budaya baru ini pun juga sukses melahirkan pasangan-pasangan bahagia, namun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan kehancuran yang disebabkan oleh fenomena ini. Penggunaan Twitter, Tinder, Instagram, Facebook Messenger, Whatsapp dan Telegram untuk kepentingan flirting, membuat banyak korban yang terjatuh ke jurang, sehingga akhirnya mereka pun terpisah dengan keluarga tercinta.

Semua balik lagi kepada Anda, apakah masih ingin bertualang dengan melanjutkan kisah digital flirting yang bisa diperkirakan akan terus membawa Anda hanyut hingga satu dekade ke depan, atau Anda memilih selamat, dengan meninggalkan semua platform di atas agar Anda terhindar dari malapetaka yang dapat tersungkur ke dalam limbah digital durjana, hingga tidak bisa kembali ke dunia nyata. Jika Anda memilih yang terakhir, masih banyak kok hal baik yang bisa dilakukan di dunia digital. Baca saja portal-portal berita, niscaya akan mengurangi waktu bersosialisasi Anda di dunia maya fana, dan waktu berkualitas Anda pun akan kembali lagi.